Huft! Kelam.Rintik-rintik air suci mulai jatuh ke permukaan bumi.Angin bertiup semilir.Riuh-riuh klakson kendaraan terdengar dipersimpangan jalan.Para penjual koran beralu dengan tetesan keringat perjuangan.Kota kelahiranku pun terguyur oleh derasnya hujan.Banyak sampah menyumbat aliran air.Seperti itulah,rasa peduli yang kurang.Padahal tuhan telah memberikan lebih dari kata cukup untuk manusia.Oh Tuhan,maafkan hambamu ini yang lalai.Lalai terhadap ajaranmu.
"Pak Ahmad!" aku berjalan menghampiri Pak Ahmad yang tetap t idak beranjak."Pak,boleh antarkan saya ke kampus"
"Shadaqallahu al'adzim " tidak begitu jelas,tetapi membuat jiwaku tenang."Maaf non mila, ada apa non? Maaf, saya tidak mendengarkan non tadi"
"Tidak apa-apa,pak.Tolong antarkan saya ,pak."
"Baik non"jawab Pak Ahmad segera mempersilahkanku masuk kedalam mobil.
Hujan juga belum reda sedari tadi.Dari kejauhan,mulai terlihat
bangunan berdiri kokoh walau sedikit buram akibat kaca mobil yang berembun.Banyak yang beribadah ditempat itu.Islam? Indahkah? Kuharap.Dua puluh tahun sudah menjalani kehidupanku atas nama Tuhan.
Pak Ahmad melaju kendaraaan lebih cepat dari biasanya.Hatiku gelisah.Arah pandangan pria paruh baya itu lurus kedepan.Berkali-kali aku mengingatkan agar berhati-hati.Tetapi semua itu sia-sia.Seperti ada pikiran lain yang mengganggunya.Enah,apalah pikiran itu.Silau.Sesuatu melaju kencang kearahku.Kendaraan berbobot besar.Jiwaku semakin gelisah.Riuh-riuh beberapa orang berteriak ketakutan.
BRAK! Pandanganku tak terarah.Kepalaku berdenyut.Kedua bola mataku pun mulai terpejam.Gelap.Aku tak sadarkan diri.Apa yang terjadi? Akankah malaikat maut sedang mendampingiku? Akankah ini menjadi yang terakhir kalinya aku melihat semesta? Apakah maut akan menjemputku? Tolong,berikan aku kesempatan untuk hidup.
¨¨¨
Para staf dengan seragam putih berlarian membawa korban yang baru saja kecelakaan siang tadi menuju ruang operasi.Korban itu terbaling lemah.Tubuhnya dipenuhi oleh lumuran darah.Garis nadinya melemah.
"One!"
"Two!"
"Three!"
Suasana operasi menjadi tegang.Dalam batin remaja itu, ia berharap agar tuhan memberikan untuknya kesempatan hidup.Frekuensi nadinya semakin melemah.Percobaan terakhir alat pacu jantung sebagai harapan terakhir baginya untuk hidup.Alat monitor hemodinamik menapilkan garis frekuensi stabil.Tuhan telah memberikan kebahagiaan.Tetapi,dibalik itu akan ada kepedihan yang akan dibebankan padanya.Kepada remaja perempuan sekitar tujuh belas tahun yang sekarang terkulai lemas diruang operasi.
Tampak sosok pasangan itu menunggu buah hatinya menjalankan pertarungan melawan maut.Buliran tetesan air mata mengalir begitu saja tanpa mereka sadari.Tanpa mereka percayai.Tetesan yang sekaligus sebagai penyesalan.Penyesalan karna jauh dari dalam lubuk hati kedua pasangan itu,mereka merasa belum menjadi sosok yang baik untuk seorang buah cinta,buah cinta pernikahan kedua kekasih itu.
Kini,mereka hanya dapat berharap agar tuhan memberikan kesempatan pada kedua pasangan itu.Kesempatan untuk menjadi sosok arti orangtua sebenarnya.Operasi selesai.Dokter pun keluar.Entahlah,kabar bahagia atau kabar buruk yang akan disampaikan pada wali korban.
"Apa anda orangtua dari korban yang bernama Karin Adriana Putri?"tanya dokter itu usai operasi.
"Ya,saya orangtua dari korban bernama Karin.Bagaimana putri saya,dok?Apa anak saya selamat,dok?"Tanya dina,ibu dari Karin.Wajahnya sembam.Kedua bola matanya penuh harap.
"Anak perempuan ibu selamat akan tetapi......"
"Anak saya kenapa dok?!"
"Anak ibu akan mengalami koma yang cukup lama.Karna peraliran darah yang tidak stabil,bu"jelas dokter itu.
""Argghhhhh!Itu gak mungkin,dok!Gak mungkin!"
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,bu.Setelah ini,anak ibu akan kami pindahkan keruang rawat inap untuk menjalankan perawatannya."ucap dokter itu.
"Terimakasih dok"jawab Bu Dina.
"Saya permisi,bu.."
Remaja itu telah dipindahkan keruang inap.Wajahnya pucat.Akan tetapi,tampilannya tetap menawan bagai bak putri salju yang tertidur panjang.Tuhan telah menyelamatkan hidupnya.Tetapi jauh disana,terdengar isak tangis menggema.Pak Ahmad.Pria paruh baya itu tak dapat diselamatkan,ia lebih dulu pergi.Kabar itu menjadi awal yang buruk bagi keluarga pak ahmad.Kedua anak laki-lakinya terbendung oleh kesedihan yang pahit,begitu juga dengan istrinya.Tak ada yang dapat melawan takdir.Takdir yang telah ditentukan oleh pemilik alam semesta.
Sosok pasangan itu diam.Tak dapat melakukan apa pun.Rasa bersalah memenuhi batin mereka.Diam terpaku melihat keluarga kecil itu berduka.Berduka atas kehilangan sesuatu yang berperan penting dalam kehidupan keluarga itu yang tak lain adalah pak ahmad.
"Hey!Mengapa kau diam saja?!Kau tidak merasa bersalah atas ini,tuan besar?"
"S-s-saya...m-minta.."
"Ck!Kau tidak merasa bersalah tuan?!Kau telah banyak mancaci maki suamiku!"wanita berkerudung syar'i itu terus mengancam kedua pasangan yang diam terpaku.Pasangan bernama Pak Brata dan Bu Dina.
"Bu,sudahlah Allah telah memanggil bapak,ini bukan kesalahan mereka.Tolong terima ini dengan lapang dada,bu."ucap Wildan,putra pertama Pak Ahmad.
"Pergi kalian pembunuh!Pergi!Saya tidak ingin melihat wajah kalian!Pergiiii!"belum sempat Pak Brata berbicara,istri pak ahmad mengusir mereka dari ruangan itu.Pasangan itu keluar dengan dihantui penuh rasa bersalah.Entah kapan,mereka dapat menebusnya.
¨¨¨
YOU ARE READING
LIFE
RandomSeandainya,aku dapat merasakan kasih sayang... Aku berharap tuhan mengabulkan permintaanku... Kapan itu akan terkabul? Hingga,tak kusangka Ia pun datang...
