Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Bagaimana bisa aku tersesat?"
Gadis itu mendengus sebal. Dia menatap sekelilingnya, hanya ada pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi. Harusnya dia sudah sampai di tempat kemah beberapa jam yang lalu bersama rombongannya namun karena kecerobohannya dia justru tertinggal, sendirian.
Ia mengangkat tangannya yang memegang ponsel tinggi-tinggi sembari menggoyangkannya beberapa kali, berharap mendapat sinyal untuk menghubungi teman-temannya. Dia mendesis jengkel ketika tak kunjung mendapatkan apa yang ia mau. Melihat suasana yang semakin menunjukkan jika malam akan segera datang, gadis itu memutuskan untuk terus berjalan. Dia tidak memperdulikan dirinya yang tergores dan tertusuk tanaman liar. Tujuannya kini hanya satu, mencari desa terdekat dan keluar dari hutan.
"AYO SEMANGAT ANASYA!" pekiknya tanpa memperdulikan sepasang mata berwarna merah tua yang mengawasinya dari balik pohon besar di sisi kanannya.
Waktu di jam tangan yang gadis itu kenakan menunjukkan angka sepuluh. Anasya mulai kelelahan. Dia terduduk di tanah dan menangis. Dia sudah mencapai batasnya. Dia tidak bisa bertahan lagi. "Mama, tolongin Ana...."
Anasya menekuk lututnya dan membenamkan dirinya di sana. Biasanya ia akan sangat memperdulikan kebersihan tempat duduknya namun kali ini dia membiarkan dirinya tersungkur di tanah tanpa alas. Dia menangis sesenggukan. Sendirian, ditemani suara hewan malam dan angin yang berhembus di hutan itu. Suasana semakin mencekam ketika tiba-tiba dia merasa sekelabat bayangan melewatinya.
Ana mendongak dan menjerit ngeri ketika melihat seseorang dengan mata yang merah menyala menatapnya lapar. Tanpa banyak berpikir lagi dia berlari sekuat tenaga. Sayangnya usahanya sia-sia karena orang itu dengan cepat meraih pergelangan tangannya. Akan tetapi hal mengejutkan berikutnya ialah orang itu terpental jauh ke belakang.
"Sial! Apa yang terjadi?" seru orang itu tak percaya.
Ana tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia kembali berlari kencang. Matanya menangkap gubuk tua yang reyot berdiri di sana. Ia dengan cepat segera masuk ke dalam. Namun kali ini dia menemukan hal yang lebih mengejutkan.
Seseorang yang ia kenali tengah jongkok sembari menjilati tangan penuh darah dari gadis lain yang juga dia kenal. Ketika orang itu berbalik menatapnya, tiba-tiba saja dia merasa pusing. Kesadarannya mulai menghilang. Ingatan terakhir yang ia punya hanyalah ketika orang itu mendekatinya dengan mulut dan tangan yang berlumuran darah.
"Seungwoo..." gumamnya dengan suara yang teramat pelan.
----
Seungwoo Braunston Javas
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Anasya Garsyia
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
----
Hallo! Ini ff fantasy pertama aku! Tolong dukung dan sarannya dong. Makasih ♡ 22092019