Menjelang maghrib, aku duduk termangu dalam kesendirian. Menatap kosong halaman di hadapan. Halaman belakang rumah. Entah apa yang aku pikirkan, tiba tiba tetes air mata membasahi pipiku. Saat itu, benak ku hanya satu, “apakah aku akan mendapatkan teman yang benar benar tulus menyayangi ku?”
****
Hari itu sunyi dan hampa. Aku hanya tinggal berlima di rumah bersama bundaku, ayahku dan kedua adikku, Akim dan Zafir. Namun, karena bunda dan ayah ku pulang sore atau bahkan malam, orang tua ku membayar seorang pengasuh paruh baya untuk menemani kami di rumah.
****
Sepulang sekolah, aku langsung menuju ke kamar untuk mengganti pakaian. Setelah itu, aku pergi ke halaman belakang rumah yang biasa ku datangi sepulang sekolah. Yaa,, karna di rumah aku tidak memiliki teman bermain. Kalau ada pun, kami bakal jarang bermain, karena aku beranggapan bahwa semua teman sama saja. Sama sama munafik
Lanjut next chapter 😉
ESTÁS LEYENDO
Aku Bukan INDIGO
Aventurajangan pernah mengatakan IYA pada MAKHLUK GHAIB atau itu akan berujung KEMAKSIATAN
