PROLOG

57 8 3
                                        

Namanya Bima Sakti. Sahabat sekaligus cinta pertamaku. Memang sangat sulit untuk menjalani hubungan persahabatan tanpa melibatkan perasaan. Pepatah bahwa jika cowo dan cewe bersahabat pasti akan ada salah satu yang menyukai sahabatnya sendiri itu benar. Aku mencintainya sejak dulu. Tapi dia?? Kurasa tidak . Aku selalu bertanya kenapa nama yang di sematkan padanya adalah Bima Sakti, padahal ia tak mempunyai kesaktian sedikitpun. Setiap di tanya ia hanya mampu menjawab bahwa ia adalah sosok galaksi Bima Sakti versi manusianya.
Aku sudah bersahabat dengannya sejak kecil karena letak rumah kami yang bersebelahan. Bagiku, dia adalah sosok yang sempurna . Bagaimana tidak sempurna??. Semua orang disekolah sangat memujanya. Dia ketua osis disekolahku. Sosok yang ramah, humble, cool dan bertanggung jawab. Menjadikan ia sosok pemimpin yang begitu di idamidamkan para kaum hawa. Jangankan orang lain, aku sahabatnya saja menyukainya. Bukankah cinta tumbuh karena terbiasa?. Jangan salahkan aku jika aku mencintainya. Mungkin kebersamaan kami yang membuat perasaan itu muncul entah apa penyebabnya.

Oh ya, perkenalkan namaku Aluna Nindya. Orang-orang sering memanggilku dengan nama Luna. Aku hanyalah manusia biasa yang beruntung karena bertemu dengan sosok pangeran seperti Roland. Aku tak seperti wanita kebanyakan. Ya, anggaplah aku sedikit aneh untuk remaja seusiaku yang memikirkan penampilan diatas segalanya.

Aku benci takdir. Karena menggariskan jalan hidup yang seperti ini. Rasanya sehari tanpa bullyan seolah-olah bagaikan pepatah mengatakan tantang sayur tanpa garam. Hambar. Gak lengkap gitu rasanya. Aku sudah terbiasa dengan semua itu. Dan terlalu bosan dengan rasa sakit. Semua orang mengejekku. Menganggap bahwa aku hanyalah bebek buruk rupa yang beruntung bertemu pangeran kodok. Katakanlah aku ini memang beruntung. Tapi dibalik semua itu, banyak kisah yang ku tutup rapat-rapat dari dunia luar. Ya, aku tak ingin dunia tahu tentang diriku yang sebenarnya dan beralih untuk mengasihaniku. Karena aku benci dikasihani.

Beribu pertanyaan yang bersarang diotakku dan belum sempat terjawab sampai saat ini dan ingin kutanyakan langsung pada tuhan. Bukankah semua orang berhak bahagia?. Tuhan pun sudah menggariskannya. Lalu kenapa hidupku penuh dengan penderitaan??. Salahkah jika aku mengatakan bahwa tuhan itu tidak adil?. Salahkah jika aku membenci takdir?. Aku seolah sedang dipermainkan. Yang tak diketahui endingnya seperti apa. Bolehkah aku menyerah sekarang?. Aku tau takdir takkan mengijinkan. Tapi, taukah Tuhan bahwa saat ini aku benar-benar lelah??.

Tbc...
Thanks buat semuanya yang udah mau baca😊
Pendek ya? Gaje ya?. Harap dimaklumi karena ini adalah cerita pertamaku. Jadi maklum aja kalau penulisnya masih amatiran.

                          Kendari, August 14 2019

                                                                 ~R

SEKEPING RASA Stories to obsess over. Discover now