"Dia meminta maaf padaku!" seruku pada Salsa.
"Terus?" jawabnya sambil menyeruput es cappucinonya.
"Aku tinggalkan dia, saat dia mengatakan itu," jawabku sambil memainkan ponselku.
"Bodoh. Harusnya kamu jawab dia. Kesalahan yang dia buat sudah fatal." Ucap Salsa kesal dengan sikapku.
Aku diam saat Salsa mengeluarkan amarahnya. Aku tahu Salsa sudah lama tidak menyukai Rakhel. Lelaki yang kukenal di sebuah komunitas itu awalnya sangat manis denganku. Dewasa dan berpikiran terbuka. Tapi wanita mana yang tidak sakit melihat kekasihnya menikahi sahabatnya sendiri.
Wanita itu bukan Salsa. Tetapi Detha, sahabatku sejak SMP. Aku tidak tahu kalau mereka berdua semakin dekat setelah pesta kejutan ulang tahunku. Sedangkan Salsa dia adalah sepupu sekaligus sahabat terbaikku sepanjang hidup. Tak ada satu hal pun yang tak ia ketahui tentangku. Begitupun sebaliknya.
Aku teringat kembali kejadian saat itu. Hari dimana Rakhel kukenalkan pada Salsa dan Detha. Salsa memang tak menyukai Rakhel sejak pertemuan pertama.
"Sa, Tha kenalin ini Rakhel pacarku." sahutku sambil menggandeng tangannya.
"Detha, sahabatnya Priya." Ujar perempuan berambut pirang sambil mengulurkan tangannya.
"Rakhel. Senang berkenalan denganmu De." sahutnya sambil membalas uluran tangan Detha.
"Salsa." Ucapnya singkat dengan nada ketus tanpa mengulurkan tangan.
"Senang berkenalan sama kamu Sa." ujarnya dengan nada lembut.
"Awas kalau lo berani nyakitin Priya." ancamnya didepanku.
"Sa. Jangan nakutin gitu ah." ujarku sambil menaruh kepalaku kepundaknya.
"Tidak akan Sa. Dia wanita spesial yang aku punya." ucapnya penuh kegombalan.
"Sekarang aja lo bilang gitu, liat aja nanti. Kalo sampe Priya lo sakitin abis lo." gumamnya sedikit keras sehingga aku menyenggolnya.
Kami pun segera duduk di tempat coffee shop yang kemudian menjadi tempat kumpul favorit kami. Aku duduk di depan Rakhel, dan di samping Salsa. Terasa aneh tapi aku memilih duduk dekat sahabat terbaikku agar ia tidak bicara yang bukan-bukan.
Detha memesankan minuman dan makanan favoritku. Salsa masih dengan tampangnya yang dingin dan aku berusaha memesankan makanan dan minuman untuk mereka.
"Ah, ternyata Salsa nggak suka sama Rakhel." batinku.
Aku tahu ada sesuatu yang dia nggak suka dari Rakhel sejak pertemuan pertama ini. Aku belum bisa menanyakannya karena Rakhel masih disini. Ingin cepat rasanya aku mengetahui apa yang tersembunyi dari Salsa tentang Rakhel.
"Sa.. Sa.., tidak pernah berubah memang dirimu." gumamku sambil menggelengkan kepala menatap sepupu sekligus sahabatku itu.
"Ya, kamu sudah kenal berapa lama sama Rakhel!" Seru Salsa dengan tatapan curiga.
"Tiga.." potongku ragu.
"Empat bulan kita kenal, masuk bulan kelima kita jadian." Sahut Rakhel spontan.
"Sorry, saya nanya Priya, bukan anda." jawab Salsa ketus.
"Permisi makanan dan minuman datang." ujar Detha menghampiri sambil membawa nampan penuh makanan dan minuman.
"Makasih, Tha" sahut kami semua kompak dan dibalas hanya dengan alis yang mengangkat disertai senyuman tipis.
YOU ARE READING
Padang Senja
RomanceCinta, Persahabatan dan Pertengkaran sudah biasa menghiasi kehidupan setiap insan
