Jakarta, Juli 2017
ㅤㅤㅤJakarta, sibuk seperti biasa. Kendaraan berjalan lambat, mengantri untuk mendapat jatah jalan dari kendaraan di depannya. Para pejalan kaki, melenggang santai, menikmati pagi di Kota Megapolitan yang riuh, sesekali suara klakson terdengar, turut memeriahkan suasana. Meski sebenarnya, menyembunyikan kekhawatiran beberapa orang yang berkejaran dengan waktu, akibat padatnya lalu lintas yang ada.
ㅤㅤㅤTungkai terhenti tepat diambang pintu kelas. Asha Hemaprabha, baru saja menikmati kelas baru. Ya, ini hari pertama Asha menjadi siswi kelas XI. Ruang kelas yang berada di lantai dua, jelas lebih menguntungkan dari pada saat berada di kelas X, ia harus menaiki tangga hingga ke lantai tiga.
ㅤㅤㅤNamun sayang, bukan hanya itu yang membuat Asha, kini, mematung di depan pintu kelas. Melainkan, sosok di depan sana, wira yang menggunakan seragam ber-logo sama, sedang menyandarkan punggung di dinding pembatas tak jauh dari tempatnya berdiri. Wira berpredikat 'Most Wanted' karena wajah tampan, senyum manis, dan sikap ramahnya. Asha tau, apa yang sedang laki-laki itu lakukan di sini, mengingat seharusnya ia berada di lantai bawah.
ㅤㅤㅤ"Kak Farrel," Farrel tersenyum setelah memandang ke arah dua orang puan, dengan simbol angka XI di lengan baju bagian kiri yang baru saja menyapanya. Meskipun Farrel sendiri tak mengenal, siapa yang baru saja memanggil nama pemberian Orang tuanya itu.
ㅤㅤㅤKemudian atensi menyapu seluruh lorong yang lumayan lebar, dan terhenti tatkala melihat seseorang yang ia cari, berdiri, dengan tatapan ragu di depan pintu mantan ruang kelasnya. Kedua sudut bibir Farrel kembali membentuk sebuah kurva abstrak, ia tersenyum, membuat bibir tipisnya terlihat makin tipis "Udah siap kelas sebelas?" ia berbasa-basi, berjalan menghampiri setelah sebelumnya menegakkan tubuh dan menenggelamkan satu pergelangan tangan ke saku celana.
ㅤㅤㅤAsha membalas senyuman, tipis. Sedikit informasi saja, upacara akan di mulai beberapa menit lagi, dan ia lupa membawa topi. Gadis itu mengangguk, dengan kedua tangan yang saling meremas ㅡgugup, mungkin "Mau nggak mau, harus siap kan, Kak?"
ㅤㅤㅤHampir seluruh pasang mata anak kelas XI ㅡyang sedang berada di luar kelas, tertuju pada dua anak manusia yang sedang asik berbincang. Ya, nama Asha Hemaprabha tiba-tiba menjadi topik hangat pembicaraan semua orang, sebelum libur kenaikan kelas beberapa bulan yang lalu. Setelah kabar burung tentang seorang Farrel Kalandra yang menyukainya, menyebar entah dari mana asalnya.
ㅤㅤㅤKeduanya menjadi sering bertemu setelah Masa Orientasi Sekolah. Farrel yang saat itu menjadi ketua pentas seni untuk malam inagurasi, dan Asha yang ditunjuk sebagai perwakilan kelas untuk mengikuti rapat akbar. Mau tidak mau menjadikan keduanya sering bertegur sapa. Walau jarang ada pembicaraan mendalam diantara keduanya.
ㅤㅤㅤ"Sha!" Baik Asha maupun Farrel, menilik ke arah sumber suara. Asha hanya perlu sedikit mengubah fokus ke belakang Farrel, sedangkan Farrel, ia sampai harus sedikit merotasi tubuh hingga hampir mencapai angka seratus delapan puluh derajat melihat siapa yang berada di belakangnya.
ㅤㅤㅤIa Hasna Aulia, Si puan yang sedang bersemangat karena kembali berada di kelas yang sama dengan Asha ㅡkini sedang membungkam mulutnya sendiri, begitu mengetahui siapa yang sedang berbincang dengan kawan yang ia kenal sejak SMP itu. Langkah kaki Hasna tak selebar tadi. Ternyata kabar burung yang sempat tak ia percayai itu, benar-benar ada. Pikirnya.
ㅤㅤㅤAsha Hemapraba, temannya itu, cantik memang, manis, jua menarik. Paras khas gadis-gadis Sunda kebanyakan. Tapi Hasna tak habis pikir, masih banyak murid yang lebih cantik di sekolah. Seperti Kak Embun si kapten Cheers, Atau Citra si sekretaris Osis, yang tak lain dan tak bukan adalah Sekretaris Farrel. Bahkan keduanya juga mengagumi Farrel. Apa yang salah dengan laki-laki ini? Ia memandang Asha dan Farrel bergantian, menggunakan tatapan yang susah didefinisikan. Sungguh pembukaan tahun ajaran baru yang asik. Ini serius.
YOU ARE READING
Berbatas Senja; Lee Jeno | Na jaemin
ChickLitCeritaku bak sebuah Fajar dan Senja yang hanya mengajarkan tentang menerima dan merelakan, Tentang bagaimana keindahan hanya bersifat sementara, Tentang apa yang ada akan dapat terganti. Namun Senja dan Fajar, juga mengajarkanku bahwa sebenarnya, Me...
