Seo Eunkwang

14 2 0
                                        

Aku duduk menikmati secangkir kopi hangat, memandangi jalanan seoul yang cukup padat di siang hari

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aku duduk menikmati secangkir kopi hangat, memandangi jalanan seoul yang cukup padat di siang hari. Aku menghela nafas berat. Sudah berapa lama aku menyendiri? Ketika sahabatku yang lain sudah mulai berkencan dan bahkan beberapa dari mereka sudah menikah.

Kau harus mencoba kencan buta. Banyak yang berhasil dari kencan buta. Aku lelah mendengar ucapan mereka yang terus mendesakku untuk berkencan. "Permisi. Bolehkah aku duduk disini?" Ucapan seorang pria mengalihkan atensiku. Pria dengan kaos putih dan juga topi hitam. Tersenyum ke arahku. "Tidak ada meja kosong yang bisa ku tempati." Ujarnya lagi. "Ah iya. Silahkan." Sahutku.

Aku kembali fokus menatap keluar jendela, "apa kau sedang ada masalah? Ah maaf aku terlalu lancang." Ujarnya. "Apa menurutmu setiap orang pasti memiliki jodoh?" Tanyaku. Ah aku merasa bodoh bertanya seperti itu pada orang asing. Bahkan namanya saja aku tidak tahu.

Aku melirik sekilas ke arah pria di hadapanku, ia menopang dagunya dengan tangan kanannya, sementara jemari tangan kirinya mengetuk meja. "Aku percaya pada sebuah kalimat, setiap manusia terlahir memiliki pasangan. Tugas kita hanya perlu mencari dan menunggu waktu bertemu." Ujarnya bijak.

"Ah terima kasih." Ujarnya pada pramusaji yang mengantar pesanannya. Aku bingung menanggapi ucapannya. "Apa kau memiliki masalah dalam suatu hubungan?" Tanyanya. "Aku hanya iri pada mereka yang bisa menjalin hubungan dengan pria manapun. Bahkan sekalipun mereka berpisah dengan pasangannya dan dengan mudah menemukan pasangan baru." Astaga kenapa aku dengan mudahnya menceritakan keluh kesahku. Dasar bodoh.

"Kau seharusnya tidak merasa iri pada mereka. Kadang apa yang mereka tunjukan pada publik tidak sesuai dengan yang terjadi. Misalkan, orang itu." Ia menunjuk pasangan kekasih yang tengah berjalan di luar cafe. "Mereka terlihat bahagia bukan? Tapi percayalah aku yakin mereka sering berdebat." Ujarnya lagi.

"Aku seperti berkonsultasi dengan seorang psikolog." Ujarku. Ia tertawa. "Benarkah? Aku memang seorang psikolog." Akuinya. "Ah kita sudah bicara terlalu banyak, dan aku belum mengetahui namamu. Aku seo eunkwang."
"Jeshin." Sahutku. Kami berbincang cukup lama bahkan tidak terasa waktu sudah menunjukkan sore hari.

"Apa kau sibuk?" Tanyanya ketika kami akan berpisah. "Tidak, kebetulan aku sedang kosong selama seminggu." Ujarku jujur. Aku seorang penulis novel, dan kebetulan aku sudah menyelesaikan projectku. "Kau mau ikut denganku ke sebuah tempat?"

Aku biasanya akan menolak tawaran orang yang baru ku kenal untuk bepergian ke suatu tempat. Tapi itu tidak berlaku untuk pria yang kini berjalan bersamaku. "Kita sudah sampai." Ujarnya. Kami tiba di taman di dekat sungai han. "Tunggu sebentar." Ia pamit sebentar, aku duduk di sebuah tangga memandangi sungai han dan langit yang menyemburatkan warna jingga. Aku pikir matahari sebentar lagi akan tenggelam.

Kring...kring...

"Jeshin ayo naik." Pinta eunkwang, ia datang sambil mengayuh sepeda berpasangan. Aku masih diam tidak menjawab atau menghampirinya. "Kenapa kau diam? Atau jangan bilang kau tidak bisa mengayuh sepeda." Tebaknya.

"Aku bisa. Hanya saja bagaimana kau tahu aku ingin sekali mencoba menaiki sepeda seperti ini." Ia hanya terkekeh dan mengisyaratkanku untuk segera naik. "Sebentar. Kau harus menggunakan ini." Ia memakaikanku helm sepeda. "Agar aman. Aku tidak ingin tiba-tiba terjatuh dan kepalamu terbentur." Ujarnya.

Kami berkeliling mengendarai sepeda, bahkan anak-anak kecil menyoraki kami. Bersepeda di sekitar sungai han sangat menyenangkan. Kami beristirahat setelah merasa lelah dan puas bersepeda. Seo eunkwang mengeluarkan benda yang tidak asing dari dalam tasnya.

Membuka tutup botol itu dan meniupnya. Gelembung-gelembung sabun berterbangan tertiup angin. "Jeshin kau ingin bermain gelembung sabun denganku?" Tanyanya. Aku mengangguk dan ia memberikanku sebotol gelembung sabun. Kami meniupnya tanpa henti, bahkan gelembung-gelembung itu sangat banyak melayang-layang di udara. Kami tertawa kegirangan.

"Aku bisa menciptakan gelembung raksasa." Ujarnya dengan penuh percaya diri. Aku menantikan ia membuat gelembung raksasa, eunkwang meniup perlahan aku tercengang ketika bentuk gelembungnya semakin besar dan pecah menyiprati wajahnya. Aku tertawa terpingkal-pingkal melihatnya.

"Kau senang melihatku gagal?" Aku tidak mungkin berbohong, jadi aku mengangguk mengiyakan. "Wah kau benar-benar." Ia tiba-tiba menggelitikiku, aku tertawa geli dan berusaha menghindarinya. "Ya kemari." Eunkwang mengejarku. Aku terus berusaha menghindarinya. Jadilah kami bermain kejar kejaran.

"Aku lelah." Ujarnya. Sambil duduk di tangga. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. "Apa kau senang?" Tanyanya. "Aku tidak mungkin berbohong, aku memang senang sekali. Terimakasih sudah mengajakku bersepeda, bermain gelembung balon."

"Ada hal lain yang kau inginkan?" Aku menggidik, sejak dulu aku hanya ingin mencoba sepeda berpasangan, dan bermain gelembung sabun. "Eunkwang, bisakah besok kita bertemu lagi?" Entahlah aku rasa aku merasa nyaman di dekatnya, nyaman menjadi temannya mungkin. Aku tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan jika aku jatuh cinta padanya.

"Entahlah." Sahutnya. Ia memandang jembatan gimpoo yang menampilkan air mancur berwarna -warni cukup indah memang. "Jeshi, apa kau bisa berjanji?" Aku terkekeh mendengar ucapannya. Setiap orang pasti bisa berjanji hanya saja sedikit orang yang bisa menepati janji itu.

"Aku serius. Kau bisa menepati janji ?" Aku mengangguk. Perlu digaris bawahi, aku memang orang yang selalu menepati janji. Aku tidak pernah mengingkarinya. "Aku selalu menepati janji yang kusepakati." Sahutku. Ia mengangguk dan mengacungkan jari kelingkingnya. Aku menautkan jari kelingkingku. Ia tersenyum padaku. "Jeshi, berjanjilah padaku kau akan selalu tersenyum seperti tadi. Buang semua kekhatiranmu. Dan ingat nasihatku yang sudah ku berikan." Ujarnya. Aku mengangguk.

"Meskipun tanpa diriku.." ujar eunkwang lirih. "Kau harus kembali." Ujarnya kemudian. "Kau tidak pulang?" Tanyaku sambil beranjak. "Tidak. Tempatku disini." Ujarnya. "Eunkwang jangan bercanda, mana mungkin kau tinggal disini. Aku tidak melihat rumah disekitar sini." Ujarku sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Eunkwang hanya tersenyum. "Ingat janji dan pesanku jeshi."

Tunggu kenapa aku merasa aneh, perlahan tubuhku semakin memudar. "Eunkwang apa yang terjadi?" Tapi ia tidak menjawab, ia hanya terus melambaikan tangannya dan tersenyum kepadaku.
.
.
.
"Jeshi." Panggil seseorang. "Eunkwang." Panggilku.
"Siapa yang kau panggil eunkwang? Aku Heejin, kim Heejin. "Kau ini tidur di tengah kelas. Untungnya park seonsaengnim tidak menyadarinya." Ujar temanku itu. Aku masih tidak mengerti, jadi aku hanya bermimpi? Bagaimana mungkin? Semua itu terasa nyata.

"Kau ingin duduk disini sendirian?" Tanya temanku, aku baru menyadari jika kelasku sudah kosong. Dan tersisa hanya kami berdua. "Tunggu aku." Teriakku.

-end

Btob - One ShotWhere stories live. Discover now