Cuaca mendung, awan hitam mengelus lembut bukit barisan yang mencoba menjangkaunya.
Ayam tetangga ribut sambil mengepakkan sayapnya mencari tempat untuk bertelur.
Seperti biasa dunia sibuk, pukul 15.41 WIB masyarakat masih sibuk dengan pekerjaannya.
Sepeda motor yang lalu lalang, kucing yang berlarian, dan bagi masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan tetap masih saja mempersoalkan apa yang tidak perlu ia persoalkan.
Mulutnya seakan memasak persoalan yang sedang banyak dibicarakan orang.
Namun, hari ini seakan semua lebih banyak persoalan. Hidup di sebuah Kota yang seakan tidak pernah jauh dari kejadian dan peristiwa yang terjadi begitu saja.
Di tengah kesibukan itu ada satu orang pemuda yang sedang tertidur dan bermimpi menemukan suatu tempat yang benar-benar indah dan masyarakatnya semuanya tersenyum saat berpas-pasan dengannya.
Tapi ia tidak tahu ada dimana, dan tidak tahu siapa masyarakat tersebut.
Namun, dari kejauhan ia mendengar namanya dipanggil seseorang di tengah orang yang tidak dikenalnya, dan saat ia melihat kebelakang.
Ia seakan melihat ada yang datang begitu cepat ke arah wajahnya, dan ternyata seorang kawan membangunkannya.
"Ada apa?" Naldi hanya tertawa sambil melihatkan sebuah brosur.
Aku berseru dalam hati. Bajingan! Hanya memperlihatkan sebuah brosur tidurku jadi tumbalnya.
"Jangan ganggu tidurku, pergilah!" Aku langsung menarik selimut.
YOU ARE READING
Kilometer
AdventureSebuah jalan yang terus dilalui. Satu langkah yang mempunyai satu cerita dan arti. Langkah tersebut tidak pernah ada yang tahu dimana akhirnya. Seorang yang tidak berhenti dan selalu meneruskan langkahnya tanpa mengetahui akhirnya. Ia seorang pemuda...
