Heal

514 64 97
                                        

Minggu pagi ini matahari terlihat begitu cerah menampakkan cahayanya dengan percaya diri di hamparan permadani langit. Langit terlihat polos tanpa gumpalan awan putih yang biasanya menemani Sang Raja. Tanah basah dan petrikor yang menyeruak rongga hidung, hingga dedaunan yang basah akibat hujan deras yang turun semalam membuat Yeonjun sedikit rileks. Hari sudah menunjukkan pukul delapan yang artinya matahari sudah singgah cukup lama, namun ia masih dapat mendengar suara rintikan kecil dari atas kanopi kafe yang sering ia kunjungi di akhir pekan. Tidak ada yang ia lakukan di sana, hanya menyesap espresso dan memperhatikan lalu lalang kendaraan dari balik kaca jendela. Sedangkan pikirannya mengawang kesana kemari. Tidak berbeda dengan dirinya yang dulu, lima tahun yang lalu, yang masih berantakan dan masih berkelut dengan masa lalu.

Akhir pekan kali ini tidak ada Soobin yang menemani di sampingnya. Soobin harus mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya, jadi terpaksa ia harus menghabiskan akhir pekannya sendirian di kafe yang masih sepi pengunjung ini. Matanya terpaku pada layar ponsel yang memperlihatkan kolom percakapan antara dirinya dan Soobin.

'Kak, hari ini gue ada kerkel pagi-pagi banget. Maaf, lupa bikin sarapan', begitulah kira-kira isi pesan dari Soobin yang baru sempat ia baca sekarang. Setelah bangun tidur, Yeonjun tidak mendapati Soobin di dalam apartemen, namun ia tidak sempat memikirkan kemana Soobin pergi dan langsung bergegas menuju kafe ini. Yeonjun hanya menghela nafas membaca pesan tersebut. Yeonjun kira Soobin sudah pergi ke kafe ini terlebih dahulu, jadi Yeonjun langsung menuju tempat ini. Namun perkiraan Yeonjun salah, acara akhir pekan yang sudah mereka rencanakan kemarin lusa batal. Nggak apa-apa, belakangan ini Soobin emang sibuk banget, batin Yeonjun. Kemudian, Yeonjun mengunci layar ponselnya dan kembali menatap jalanan di luar.

Memoarnya kembali memutar kisah-kisah lamanya yang bahkan sudah usang dan sukar dijabarkan bahkan untuk sekadar diingat. Masa lalunya yang hampa, sepi, dan monoton. Tidak ada warna baru di kehidupannya kala itu. Hanya ada warna hitam, putih, kelabu, selebihnya warna-warni di hidupnya terlihat begitu pucat dan kusam. Dan warna-warna itulah yang menemani Yeonjun setiap harinya sebelum Soobin datang.

Iya, Soobin. Bagi Yeonjun, Soobin adalah satu-satunya orang yang benar-benar peduli dengannya. Soobin sangatlah berarti di hidupnya. Mungkin jika Soobin pergi meninggalkannya lagi, Yeonjun hanyalah sebatang kara yang tidak tahu arah dan tujuan hidup. Hidupnya hancur, runtuh. Kepingannya berserakan dimana-mana dan Yeonjun tidak tahu bagaimana cara menyatukannya kembali sebelum Soobin datang mengulurkan tangannya. Pada hari itu, tanpa terduga, Soobin kembali padanya. Datang menujunya. Kemudian membantunya keluar dari reruntuhan yang menyakitinya bertahun-tahun.

Orangtuanya bercerai ketika ia duduk di bangku kelas tiga smp. Orangtuanya bercerai bukan tanpa alasan, namun dindingnya sudah retak dan rapuh sejak bertahun-tahun yang lalu dan Yeonjun hanya bisa menahannya sekuat tenaga. Mungkin saat itu, Yeonjun sudah tidak kuasa untuk menahan agar dinding itu tetap kokoh. Ketika itu, dinding yang membangun keluarga mereka dari masih kecil sampai menjadi keluarga berada, hancur. Yeonjun sangat marah saat itu, emosinya meluap-luap namun ia tidak bisa berteriak di depan kedua orangtuanya. Ia hanya membisu ketika orangtuanya menunjukkan surat perceraian yang sudah ditandatangani keduanya.

"Yeonjun, maafkan kami. Maaf, Sayang." Suara lirih dari Sang Ibu yang terekam jelas di dalam pikiran Yeonjun menggaung membuat Yeonjun memejamkan matanya, rasanya sakit sekali untuk sekadar mengingatnya.

Ia tidak bisa memberontak, namun ia juga tidak bisa menangis. Akhirnya ia hanya bisa mengikuti titah orangtuanya dan tinggal bersama ibunya. Sedangkan ayahnya memutuskan untuk pindah ke luar kota dan melanjutkan mengelola perusahaannya yang sudah dirintis dari nol.

Tiga bulan setelah perceraian tersebut, ayahnya dikabarkan meninggal dunia. Yeonjun dan ibunya mendengar dari teman ayahnya yang mengabari lewat telefon di pagi buta kala itu. Sungguh, Yeonjun sangat terpukul atas berita duka tersebut. Pasalnya, ia sangatlah dekat dengan ayahnya semasa kecil. Ia lebih sering menghabiskan waktunya dengan Sang Ayah daripada Sang Ibu. Ayahnya dulu yang ia lihat adalah sosok pahlawan yang paling hebat dan keren, berubah menjadi seorang pria bertangan ringan. Yeonjun tahu ayahnyalah penyebab perceraian dan semua pertengkaran itu terjadi, namun rasa benci tak kian menumbuh di dadanya. Ia sangat menyayangi ayahnya meski amarah terpendam ketika ia melihat ayahnya menampar pipi halus ibunya yang dahulu sering kali Yeonjun kecup.

Heal; yeonbinWhere stories live. Discover now