Aldenea, hari ke-2 bulan 8 tahun 2046
Seperti biasanya, aku duduk di bangku yang berseberangan dengan Maruka Station's gate. Dibawah pohon yang bunganya selalu mekar, indahnya memantulkan cahaya matahari yang tidak menyilaukan mata. Ia telah melindungi ribuan manusia dari tipisnya oksigen yang ada di kota kami, Marukawa. 122 tahun tepatnya, sejak seseorang menanamnya dengan sebuah ramalan kehancuran manusia tanpanya. Namun manusia tak pernah percaya akan ramalan itu, dan selalu bersenang-senang dibawah keindahan pohon tersebut. Hingga 10 tahun yang lalu, datanglah sebuah bencana yang menghancurkan segalanya. Ratusan ribu manusia menghilang dan mati oleh bencana itu. Melihat pohon yang tersisa diantara puing-puing bangunan yang telah rata, menumbuhkan kepercayaan kepada manusia di muka aldenea ini setelah seabad mengabaikan ramalannya.
"Kazune-kun!"
Aku tersentak dan berbalik ke arah datangnya suara.
"Ah, Keiko."
Tampak sosok gadis cantik yang berlarian kecil menuju ke arahku. Ia melambaikan tangannya pelan.
"Hmm, melihat bunga ini lagi?"
Dengan senyuman tipis yang manis, rautnya menunjukkan sebuah keceriaan seperti biasanya. Tangannya menunjuk ke arah mekarnya bunga diatas pohon.
"Itsumademo, tentu saja aku akan selalu melihat bunga ini selagi aku mampu untuk melihatnya saat pulang sekolah."
Sebuah pernyataan simple, yang aku tujukan kepadanya. Ia adalah sahabat sejak kecilku, Kusafuki Keiko.
"Nee, kenapa bunga ini begitu indah ya? Bahkan hanazakura pun tak mampu menyaingi keindahan bunga ini, bukankah begitu?"
Ia menoleh kearahku, menunjukkan wajah heran.
"Aku juga tidak tahu pastinya, tapi aku sangat bersyukur karena ada orang yang dapat menanam pohon ini."
Aku berdiri serta membersihkan pakaianku dari lembaran kelopak bunga yang berguguran, yang bersinggah diatas seragam sekolahku ini.
Ya, ini adalah pohon yang biasa disebut sebagai Kanamidori, sejenis hanazakura yang berwarna hijau-biru terang. Wajahku menerawang ke atas, menikmati kesejukan yang tersortir rapi diantara warna-warnanya.
Dug-dug...
Tiba-tiba jantungku berdegup sangat kencang. Mataku yang sedari tadi memperhatikan keindahan bunga itu pun mulai sayu meninggalkan warna yang mulai memburam. Tubuhku lemas dan terjatuh. Aku menutup mataku sekilas, lalu membukanya kembali. Detak jantungku mulai kembali normal.
"Kazune!?"
Sebelumnya aku tak pernah menyangka hal ini selalu terjadi kepadaku.
"Aku tak mengapa kok!"
Sambil berdiri aku meyakinkannya untuk meninggalkan kekhawatirannya terhadapku.
"Sungguh?"
"Iya, tenang saja. Ini sudah biasa."
"Apa engkau tidak memeriksakan keadaanmu?"
"Untuk apa?"
Wajahnya memburam. Tentu saja ia sangat khawatir. Entah apa yang telah kukatakan kepadanya, pastinya ia sudah tahu betul bahwa aku berbohong. Namun sudah terlanjur kuletakkan semua ini bersamanya.
"Huh, aku bilang tenanglah!"
Aku memisahkan tanganku yang menggenggam ini dari dadaku. Kuuraikan wajah kesakitanku dan mencoba mengubahnya menjadi senyuman, walau itu terlihat memaksa.
"Kau memaksakan dirimu!"
"Oh sungguh?"
Aku menyeringai.
"Hei Kazune! Cobalah untuk memperhatikan keadaan.."
"Apa aku kurang jelas?"
Memotong perkataannya, kuangkat kedua tanganku, mendekatinya dan meletakkan keduanya di atas bahunya.
"Aku tak mengapa, Ke-i-ko!"
Aku tersenyum. Jantungku yang berdegup keras mulai mereda. Pandanganku yang hitam-putih lalu kini mulai menampilkan warna indahnya, warna nan indah dari raut wajah yang tak sadar kini berdekatan dengan wajahku.
"A-ah! Ma-maaf!"
Aku melepaskan peganganku.
Kini aku sadar. Sepertinya tubuhku telah melalui masa auto-pilotnya dalam bertindak dengan sendirinya. Sesaat kembali dalam kendaliku, yang aku dapatkan adalah sesuatu yang sangat mendebarkan jantungku, namun debaran halus ini tak seperti degupan yang pertama. Entah mengapa aku menyukainya.
"Kau ini, terbiasa berbohong untuk kebaikan orang lain ya, Kazune-kun?"
Kali ini aku mundur dua langkah sehabis menerima gertakan tersebut. Aku sudah terbiasa –dan tentunya masih takut untuk mendapat hardikan selanjutnya. Sungguh, aku terakhir kali melihat dia marah sekitar 6 bulan yang lalu, tapi aku tidak mengingat apapun saat itu terjadi.
"Huh, sudahlah!"
Ia melipat tangannya di dada.
"Aku akan memaafkanmu, tapi traktir aku!"
"H-hey! Bukankah seharusnya tid..."
"Sssst, aku tak mau menerima alasan apapun. Oke!"
Ia mengisaratkan telunjuknya tepat di depan mulutku. Wajahnya menyeringai, cantik mempesona. Sambil tersenyum, ia menarik kembali tangannya dan berpaling dua langkah menjauhi diriku.
Saat itu aku melihat sosoknya yang diterpa angin lembut dari arah barat. Tepat didepannya adalah pohon yang senantiasa aku pandangi sebelumnya. Perpaduan sempurna antara seragam sekolah kami yang dikenakannya dengan bunga pohon yang berjatuhan melambai. Kontras dengan warna putih yang seakan ditaburi oleh gemerlap serpihan bunga kazamidori yang berwarna biru-ungu. Juga sebagian bunga sakura yang dihempaskan dari taman pohon yang mengelilingi pohon bunga kazamidori.
"Hei!"
Ia memiringkan wajahnya.
"Apakah kita pernah melihat ini sebelumnya?"
Ia bertanya, akan tetapi tidak dengan senyuman indahnya yang sempat ia tebarkan sebelumnya. Lalu ia berbalik memandangi bunga-bunga yang sudah terjatuh di tanah.
"Aku pernah bermimpi bahwa kita bertemu di sini, melihat bunga yang gugur ini di tanah. Ia layu dan perlahan mati. Warnanya yang ungu kecerahan berubah menjadi coklat-hitam."
Aku tercengang, ia mengatakannya hampir tanpa jeda. Mimpi yang ia ceritakan itu, itulah yang mengusikku selama ini. Aku menjadi terbiasa duduk di bawah pohon ini hanya untuk merenungi apa yang aku mimpikan. Jantungku juga terkadang sakit saat aku memikirkannya lebih jauh. Tapi, ia juga bermimpi sepertiku? Ini aneh. Dalam mimpiku aku tidak dapat memastikan bahwa aku bersamanya. Aku memang benar merasakan seseorang di dalam mimpiku, tapi aku tak mampu mengingat siapa ia. Semakin aku mengingatnya, semakin sakit yang kurasakan.
Ah tidak, dia tidak mungkin mengetahui bahwa aku bermimpi seperti ini. Apalah diriku ini bisa berfikiran aneh-aneh? Tidak mungkin bagi seseorang untuk membaca pikiran apalagi mimpi orang lain kan? Selagi aku bergumam dengan diriku, ia mulai membuka mulutnya yang kecil itu.
"Nee, aku hanya ingin memastikan..."
Ia terdiam sesaat, jantungku mulai berdenyut kencang. Pikiranku mulai keruh, dadaku dipenuhi dengan bermacam dugaan yang tiba-tiba mendesak diriku. Lalu dalam jeda itu ia mulai berkata lagi, sebuah kalimat yang akan mengakhiri ini.
"Apakah kau pernah bermimpi hal seperti ini?"
***
YOU ARE READING
Celiscate
FantasyInsiden yang biasa disebut dengan "Dark Wall" telah merenggut nyawa jutaan umat manusia di Aldenea. Bencana ini disebabkan oleh kemarahan alam yang dipicu oleh rusaknya pohon Kazamidori, pohon dunia yang telah lama bernaung di Aldenea yang telah dit...
