Suara ketukan pintu tanpa henti membangunkan secara paksa Cha Junho dari tidur lelapnya. Masih menggunakan baju yang dipakainya kemarin, ia bangun dari ranjang dan melangkah perlahan seraya memijat pelipis –kepalanya berdenyut nyeri.
"Tunggu sebentar." Suara dalam dan serak khas bangun tidur ia keluarkan untuk menjawab seseorang yang tidak sabar mengetuk pintu unitnya.
"Dengan Cha Junho-ssi?" Seorang tukang pengantar paket bertanya setelah pintu yang diketuknya terbuka, mengabaikan bagaimana penampilan lusuh dan berantakannya pemuda itu.
"Ya."
"Ada kiriman paket untuk Anda. Silakan tanda tangani disini."
Pengantar paket itu menyodorkan dokumen yang harus ditandatangani. Junho mengambilnya dan menorehkan tinta diatas bukti itu, kemudian menyerahkannya kembali untuk ditukarkan dengan paket atau surat yang sudah bisa ditebak dari siapa.
"Silakan. Terima kasih."
Pengantar paket itu kemudian memberikan sebuah boks kecil berbentuk kubus kepada Junho untuk diterima, lantas tersenyum saat mengatakan terima kasih.
Junho menutup pintu kala tukang paket itu telah pergi, berbalik dan berjalan masuk ke ruang tamu di dalam unit kecilnya. Ia melempar paket itu ke sofa dan mulai menjalankan aktifitas robotnya.
Mandi, makan, membersihkan rumah dan mengerjakan pekerjaan kantor yang dibawanya kerumah. Terkadang sampai lupa akan makan siang dan matahari sudah berganti dengan rembulan.
Tiba-tiba suara notifikasi ponsel membuyarkan konsentrasi Junho dari laptop yang sedari tadi menyala. Di ambilnya ponsel itu dan mengecek siapa yang mengiriminya pesan.
Suami🖤
–Aku merindukanmu...baby–
Kekanakan.
Ia melempar ponselnya entah kemana setelah membaca pesan itu. Kemudian melanjutkan kembali pekerjaan kantornya.
Lima menit berselang, dering panggilan masuk dari ponsel menggema mengusik Junho. Hembusan napas kasar terdengar sebelum ia mengambil ponsel dan menyadari ternyata itu adalah panggilan videocall.
"Apa!"
[Ketus sekali! Kau tak merindukanku, hm?] Suara bass dari seberang telfon membuat Junho mengerutkan wajah tanpa sadar.
[Jangan memasang wajah seperti itu! Kau membuatku jadi ingin cepat pulang!]. Gemas seseorang di seberang yang tampak dari layar ponsel Junho. "Bilangnya ingin cepat pulang tapi tak pulang-pulang. Hyeong pembual!" ejek Junho. Hubungan jarak jauh terpaksa mereka jalani karena pekerjaan sang penelepon.
[Hehe... sebentar lagi aku pulang. Aku serius, tidak bercanda.] rayunya. Mendengar itu Junho memasang wajah datar andalahnya. [Ngomong-ngomong, kau sudah membuka paket yang ku kirim?] suara kembali terdengar dari sebrang –mengalihkan topik pembicaaan.
