Cuaca berawan. Terlihat sedikit sinar mentari masuk melalui jendela ruangan mengenai wajah gadis manis yang sedang duduk melamun dengan kedua telapak tangannya menopang dagu. Ia tertawa, kadang tersenyum, "gue menikah dengan nya hari ini. Padahal gue baru kenal dia dua minggu lalu. Dan kemarin dia bilang dia udah diam-diam cinta gua sejak awal ketemu dan akhirnya Mark ngajak gue nikah. Kami pun hidup bahagia"
"Plaakk!" Tampar seorang gadis berambut pendek pada gadis berjilbab putih.
"Enak ya tiap hari ngehalyu bias aja sih lu," pekik gadis rambut pendek yang akrab dipanggil Ica.
"Biarin! Apa lu", lanjut dengan tersenyum dan menghayal lagi.
"Pinjem hp lu dong Ta", pinta Ica sambil mengambil hp yang ada di saku rok Tata.
"Haii??"
"Tata liat nih," dengan mata bulat melotot sambil menunjukkan layar hp pada Tata. Terlihat nomor telepon tidak diketahui dengan ujung nomor dua tujuh puluh. Terasa tidak asing di mata Tata. Mereka terdiam.
"Mantan!!" Teriak dua gadis di dalam kelas yang semula hening sehingga membuat seisi kelas mengarahkan pandangan pada dua gadis yang berteriak tersebut.
Kemudian, mereka berdua saling mencubit tangan dengan wajah merah dan tersenyum.
"Nah, kan gua dah bilang kalo dia pasti kangen lu. Alhamdulillah, teman gua kayaknya bakalan ninggalin hobi halyunya. Bales cepetan Ta!"
"Hai", balas Tata.
"Woi", balas lelaki yg namanya kini tertulis mantan pada kontak wea Tata.
"Ya. Apa kabar?"
"Rindu"
"Aaaakk!!" Lagi-lagi dua gadis ini berteriak, seisi kelas memandang mereka kembali dengan tatapan aneh. Membuat wajah dua gadis ini memerah kembali.
"Gila! Berarti si Fery sok cuek aja dari dulu. Belum bisa move on dari lu tuh. Hahaha. Gas gas Ta," bisik Ica pada Tata yang sejak tadi tersenyum sambil memandang hp nya.
"Apasih lu", Tata menulis kalimat ini dan membalas pesan Fery.
1 jam kemudian. Hening.
1 jam berikutnya. Belum ada balasan dari Fery. Melihat ekspresi wajah Tata yang mulai tak sedap dipandang, Ica akhirnya memberanikan diri mengeluarkan suara,
"Kayaknya lu salah ngomong deh, Ta".
Tingtong, pesan masuk.
"keluar tar malam yuk Ta", kalimat ini seolah olah berwarna pink dengan stiker bentuk hati mengelilinginya.
"Aaaakk!!" Lagi-lagi dua gadis ini berteriak. Mereka melihat sekeliling. Syukur semua teman kelas sudah keluar karena telah jam istirahat.
Tanpa menunggu lama, Tata membalas, "Gimana ya"
"Tinggal ngomong iya kok susah banget sih haha", lagi-lagi jawaban Fery membuat mereka berteriak. Syukur kelas masih kosong :v.
"Harus jual mahal dikit dongs ke mantan", balas Tata.
"Perasaan kita gaada kata putus deh", jawab Fery semenit kemudian.
"Aaaakkkk!!" Lagi-lagi mereka berdua berteriak.
"Eh yang dua disana ngapain teriak-teriak hah? Keluarin bukunya," teriak guru fisika yang baru saja masuk kelas.
Dua gadis itu saling menertawakan dirinya.
"Oke. Aku tunggu jam biasa", isi balasan pesan Tata, terlihat jelas ia tersenyum bahagia dengan pipi yang memerah.
Cowok berbadan kekar datang menghampiri sambil memberi selembar kertas pada Tata,
"nilai mu turun banget, nak"
Lalu, melanjutkan memberi selembar kertas lagi pada Ica tanpa mengucapkan sepeser katapun.
"Nilaimu lebih rendah dari ulangan minggu kemarin ya, Ta?"
"Iya"
"Emangnya minggu kemarin berapa?"
"Sembilan puluh sembilan"
"Kalo sekarang?"
"Sembilan puluh tujuh"
"Nilai gue juga turun Ta"
"Oh. Nilai lu minggu kemarin berapa emang?"
"Tujuh puluh"
"Kalo sekarang?"
"Tiga puluh lima"
"Kalo gue ketawa dosa ga? Lu hebat banget nurunnya 50%"
"Ketawa aja Ta. Hari ini gue biarin lu bahagia. Biar tar malam bisa tampil lebih menarik di depan Fery"
"Apa sih lu," pipi Tata memerah.
*****
"keluar! Aku di depan rumahmu!", pesan masuk.
YOU ARE READING
He lied
RomanceSudah biasa. Semua orang bertemu. Bercanda kecil. Jatuh hati. Lalu, berpisah. Sudah biasa. Ketika bertemu kembali, terasa seperti orang asing. Untuk menyapa saja tak sanggup, apalagi bilang "Rindu".
