Cinta Pertama

4 0 0
                                        

Langkah Rana teramat lesu sore ini. Pagi sampai siang jadwal kuliah padat. Sore masih harus balik lagi untuk kuliah. Mata kuliah di jam akhir, dosennya pun killer. Rasa kantuk tak dapat ditahan lagi.
Angin berhembus kencang merontokkan gugusan bunga berkelopak merah muda. Mata Rana terbelalak, dipercepat langkah kakinya. Seolah energinya telah terisi lagi, langkahnya ringan. Dia simpan memori wangi yang terhembus ini.
"Aku sedang menikmati kamu, Bang. Entah siapa namamu. Yang kutahu hanya sorot matamu. Ada kedamaian yang andai kuberada disampingmu".
Teman teman Rana sudah menunggu di lobi. Dea, Lukito, Cahyo dan Ambar terlihat sangat mengantuk. Sosok Rana menyembul dari balik tubuh Pria bersepatu merah itu.
"Sampai jumpa lain waktu, Bang." Bisik Rana.
Lukito segera menarik tangan Rana. Mereka akhirnya bergabung ngobrol.
"Tumben cerah ceria", celetuk Ambar.
"Habis syuting drama Korea." Canda Rana.
"Efek laper plus ngantuk ya gini." Celetuk Lukito.
Mereka berlima mengikuti perkuliahan dengan tertib sampai jam berakhir. Seperti biasa, Rana akan membuat catatan kecil yang akan dibaca ulang selama perjalanan. Cahyo menawarkan diri mengantar Rana pulang karena mereka searah. Tapi ajakan itu ditolak, seperti biasanya. Lukito akan menemani Rana di halte depan gerbang depan universitas.
Seketika hujan turun, Rana dan Lukito berlari berlomba dengan rintik hujan. Rana terlihat sebel.
"Kamu ndak suka hujan toh?", Celetuk Lukito.
"Hujan itu indah. Pelebur rindu. Aku tidak suka basah.", Jawab Rana.
"Kamu itu Ran, ngomong aja kayak puisi. Mbok ya bantu temanmu ini ngerayu cewek".
"Cinta itu indah, jika saling menerima. Romantika klasik". Balas Rana.
"Wes toh Ran, aku marai mumet." Canda Lukito.
Hujan semakin lebat. Angin pun ikut berhembus kencang. Lukito tertawa kencang melihat baju Rana basah. Wajah Rana merengut. Tangannya berusaha mengusap air hujan di wajahnya. Cukup lama juga mereka menunggu bus yang lewat. Mereka menggigil kedinginan.
Rana terperanjat melihat lelaki yang datang itu. Pria yang sama. Si sepatu merah. Ada rona merah di wajah Rana. Ada degup kegembiraan sore itu. Lukito menangkap perubahan sikap Rana. Seketika itu Rana mencoba meminimalisir kebahagiaannya. Mengatur kembali degupan jantungnya. Sebuah mobil hitam terparkir di depan halte. Seorang pria membawa payung besar.
"Kenapa ada yang merusak kebahagiaanku", celetuk Rana.
Pria itu mendekati Rana. Membuka jaketnya, dipakaikannya kepada Rana.
"Ayo pulang." , Pria itu menarik perlahan tangan Rana. Menyeka wajah Rana yang basah.

Hujan, titip rindu untuk Sepatu Merahku. Semoga waktu merestui pertemuan kami lagi. Di waktu yang tepat.



Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Nov 09, 2019 ⏰

¡Añade esta historia a tu Biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Sejauh Mana Engkau Akan BerlariHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora