Suasana Hati Eyang

20 0 0
                                        

Pukul 05.30 pagi sudah terbilang siang untuk desa Landes ini, sebuah desa kecil juga terpencil yang ada di tanah Sunda. Sepagi ini bagi sebagian orang bumi, rakyat bukan waktunya untuk bersenang-senang, adalah waktu mencari pundi-pundi penyambung nyawa. Tuhan hanya menciptakan dan mengambil, tetap saja kita yang harus mengurus dan menjaga nyawa kita sendiri secara jasmani dan rohani agar tetap hidup.

Pribumi, manusia-manusia pemilik tanah sendiri, tanah yang makmur nan subur namun seolah mati tak terlihat. Tidak ada yang tahu, mungkin saja di bawah pijakan kaki ini terdapat sebongkah emas. Namun dangkal, yang ditemukan hanya gundukan singkong dan singkong.

Manusia, memang klise. Bodoh atau bagaimana, itu adalah bentuk lain dari emas yang kau idamkan gemerlapan.

"Sekolah tak akan membuatmu jadi orang besar, Nci. Tetap saja, miskin ya miskin, rakyat ya tetap rakyat!"

Kata-kata itu, terngiang di kepala seorang gadis yang akrab dipanggil Nci, entah bagaimana mulanya, hingga orang-orang memanggilnya Nci. Asri namanya, Asri Hastanti. Gadis 16 tahun yang sepagi ini harus berjalan sekitar 200 meter untuk menuju sekolah Muhammadiyah yang letaknya berbeda kampung dengan rumahnya.

Sebagian besar penduduk desa ini, menganggap bahwa pendidikan tidak ada pentingnya. Yang paling penting, adalah bagaimana kita harus hidup, uang, dan kaya raya. Bagi mereka, rakyat tak punya kesempatan untuk duduk di kursi raja, bahkan menginjak teras singgasana pun tak sedikitpun terfikir. Lain dengan Asri, dia tidak begitu. Dia berfikir bahwa siapapun bisa menjadi apapun. Dunia tidak milik mereka para pejabat, mereka orang kaya. Tapi, dunia adalah milik siapapun yang mau berusaha, apalagi perempuan. Bukan mengandalkan parasnya untuk meraih masa depan dengan dinikahi orang-orang kaya, bahkan rela menjadi selir.

Tidak, tidak begitu!

Adat tetaplah adat, atau mungkin adalah kebiasaan. Oksigen pagi Asri terganggu dengan bau kemenyan yang berada di bawah padi yang sudah siap dipanen. Di Desa ini, setiap akan mulai memanen ada tradisi harus membakar kemenyan. Katanya, untuk memberi salam pada eyang-eyang penunggu padi ini, atau pada pemilik ghaib sawah-sawah ini.

"Nci, Enci, tunggu!" teriak seorang wanita sebaya, menghentikan langkah wanita yang memencet hidungnya itu.

"Hos, hos... Kamu, berangkat pagi-pagi sekali, Nci. Ning kan, sudah bilang, jangan pagi - pagi!" kata Ning, sambil mengatur nafasnya yang masih naik turun.

Nining Nururraeni namanya, sahabat kecil Sri yang kerap dipanggil Ning.

"Kata Noni, kamu gak akan sekolah hari ini, Ning. Aku berangkat duluan saja." balas Nci, yang masih memegang memencet hidung, sehingga mengeluarkan suara yang tegek cempreng.

"Wah, si Noni tuh ya. Ning disuruh ikut Emak ke penyisiran, katanya bantu beli buat layangan, mana mau Ning. Nyari uang buat Ning sendiri lah."

"Aku gak tau si Noni bohong, yasudah berangkat saja, ayo!" Nci menarik tangan Ning, tangan yang satu masih tetap saja memencet hidung.

"Kamu penyakit flu, Nci?" tanya Ning.

"Enggak, aku gak sakit."

"Kenapa pencet hidung terus?"

"Oh, ini. Aku gak suka bau kemenyan, bikin mabok, puyeng Ning."

"Husssss! Gak boleh begitu Nci, kamu sama saja sudah menghina para eyang."

"Ning, eyang tuh kan gak satu katanya. Bagaimana kalo ada eyang yang gak suka sama kemenyan? Sama kaya aku sama kamu, aku kurang suka kamu suka, gitu."

"Tapi tetap saja, Nci. Tidak boleh menghina eyang, bagaimana kalo sudah tanduran sampai jadi padi tidak di urusi eyang, akan gagal panen nantinya."

"Yang aku lihat, Mbah Muni sama Mak Sonah yang suka ngurus sawahnya, setiap pagi mereka berdua ngebor pupuk sama ngambet, gak ada aku lihat eyang-enyang ngurusin sawah. Yang ada, akua botol kaleng sama begig sawah yang jagain sampe malem."

MELANGITWhere stories live. Discover now