dua belas kosong dua

15 1 30
                                        

Hilir mudik kendaraan di depanku membawaku kembali ke kenyataan. Beberapa saat yang lalu aku sempat melamun di bawah lampu merah. Dan kini kembali tancap gas menuju kota Jakarta. Aku rindu kota ini, walau baru sebulan tinggal di Tasikmalaya. Berjarak 259 km. Harus kutempuh demi kembali ke kota Jakarta. Walau hanya sebentar. Ya untuk mengambil undangan wisuda dan tanda tangan ijazah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Mau tidak mau aku harus berangkat sendiri. Untung saja aku bisa bawa motor. Lebih hemat biaya, daripada dengan travel.

Ini adalah kali pertama aku menggunakan motor sendiri ke Jakarta. Biasanya ayah memesankan travel. Tapi kali ini aku nekat berangkat sendiri. Biar bisa lebih sering. Tanggal merah di kalender kali ini membuatku bisa lebih lama berada di Jakarta. Karena hari kerjaku yaitu mengajar sebagai guru tidak tetap hanya pada hari selasa dan jumat. Dan kebetulan kali ini selasa tanggal merah.

Aku sudah chat grup sahabat bahwa akan ke Jakarta. Mereka kompak ingin mengadakan reuni. Karena aku bakal sangat jarang ada di Jakarta. Mereka semua orang Jakarta, hanya aku yang berada di luar kota. Jadi hanya aku yang nantinya sulit ditemui. Btw mereka adalah sahabatku dari SMA.

Kami sepakat ingin pergi ke kebun raya bogor nantinya. Aku dengan semangat kembali tancap gas tidak sabar bertemu mereka.
Rencananya hari selasa kami baru berangkat, karena pada senin aku hendak menyelesaikan urusan perkuliahan terlebih dahulu.

Tiba pada hari H. Aku dan adikku menjemput Sania dan Heni untuk berkumpul di rumah Raya dan kemudian sama-sama menjemput Maria. Saat semua sudah berkumpul kami pun dengan naik motor masing-masing berangkat ke Kebun Raya Bogor.

Benar-benar mengasyikan. Selfie, Grufie dan sambil memvideokan momen bersama ini. Aku benar-benar memanfaatkan semua momen untuk berfoto ria. Menghapus penat di pekerjaan dan tertawa bahagia bersama sahabat-sahabatku.

"Nayla. Gimana kamu dan mantan kamu?"tanya Raya tiba-tiba disaat kami semua istirahat di pinggir danau di Kebun Raya Bogor. Pertanyaan ini sama sekali tidak kuduga. Dan sebenarnya sangat malas untuk membahasnya kembali.

"Ya seperti itulah. Dia tidak pernah mau menjelaskan siapa cewek itu, selalu mengalihkan pembicaraan. Aku juga tidak pernah bertemu dia lagi. Terakhir november tahun kemarin"

"Dia benar-benar brengs*k" sahut Sania membuat kami berdua terkejut. Rupanya dia sejenak mendengarkan percakapan kami.

Aku hanya terdiam dan mengangguk mengiyakan ucapan Sania. Cowok itu benar-benar sudah menyakitiku. Aku sudah sering mengalah dengan apa yang kami debatkan. Dia orang Tasikmalaya, sama denganku. Sebelum lulus, aku memang berniat untuk pacaran lagi, tapi kali ini mencari seseorang di kota kelahiranku. Agar nantinya aku fix menetap di sana. Ya aku memang selalu berniat serius setiap kali memutuskan pacaran. Cowok itu meminta nomorku di instagram. Dan kami pun berkenalan. Semua berawal lancar dan 2 kali bertemu Marco saat aku pulang ke Tasik.

Aku dan dia harus kembali ldr. Karena aku harus menyelesaikan skripsiku di Jakarta. Rupanya aku salah percaya pada seseorang. Di saat aku mulai percaya dan memberi hati, aku dikhianati. Lagi. Harus terulang lagi. Seorang cewek men dm ku di instagram saat aku asik berkumpul dengan teman-teman kuliah. Dia mengirim benerapa capture-an chat whatsapp. Aku tidak mengenal cewek dengan id instagram ayustar itu.. Lalu aku membaca satu persatu chat tersebut. Chat cewek itu adalah dengan seorang cowok. Dan yang membuatku kaget adalah nama cowok itu Marco. Di dalam chat tersebut ayu bertanya siapa Nayla. Karena kebetulan aku men tag nama marco di bio akun instagramku, walau Marco tidak demikian. Entah bagaimana cara cewek itu menemukan akunku, karena aku tidak pernah mem-follow dirinya maupun sebaliknya.

Singkat cerita Marco mengaku sama sekali tidak mengenalku. Aku berusaha berpikir positif dan mengatakan mungkin itu bukan Marco yang sama. Tapi kemudian cewek itu mengirim foto Marco. Dan itu benar-benar Marco yang kukenal. Miris. Jangankan di anggap pacar, dikatakan kenal diriku saja tidak. Aku benar-benar kalah telak. Aku memang sangat jarang bertemu Marco, hanya dua kali. Kami bertemu pun hanya sebentar. Dan banyak menghabiskan waktu dengan telepon. Tapi itukan hanya sementara sebelum aku menyelesaikan kuliahku. Dia tega melakukan itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 25, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Tentang Senyuman ItuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang