ketika sadar di kala kedua kaki menapak lantai rumah, seseorang mengatakan jikalau hari-hari yang menembus kulitmu merupakan tamparan yang tak engkau rasakan.
well, bagaimana tidak, ya? monokrom saja sudah menyelimuti hari-hari dengan jubah bernama "monoton", belum lagi dengan beban-beban yang merawat serta menggelantungi punggungmu. bilamana tidak kuat, sudah pasti jarum-jarum di landasanmu sudah merajam lembut kulit.
secara fisik ... tubuh ini kecil. secara mental ... goyah sedikit saja sudah rubuh.
lantas ..., apa yang membuat 'mereka' tetap hidup?
itu satu.
kesatuan, menjadi satu, bergabung, berkumpul, apapun itu yang sepadan.
mungkin satu tongkat sudah memiliki koyak, namun tongkat lain masih dapat menopangnya meski sama-sama tak sempurna. {}
YOU ARE READING
sampah serampangan.
Randomhanya karena beruntung, bukan berarti menyisihkan segala untuk mengumpulkan bau busuk. disclaimer, → these poems were written during my last teenage years, which I have endured some tough times for the moment and it does not permanently represent ho...
