#1st Story Chapter 1 [Daniel & Shinta]

11 2 2
                                        

Sebuah panggilan video masuk ke handphone Daniel. "Wah gila ni cewek udah diputusin masih aja nelpon-nelpon gaje. Pake video pula."

Menghisap dalam-dalam rokoknya, masih sambil menatap layar handphone, Daniel mencari asbak lalu menjejalkan puntung rokok yang hanya tersisa beberapa centi itu.

Shinta. Gadis ini teramat sangat baik, hingga akhirnya menjadi sangat mudah dibuat menurut. Minta maaf saat tidak salah. Bahkan berterimakasih untuk hal kecil. Ego bukanlah sesuatu yang ia beri makan barang secuilpun. Itu sebelum Shinta belajar, betapa hidup tidak memberinya pilihan jika ia tidak berpikir untuk membuatnya sendiri.

Bukannya buruk. Hanya saja Daniel mulai merasa hidup di sangkar malaikat. "Gua ini ibarat setan. Kepanasan deket-deket malaikat kayak lo. Kita putus aja."

****

Apa tidak pernah ada cinta diantara dua insan ini ? Tentu saja bohong kalau bilang tidak.

Daniel muda saat duduk di kelas 3 SMP, tak ada bedanya selain tubuh yang lebih pendek. Wajah dengan ekspresi keras. Mengambil 'pajak' dari seluruh anggota kelas. Hanya 500 perak memang. Tapi setiap hari.

Kala itu hanya Shinta yang menyodorkan uang 10 ribu rupiah, anehnya sambil tersenyum "Heh, lo ngeremehin gua ?"

"Hari ini aku ulangtahun. Anggap aja traktiran." Kata Shinta, masih dengan senyumnya.

"Lo ikut gua !" Suara itu berubah pelan, dingin, juga misterius... keluar dari mulut Daniel. Berjalan cepat sambil menarik pergelangan tangan Shinta.

"Kita mau kemana?" Tidak ada ekspresi protes atau apapun, hanya murni sebuah pertanyaan.

Dan tidak ada jawaban.

Bukan wajah ketakutan yang ada di wajah Shinta saat Daniel menekan kedua bahunya sampai dia terduduk di kursi kantin. Justru penasaran dan senang. Aneh.. pikir Daniel.

"Lo temenin gua makan."

"Hah? " Mata Shinta membulat.

"Mulai sekarang lo jadi pacar gua. Itu hadiah terindah gak sih buat ultah lo yg menyedihkan ini. Sampe nraktir preman kelas." Kata Daniel tanpa menatap Shinta, mengalihkan pandangan ke Bude kantin. "Buk, bakso dua ya. Es tehnya jangan lupa."

Shinta hanya mengangguk. Kaget, bingung. Tapi tidak takut.

"Pacarku preman." Gumamnya.

"Gua denger, kampret." Kata Daniel, tapi ajaibnya kali ini sambil menahan tawa.

Mereka saling menatap. "woi cewek gila, jangan liat-liat gua mulu." Kata Daniel. Wajahnya biasa saja, tapi telinganya merah.

"Ciye pacaran sama cewek gila." Berbisik dengan volume super kecil.
Hari itu Shinta pikir dia menemukan tempat tak terduga untuk bertahan hidup di dunia ini.

****

To be continue

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 15, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Heartbroken After-EffectStories to obsess over. Discover now