Aku Tidak Akan Melepaskannya

9 1 0
                                        

Aku Tidak Akan Melepaskannya

~~~

"Kita mau ke mana?"
Rina tidak menjawabnya dan hanya menunjuk ke depan. Aku meng-iyakan saja sambil tancap gas, motorku melaju ke tempat yang Rina inginkan.

Oh ya, apa perlu aku memperkenalkan diri? Kurasa iya. Namaku Eddy, aku adalah seorang Novelis dan juga seorang Fotografer. Umurku 24 tahun. Dan kekasihku ini namanya Rina. Belum bekerja, namun sesekali Rina mengajar di TK. Umurnya 21 tahun. Sudah 4 tahun kami menjalin hubungan, dan aku merasa tidak enak sudah menggantungnya sekian lama.

"Itu, mas. Di sana" katanya sambil menepuk pundakku
Rina menunjuk ke arah pantai, aku pun membelokkan motorku kemudian memarkirkannya. Kami beristirahat di sebuah kedai.

"Wah, lupa😅. Sebentar ya, aku pesankan minuman dulu" kataku
Aku berdiri dan memesan minuman. Lalu aku kembali dengan 2 buah kelapa muda.

Angin sepoi-sepoi menghembus ke arah kami. Sesekali aku melihat Rina yang tengah melihat matahari terbenam. Rambut panjang sebahu tertiup angin dengan senyum manis terukir di bibirnya. Beberapa menit penuh kebisuan akhirnya aku pecahkan dengan satu-dua kata.

"Rin, mas mau ngomong sesuatu nih" kataku

"Ngomong apa, mas?"
Kuambil sebuah kotak dari dalam saku jaketku lalu kuletakkan di atas meja, kemudian aku buka kotak itu.

"Rina mau gak, menikah ama mas?" tanyaku

Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut saat mendengarku mengatakannya, pipinya memerah dan air kelapa muda yang belum ditelannya tumpah.

"M.. Mas... Ini kan?" kata Rina

"Hehe😅"
Rina begitu bahagia melihat sesuatu yang aku berikan untuknya. Batu permata berbentuk persegi dengan warna hijau dihiasi ukiran dari perak di sudut-sudutnya.

"Gimana, Rin?" tanyaku

"Mas, ini kan mahal" kata Rina

"Yaa... Inget uang patungan yang kita tabung buat beli jaket couple itu? Kita kan menang undian dan sekarang kita udah punya jaketnya. Duit itu aku tambahin ama sebagian honorku, dan aku mutusin buat beli ini😅"

Rina terdiam dan tidak langsung menjawabnya. Ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaanku. Dalam hati ia bertanya, apa Eddy serius dengan perkataannya tadi?.

"Rin?"

"Mas.. Serius?" tanya Rina

"Ya iyalah, serius. Masa nge-prank. Rina kan tau sendiri, mas itu orangnya kek gimana"
Lagi-lagi Rina terdiam. Pipinya masih memerah dengan senyum kecil seakan tersipu malu.

"Tapi.. Aku ngerasa gak yakin, mas" katanya

"Kenapa? Karena keadaan ekonomi keluargamu? Mas gak peduli. Mas udah cinta sama Rina sejak pertama kita ketemu di lomba waktu itu. Sungguh, mas cinta sama Rina"

"Tapi.. Mas..."
Kutempelkan jari telunjukku di bibirnya dan Rina langsung terdiam.

"Ssstt! Mas gak mau denger Rina ngomong soal ekonomi keluarga lagi"

Rina menyeruput air kelapa muda di depannya sekedar untuk membasahi bibir dan kerongkongannya.

"Mas, aku mau pulang" kata Rina

"Tapi, Rin?"

"Aku mau pulang" kata Rina dengan nada yang lebih keras
Aku hanya bisa meng-iyakannya. Aku tidak mungkin mendesaknya. Hatinya rapuh, sedikit dibentak pasti Rina langsung menangis.

Aku pun membayar kelapa muda yang kami minum tadi, kemudian kami berdua berjalan ke tempat parkir. Aku mengambil kunci motor, namun sesaat sebelum aku menancapkan kunci motorku, tiba-tiba Rina memelukku dari belakang.

Hai finito le parti pubblicate.

⏰ Ultimo aggiornamento: Jul 31, 2019 ⏰

Aggiungi questa storia alla tua Biblioteca per ricevere una notifica quando verrà pubblicata la prossima parte!

Aku Tidak Akan MelepaskannyaLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora