Cotton

424 73 42
                                        

                              -Monologue-

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

                              -Monologue-

Ini hanya kisah seorang pria yang meratap. Ia terlalu kejam pada hidupnya sendiri bahkan untuk sekedar mengakui pun tak akan kalah dengan gengsinya yang setinggi Burj khalifa.

.
.
.

Jangan dulu di masuk kan kedalam hati, menjadi bagian dari kisah orang lain tak semudah menulis satu alenia dalam novel romansa.

Sepenggal kalimat yang dulu kau utarakan itu kini amat membekas di hatiku. Kilasan balik akan dirimu yang terlewat oleh waktu mengiringi janji senja pada peraduannya.
Kau ingat, saat itu larimu tergopoh-gopoh dan suaramu memekak telinga kala senjaku berlabuh dalam damai lantai atas gedung sekolah.

"Jaehyunnie, lihat aku memenangkan olimpiyade matematika sekali lagi. Tahun depan Cambridge menungguku."

Ya, itu adalah budayamu memamerkan semua yang kau raih padaku. Memecundangi diriku yang hanya mengandalkan wajah tampan dan kantong tebalku. Tapi kau tetap seperti lintah, menyerap seluruh energiku tah henti meski kau tak tau untuk apa.

"Aku hanya ingin lebih dekat dengan Jaehyunnie."

Alasan mu yang sudah terlampau membekas di molekul-molekul otak ku. Meski aku menolakmu berulang kali, meski aku tak pernah mempedulikanmu. Acuh tak acuhku bahkan kau anggap perhatian intens.

Oh tuhan, makhluk apa yang kau kirim dan kau catat pada buku kehidupanku, terbelenggu di antara paras menawan dengan sejuta hal menyebalkan berbau hal manis. Ingin ku mengumpat di hadapannya, Bodohnya dirimu.

Lagi-lagi senja, selalu mempertemukan mu dan aku yang jengah akan hari melelahkan. Segelas bubbletea yang kau seruput di sepanjang perjalanan pulang kali ini adalah hal manis yang ku telan bagai obat.

"Kau tau, saar di Inggris nanti jangan rindukan aku. Anggap saja kita LDR, kau mengerti kan LDR itu apa Jaehyunnie."

Cicitan ceriwis mu beradu dengan camar yang silih lalu lalang di atas awan. Pernyataan bodoh apalagi yang akan kau utarakan wahai kepala sok jenius.

"Mana ada teman yang LDR, bodoh sekali."

"Dengar, tanpamu aku bahagia. Gapailah mimpimu itu, kelak jika kau sukses kau pasti akan lupa padaku . Rubahlah penampilan culun mu itu."

Jika saja bukan karna kami selalu bersama dari usia masih menyusu mana sudi aku berteman dengan makhluk sepertinya. Ucapanku sudah barang tentu menjadi pedoman hidupnya. Meski itu berupa hinaan sekalipun.

Kurasa tuhan memberkati hatinya dengan campuran kapas. Jadi ia tak merasa terluka walaupun berkali-kali jatuh dan patah hati karna ucapanku. Terlalu ringan , sederhana dan monoton.

Ia Sungguh bodoh. Sudah tau bagaimana aku menghempasnya berkali-kali masih saja bertahan. Sudah tau ia punya hidupnya sendiri masih saja menuruti aturan kolot ayah ibunya dan percaya pada omongan bualan orang tua.

Sore ini yang kesekian kalinya. Sudah cukup seminggu hidupku tak ditempeli lintah bermuka Pokemon itu, sedikit lega. Jadwal kencanku dengan gadis pujaanku tak terganggu oleh catatan dosa apa yang aku perbuat di agendanya. Langkahku pun tak dibuntuti sosok aneh yang banyak di puja siswa lain dengan kata manis. Terbesit khawatir, tapi hanya perasaan heran yang ada bukan hampa.

Rumahku tampak ramai, kulihat orang tuaku berkumpul dengan orang tua si bodoh, namun tak nampak batang hidungnya duduk di antara ayah dan ibunya. Hah, sepertinya malamku tak akan tenang.

Selepas memberi salam , aku berniat mengganti baju dan turun untuk bergabung tapi kejutan lain hadir di kamarku, sosok berkacamata dengan rambut hitam yang sedikit lebih bervolume dan dandanan yang menyilaukan.
Dia sibodoh, yang aku tau pasti ini hasil rengekan nya pada kedua orang tuanya. Si itik buruk rupa kini berubah menjadi angsa cantik layaknya putri odeth yang selalu ia ceritakan.
Namun dimataku kala itu tetap sama. Si bodoh yang menjelma menjadi lintah berwajah pokemon.

"Aku hanya ingin berpamitan, maaf Jaehyunnie aku membatalkan pertunangan kita. Kurasa kau benar, mana ada hubungan yang bisa dipaksakan."

"Maaf selama ini aku membuat hidupmu kacau, kupastikan mulai besok kau akan hidup tenang. Orang tua kita sudah setuju, jadi kau bukan pihak yang bersalah."

"Terimakasih atas semua kebaikanmu, karnamu aku bisa mewujudkan satu persatu impianku."

Ia tersenyum ceria solah itu adalah pengakuan cintanya. Tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara barang membalas satu kalimatnya saja, ia meninggalkan ku mulai saat itu.

Hari ini, tepat senja menghadap janjinya pada sang semesta. Kisah itu tak pernah berujung, tentang dimana kepergian seseorang yang tak ku harapkan menjadi sebuah kisah yang terlewati begitu tragis.

Ironis, sudah dua tahun berlalu. Sejak kabar yang kuterima sore sehari setelah si bodoh itu pergi. Rumah nya sangat ramai namun bukan dalam keadaan suka cita. Duka lara menyelimuti kabut gerimis sore itu.

"Aku sebenarnya memang mencintaimu , Jaehyunnie."

Ya, itu ungkapan si bodoh kala dia sangat percaya bahwa orang tua kami memang menjodohkan anak-anaknya.

Kala aku dan dia menjajaki bangku sekolah menengah pada hari pertama. Aku ingat betul, saat itu hujan sore di halte tempat menunggu bus untuk pulang.

"Jangan dulu di masuk kan kedalam hati, menjadi bagian dari kisah orang lain tak semudah menulis satu alenia dalam novel romansa. Aku hanya bercanda , hehehe"

Bercanda tak semudah itu Lee Taeyong bodoh, bercanda tak semenyenangkan itu. Kau fikir hidupku kini tak terbebani oleh seluruh perasaanmu. Kau tau, sejak sore  kematian mu itu sampai di telingaku saat itu juga aku baru usai menanyai hatiku. Bertanya pada setiap bagian dari sukmaku yang menangis kala kau pergi.

Apa yang kau tinggalkan adalah bentuk perjuanganmu, dan hidupmu terlalu bodoh untuk di gantungkan pada sosok aku yang tak menyadari akan hadirmu.

Mengapa hidupmu kau tujukan padaku, sedang kamu bisa menjadi pesaing Einsten bagai mimpimu. Mengapa kau tulis aku dalam seluruh buku mimpi dirimu, sedang aku yang kau tau adalah lara mu.
Bahkan maafku tak sampai terucap, hidupmu terlalu tragis dalam akhir kisah yang menjadi celaka untuk dirimu sendiri.

Si bodoh itu lebih memilih meregang nyawa hanya karna melihatku yang berjalan serampangan karna kemelut hatiku padanya. Ya, sore itu ia menjadi korban tunggal kecelakaan lalu lintas di persimpangan jalan rumah kami. Karna aku yang sibuk tanpa menghiraukan nya menata hatiku untuk belajar mencintainya.

Lee Taeyong, yang menghempas diriku jatuh tersungkur ke tepi kehidupan. Ia memilih atau mungkin relflek gerak badan atau mungkin takdir habis waktu hidupnya. Entahlah, Tuhan begitu menyayanginya mungkin atau tuhan terlalu marah padaku lantaran hatiku yang terlalu keras tertutup gengsi. Bahkan untuk sekedar berbalik badan ketika ia berteriak memperingatiku.

"Jaehyunnie!"

Teriakan itu terlalu mengalun manis di telingaku, bahkan saat tubuhnya bersimbah darah dan aku yang tersungkur menepi. Si bodoh itu terlalu baik hingga mengorbankan hidupnya sendiri untukku. Bahkan hanya untuk menyadarkan ku bahwa ia adalah sosok yang selalu ada untukku.

Dua tahun berlalu, aku menyesali diriku yang tak sempat mengatakan "i love you" meski tanpa tiga kata itu. Senja selalu konsisten untukku sebagai penikmat rindu dalam cinta yang tak pernah sampai.


Fin.

A time to remember who's love you most.
-Lunisolar 209-

Cerita SenjaStories to obsess over. Discover now