BAB I

13 1 0
                                        


Hening...
Lorong dengan warna putih mewarnai dinding iu tampak lengang. Hanya suara langkah kaki seseorang yang terdengar nyaring disepanjang lorong itu. Orang itupun membuka salah satu pintu yang ada dilorong itu. Penghuni dibalik pintu itu tampak tengah terduduk memandangi jendela kemudian menoleh mendengar suara pintu terbuka disertai dengan senyum lebar namu tampak lemah dari sang pemilik ruangan. Orang yang masuk pun membalas senyum itu dengan senyum tulus namun raut kekhawatiran masih terlihat diwajahnya walaupun hanya sebentar.

"Bagaimana harimu?" Si penghuni ruangan itu menyapa terlebih dahulu.

"Seperti biasa, tidak ada yang berbeda, selalu berhadapan orang-orang dengan sejuta keluhannya, dan yah tentu saja kau harus mendapatkan solusinya bagaimanapun caranya. Melelahkan namun satu sisi harus dinikmati juga" si tamu ruangan tampak terkekeh sebentar kemudian menarik napas panjang lalu menghembuskannya kembali.
"Bagaimana denganmu?"
"Sama sepertimu, tidak ada yang berbeda, selalu berada diatas ranjang ini dengan beberapa selang dilenganku, cukup untuk membuat lenganku patah dua bulan ini. Tapi ada yang baru hari ini, tadi dokter dan suster masuk ke sini dengan menyuntikkan beberapa cairan yang tidak terlalu kuperhatikan warnanya, setelah itu aku sedikit merasakan nyeri pada lenganku tapi hanya sebentar" sang pemilik ruangan terkekeh nyaring namun beda dengan sang pendatang yang tampak sedikit khawatir.

"Apa yang dikatakan dokter? Bagaimana dengan keadaanmu? Maksudku apa ada kemajuan atau..."
"Tenanglah ra, aku masih hidup kok dan lihat aku masih sama dengan keadaan dua bulan yang lalu, masih segar dan masih bisa berbucara, aku bukan orang yang sewaktu-waktu bisa mati begitu saja Rara, jadi tenanglah"
"Tapi tetap saja Luna, apalagi tadi kau bilang dokter dan suster"
"Rara!" Suara Luna sedikit meninggi untuk mencoba menennagkan lawan bicaranya.
"Aku mengerti" Rara bersuara lesuh, tidak ingin terlalu jauh bertanya. Dia tahu sahabatnya itu tidak mau membuatnya khawatir, jadi dia lebih memilih untuk diam dan terus mencoba menyemangati sahabatnya, walaupun sebenarnya Lunalah yang lebih menyemangati Rara.
Luna melihat Rara membawa sebuah kantong belanjaan yang sebelumnya diletakkan oleh Rara.

"Itu apa?" Sambil menunjuk kearah kursi
" ah iya, sewaktu kemari, aku tidak sengaja melewati sebuah toko kecil dan aku melihat sesuatu yang sangat kamu sukai" sambil mengeluarkan benda itu dari bungkusannya.
"Diary!!" Lina berseru girang
" aku tahu kau pasti menyukainya, soalnya aku lihat beberapa hari ini kau tidak menulis diarymu, pikirku mungkin lembaran buku usangmu sebelumnya sudah habis dengan kumpulan cerita dan curhatan ngeyelmu dan.."
"Hentikan itu Rara. Dan berhenti menyebutnya buku usang, itu sangat berharga" Luna sedikit memberenggut dan lan hal denga Rara yang menanggapinya dengan kekehan ringan.

"Iya, iya, bukumu itu adalah aset dan seluruh rahasiamu ada di dalamnya. Bahkan aku pun sahabatmu tidak kau ceritakan." Sambil memberikan buku dengan sampul crem pucat. Luna tampak tersenyum cerah setelah menerima itu dan itu membuat kekhawatiran Rara sedikit menghilang.

"Om dan tante dimana Na? Aku tidak melihatnya saat memasuki rumah sakit tadi"
"Ah iya, mereka sedang mengantar Luke, adik kesayanganku itu hari ini mempunyai acara penting yang harus dihadiri mereka, tentu saja karena rengekan Luke"
"Dia bukanlah bocah berumur jagung yang masih harus merengek untuk meminta sesuatu Na, dia sudah menjadi pria gagah yang diidolakan beberapa wanita diluar sana"
"Itu menurutmu tapi menurutku dia tetaplah bocah dengan segala tingkahnya"

Luna terkekeh kembali sambil meraih laci meja samping ranjangnya mengambil sebuah pulpen berwarna coklat dan menaikkan meja ranjangnya. Rara yang melihat itu tanpa disuruhpun ia lebih memilih menyibukkan diri dengan laptop yang dibawanya sambil tetap mengawasi gerak gerik luna yang mulai memasuki dunianya sendiri sambil menulis dengan sesekali ia besenandung menandakan ia benar-benar terhanyut dengan rahasia yang ia bagi dengan Diary miliknya.

#Dear Reader
Aku kembali dengan mencoba cerita baru yang kebetulan beberapa hari ini ada di otakku, jadi sebelum hilang aku masukin dulu beberapa wkwkwk

Yang nanya tentang love roses, tenang bakal aku lanjutin kok, tapi lagi nunggu beberapa ilham dulu nyangkut di otak

Oh iya jangan lupa beri vote dan komennya yah buat menyemangati dan sarannya juga boleh
Mohon Bantuannya.
Ps. Love u

Dear DiaryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang