~COFFEE AND RAIN~
Rintik hujan membasahi jalanan di kota. Awan mendung bahkan engga menyingkir dari singgasananya. Menggantikan sang surya yang seharusnya muncul dengan indahnya pagi ini. Yah, sampai saat ini hujan masih terus membasahi kota Seoul. Mereka seperti tak merasa lelah jatuh dari ketinggian. Bahkan air yang mengalir pun menyatu dengan irama hujan dan suara angin.
Beruntungnya hari ini adalah hari Minggu tak banyak orang yang keluar rumah untuk beraktivitas, tentu saja karena semua kantor dan sekolah libur. Mereka lebih menikmati bergulung di bawah selimut daripada keluar rumah walaupun hanya untuk sekedar membeli cemilan.
Tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi namja mungil yang kini sedang duduk tenang di halte, ia menunggu bus pagi menjemputnya. Namja mungil dengan kulit putih bersihnya dengan cuaca dingin seperti ini menambah kesan betapa putihnya dia. Namja mungil bermata mungil, bahkan matanya menyerupai jarum jam pukul 10:10. Ia mengenakan celana jeans dan hoodie biru langit bergambar beruang yang dipadupadankan dengam sneakers berwarna hitam. Rambutnya yang hitam legam dengan potongan seperti mangkok sangat membuatnya imut. Sungguh dia benar-benar menggemaskan.
Apa yang dia lakukan hujan-hujan begini? Tentu saja dia harus membuka kedai kopinya. Luar biasa bukan. Mungkin jika kalian melihatnya Ia akan terlihat seperti anak di bawah umur, tapi kalian salah. Namja itu, Hoshi adalah pria dewasa berusia 24 tahun yang memiliki sebuah kedai kopi bergaya eropa yang terlihat elegan di ujung jalan. Kedai kopi yang memiliki nama 'Rain Coffee' adalah kedai kopi yang cukup terkenal di Seoul. Kedai kopi ini memiliki ciri khas nya sendiri dalam rasanya dan penyajiannya. Interior nya yang mengaggumkan menarik banyak pengunjung untuk berlabuh pada kedai ini. Hoshi memulai bisninsnya saat masih duduk di bangku mahasiswa. Saat itu dirinya hanya sekedar iseng belaka, hanya bermodalkan hobinya yang menyukai minuman atau makanan beraroma bahkan berasa kopi membuatnya berani mendirikan kopi ini. Sehari duahari tak satupun pengunjung yang datang. Beruntungnya Hoshi lahir dari keluarga yg cukup berada, jadi dia tak cukup dirugikan kalau kalau kedainya ini tidak bisa berjalan alias bangkrut. Dia bahkan sudah memikirkan bila tidak ada pengunjung dia akan menjual kedainya. Mudahkan? Itulah Hoshi.
Tapi seorang pemuda tinggi datang mengunjungi kedainya. Sepertinya bukan dari Korea, pikir Hoshi. Dia menyambut pemuda itu dengan sangat ramah. Tentu saja pemuda ini adalah pelanggan pertamanya.
"Selamat pagi tuan, apa kau ingin pesan sesuatu?" Sambut Hoshi dengan sumringah.
"Ah, aku ingin secangkir kopi gulanya sedikit saja. Bolehkah?" Balas si pemuda sipit ini.
"Tentu saja boleh tuan. Baiklah, Apa Anda ingin memesan yang lainnya juga?" Tawar Hoshi.
"Ah tidak itu saja."
"Baiklah akan saya buatkan"
Tanpa basa basi, Hoshi segera membuatkan pesanannya. Dia sangat senang karena pemuda itu adalah pembeli pertamanya.
Sementara si pemuda china itu sibuk mengamati seluruh ruangan kedai ini. Menurutnya kedai ini benar-benar hebat, mewah, klasik dan elegan. Benarkah tidak ada satupun pengunjung yang terpikat dengan kedai ini, pikirnya. Pemuda itu lalu memotret segala sisi sudut dan benda unik di sana.
Hoshi sudah selesai membuatkan kopi pesanannya dan mengantarkannya ke pemuda tadi. Dia menaruh kopinya dengan pelan.
"Ini pesananmu tuan."
"Terimakasih."
Hoshi baru akan beranjak namun pemuda ini menahannya.
"Em ngomong-ngomong, apa ini kedai milikmu?"
"Ah nde, ini milik saya tuan. Kedai ini masih baru dan cukup asing bagi orang-orang. Jadi belum ada yang mau berkunjung kemari." Balasnya dengan senyum miris.
"Asing? Menurutku ini keren. Bangunan ini seperti menarikku untuk masuk kedalam. Ku pikir ini adalah museum. Ternyata sebuah cafe. Kau sungguh hebat membangun tempat ini" puji sang pemuda china itu.
"kkkkk, Terimakasih tuan atas pujianmu. Bangunan ini adalah bangunan kuno yang dibeli Ayah beberapa tahun lalu. Karena tak kunjung di pakai, jadi saya mendekor dan merubahnya menjadi cafe. Awalnya saya menyewanya, tapi beliau dengan senang hati memberikannya."
"Ayahmu sungguh baik, dan kau adalah orang yang hebat memanfaatkan peluang bisnis ini."
"Saya belum bisa sehebat orang yang sukses dengan bisnisnya. Saya bahkan hampir menyerah dengan ini semua. Tak banyak orang yang tertarik dengan kedai ini. Karena kedai ini terlihat kuno. Kedai ini belum bisa menandingi coffeeshop megah di ujung sana" jelas Hoshi menatap keluar jendela dan menatap coffeshop mewah di seberang jalan kedai miliknya.
Dapat terlihat jelas perbedaannya. CoffeShop 'Puppy Coffee' penuh dengan pengunjung setiap harinya.
"Hm, menurutku kedai kopi mu lebih hebat. Kau memanfaatkan nilai sejarah disini." Ujarnya sembari menyesap kopi hangatnya.
"Dan mungkin kau harus mengembangkan kopi cirikhas mu ini." Lanjutnya sembari mengangkat segelas kopinya.
Membuat Hoshi mengernyit bingung. Apakah kopinya tidak enak. Apakah mungkin ini alasan kedainya selalu sepi pengunjung? Pikiran-pikiran negatifnya mulai bermunculan dan berspekulasi tentang hal ini.
"Emm maksud tuan?" Hoshi sedikit ragu untuk bertanya.
"Kopi mu biasanya tp rasanya sungguh enak. Mungkin membuatku ketagihan. Kau menciptakan Kopi untuk musim dingin? Ada sensasi mint di dalamnya, beraroma seperti bunga namun berasa seperti gingseng. Sungguh kopi ini enak sekali. aku menyukainya. Apa kau meraciknya sendiri?"
"I...iya saya yang meraciknya tuan. Apakah sungguh enak?" Tanya hoshi masih ragu namun sedikit bangga dengan pujian itu.
To Be Continued...
Kritik dan Sarannya membantu banget buat aku ngelanjutin ff ini.
Sebenernya tadi iseng mau buat ff. Niatnya mau Short Fiction aja. Tp pas ngetik2 terus sambil bayangin adegannya eh malah jadi kepanjangan. Jadi ya otomati ngelanjut deh jadi ber chapter 😁😁
Semoga suka.. terimkasih 🤗
YOU ARE READING
Coffee And Rain
FanfictionKisah cinta dua makhluk dengan kopi(?) ATTENTION🚫 ⚠️YAOI AREA. ⚠️ Mingyu x Soonyoung #GyuSoon #MinSoon
