Kota Seoul membeku.
Sang Dewi Malam tiada bertahta di singgasana, tabir kelabu menghalau wujudnya dengan sempurna. Kilat sesekali menyambar seperti cambuk cahaya menghantam bumi, disahuti gelegar guntur yang terus-menerus membelah angkasa. Tanah berlapis salju menguarkan aroma kematian. Embusan angin disertai badai bergulung-gulung kian menambah hawa dingin dari detik ke detik.
Kebanyakan orang sudah terlelap di tilam empuk masing-masing saat ini, berlayar dalam lautan mimpi tanpa mau tahu ekstremnya cuaca yang tengah mengancam. Kalau pun masih ada yang terjaga, biasanya banyak yang enggan untuk sekadar mengintip ke luar rumah. Jelas saja, sekarang malam sudah sangat larut. Duduk menikmati minuman hangat atau tidur membungkus tubuh dengan selimut adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan.
Tapi ....
Di sebuah tempat yang tak satu pun dilewati orang, tepat di sisi jalan sempit nan lengang yang dipenuhi onggokan-onggokan berwarna putih, sebuah tubuh tampak terbujur kaku tanpa daya. Tertimbun salju hingga nyaris menutupi sekujur dirinya. Menyisakan wajah memias dan sepasang telapak tangan mengepal erat. Mati-matian menahan gigil yang menggetarkan hingga ke sum-sum tulang.
Entah sudah berapa lama dia di sana. Tertimbun di bawah tumpukan putih seperti kapas yang nyaris menutup sekujur tubuhnya. Sedangkan butiran-butiran seringan kapas terus menyerbu tanpa belas kasihan.
"T-tolong ...." rintihnya dengan bibir bergetar, nyaris tak terdengar karena kerasnya desau angin. Dalam keadaan semenakutkan ini, pikiran-pikiran buruk mulai berkelebat dalam kepalanya.
Apakah aku akan mati?
Di tempat seperti ini?
Setelah dihajar tanpa ampun oleh manusia-manusia bedebah itu?
Dingin yang menembus dalam pori-pori kulit orang itu mulai melemahkan denyut jantungnya. Membuat aliran darah dalam tubuhnya ikut melambat. Tenggorokannya pun tercekat bersama napas yang tersendat.
Dalam usaha mempertahankan sisa-sisa kesadaran yang nyaris raib, seuntai doa terlontar dari bibirnya yang membiru. Sebuah permintaan terakhir dipanjatkan pada sang Empunya kehidupan. Berharap diberi satu kesempatan terakhir untuk bisa berada di dunia ini lebih lama.
"T-to ... lo ... ng."
Dia tak sudi lenyap dengan cara seperti ini.
"B-biar ... kan ...."
Mimpinya untuk jadi penyanyi bahkan belum terwujud.
"Ak ... k-k ku ...."
Juga menyelesaikan sekolahnya dengan mulus.
"H-h ... hi ... dup ...."
Yang paling penting, dia ingin membuat perhitungan pada mereka yang sudah membuatnya menderita.
Menjelang detik-detik kelopak matanya akan mengatup sempurna, sesuatu yang berwarna hitam tiba-tiba muncul di atasnya, membentang lebar seperti lambaian panji batari kegelapan.
Dia ....'
'Malaikat mautkah?'
'Apakah dia datang untuk membawaku jauh dari dunia fana ini?
"Aku akan menyelamatkanmu," bisikan itu terdengar jelas di telinganya. "Tapi kau harus memenuhi apa pun permintaanku."
Sosok tak berdaya itu hanya bisa mengangguk lemah, sebelum kegelapan benar-benar mengambil alih kesadarannya secara penuh.
***
Kyungsoo terbangun di sebuah ruangan sempit nan temaram. Langit-langit dan sudut dinding dihiasi sarang laba-laba. Kini dia tak lagi tergeletak tanpa daya di atas salju, melainkan terbaring di atas kasur empuk namun berbau debu. Dia tak tahu sedang berada di rumah siapa, pun tak ingat bagaimana bisa terdampar di tempat ini.
ESTÁS LEYENDO
He Is ....
FantasíaTerkadang kita sering dihadapkan pada keadaan mengerikan yang mampu mengancam nyawa. Bahkan kematian terasa begitu dekat, hingga harapan untuk hidup pun pupus ditelan ketakutan. Demikianlah nasib malang yang dialami seorang pemuda bernama Do Kyungso...
