1943.
Sebelum Indonesia memutuskan untuk merdeka.
Jepang menginvasi Indonesia dengan kerja paksa yang menggilai warga demi memenuhi gilanya Jepang.
Janji palsu mengenai kemerdekaan masih menjadi secercah harapan, setidaknya, setidaknya saja Jepang mungkin akan membantu.
Kami masih mau merdeka.
Belanda yang mundur, namun perlahan-lahan ikut memunculkan taring gila mereka. Masih ingin menjilati tanah kami, masih ingin menghantui pikiran kami. Mereka akan balik. Mereka pasti balik.
Harus apa kami?
Menangis dan meraung untuk hal yang bukanlah tanggung jawab kami?
Lalu, diam terduduk dengan mulut tertutupi kain berbau oli?
Kami ingin merdeka.
Kami ingin merasakan apa yang tanah kami punya.
Kami ingin tidur tenang dengan nyaman tanpa perasaan takut yang selalu menghantui.
Bisakah?
Bisakah kami?
Lalu, bagaimana dengan cinta?
Apa kami harus membunuhnya?
Di tengah-tengah pergolakan batin kami yang ingin merdeka, bisakah kami membunuh perasaan gila ini?
Di ambang kehancuran, kami masih sudi berpikir.
Masih sanggup melamun, mengepul asap pada senja yang mulai lelah menunggu.
Apa yang sedang kami coba korbankan?
///
a/n: coba tebak siapa yg lagi collab
YOU ARE READING
Puing Kenang
FanfictionBahagian satu, dua, dan tiga; tolong jangan menyesal membaca tumpah darah kami.
