#Cerpen.
"Nape? Lu sakit, Shell?" tanya temanku yang bernama Indah. Tapi, aku sering manggil dia dengan sebutan pendek.
"Entahlah. Gue gak tau," ucapku lemas.
Hari ini, aku apes banget. Tadi pagi, aku buru-buru berangkat sekolah Sehingga aku hanya membawa bekal tanpa membawa uang jajan di kantongku.
Setelah jam pertama dan kedua. Kami istirahat sekitar 30 menit. Aku yang menyadari lupa bawa uang jajan cuma bisa murung sambil memukul kepalaku, lalu berkata 'tolol!'.
"Shell, jajan yuk! Gue laper, nih," ucap Indah sembari berdiri dari bangkunya.
"Gak! Gue lupa bawa uang jajan," lirihku lesu.
"Ehh ... pake uang aku aja, mumpung nih, aku lagi baik, jadi gak perlu sungkan gitu." Risna temanku yang satunya lagi menimpali.
"Gak, ah. Gue gak biasa ngutang, nanti malam gue kepikiran, lagi." Kepalaku mulai pusing saat itu.
"Beneran nih, gak mau? Nanti nyesel loh." Risna berlagak songong. Mencibir bibirnya ke kanan sembari melipat kedua tangannya di dada. Sedangkan Indah? Ia hanya mengangguk saja tanpa bersuara.
"Sella selalu benar." Aku selalu memegang kepalaku dan sedikit memijatnya.
Indah dan Risna berlalu dari pandangan. Tinggalah aku sendiri di ruangan besar yang di penuhi dengan bangku dan meja belajar.
Karena aku duduk di sudut kanan paling bekang. Aku teringat waktu kecil aku pernah menonton film horror yang berjudul 'Bangku Kosong'. Seketika bulu kudukku berdiri. Aku bergidik sembari membayangkan film itu kembali.
Memori ku yang lelet ini kembali mengingatkanku dengan film itu. Dimana waktu itu hantunya sangat seram. Film itu sangat menakutkan, sehingga wajahku memerah karena takut dan siap siaga.
Hati kecilku berkata, "Jangan takut! Allah selalu melindungimu." Aku berusaha tenang dan memaki teman-temanku di dalam hati yang sangat lamban itu.
15 menit berikutnya, mereka datang dengan membawa makanan yang sederhana. Tetapi, lezat.
"Shell ... lu mau?" tanya Risna yang songong itu.
"Gue kagak ada nafsu buat makan," jawabku sembari meletakkan kepalaku di atas meja yang berbantalkan kedua tanganku.
"Ya udah." Ia makan dengan lahap sembari memonyongkan mulutnya kearahku. Bertujuan agar aku tergiur dengan makanannya itu.
"Heh ... tuh mulut jangan di monyongin, kayak Buaya aja!" umpatku.
"Serah Gue, mulut-mulut Gue, kok." Dalam pertengkaran itu, datanglah Indah yang pendek dan cerewet.
"Stop ... stop! Kenapa kalian bertengkar? Ck, ck, ck! Dari pada kalian bertengkar karena makanan, sebaiknya kalian bertengkar karena ingin mendapatkan ku saja." Ia berlagak sombong dengan tubuh mungilnya. Berlagak sok preman karena mulut pedasnya. Risna dan aku hanya dapat menggelengkan kepala.
"Udah ceramahnya? Kalau belum kenapa gak di lanjutin aja, Mbak?" Risna sang pencibir itu kembali tersenyum jail.
"Apahh? Kalian mengataiku sedang ceramah? Kalian memanggilku dengan sebutan, Mbak? Roma ... kenapa kau setega itu kepadaku, Roma ... hiks, hiks, hiks." Drama Queen mulai terjadi.
Walaupun aku sedikit kesal dengan tingkah kekanakkan mereka, setidaknya mereka selalu ada di saat aku butuh. Mereka selalu ada di saat aku sakit. Nice!
"Sudahlah ... hentikan omong kosong ini! Jika terus bertengkar, kapan kalian akan makan jajanan kalian itu," tegurku melerai.
Mereka mengangguk kepadaku. Karena aku membawa bekal nasi goreng buatanku. Aku membukanya dan langsung menyantapnya. Karena keasikkan makan, aku sampai lupa bahwa Indah dan Risna menatapku dengan tatapan meminta. 'Ini giliranku membalaskan dendam'.
YOU ARE READING
Kumpulan Cerpen dan Cemin All Gendre.
HumorJangan lupa baca dan bintangnya, ya. Dan sukai ceritanya. Di jamin, seru!
