Prolog

1K 119 23
                                        

Akhirnya setelah sekian lama, rasa penasaranku terhadap film Kimi No Nawa terbayar sudah.

Sejak rilis tahun 2016, film animasi bergenre fantasy-romance itu langsung meledak di pasaran. Menjadi box office di banyak bioskop dan meraup keuntungan ratusan juta dollar, menjadikannya salah satu film animasi terlaris sepanjang masa.

Teman-temanku berbondong-bondong menonton film itu. Mulai dari yang paling modal─menonton di bioskop pada minggu pertama film itu tayang di tanah air─sampai paling tidak modal-modal amat─mengunduh bajakannya di situs-situs masyhur seperti layarkaca21, ganool, dan indoxxi menggunakan WiFi sekolah. Lalu beramai-ramai memperbincangkan betapa bagusnya Kimi No Nawa di depanku yang belum menonton film itu.

Hingga akhirnya, tiga tahun berlalu.

Dan di sinilah aku sekarang, menjadi kaum super tidak modal, meminta file film itu pada temanku, menontonnya sampai akhir, dan melampiaskan emosiku pada tisu-tisu yang menampung air mataku.

Sebenarnya aku tidak tahu pasti, sebenarnya film ini termasuk kategori film-yang-mengharukan-dan-akan-membuatmu-menangis atau tidak, sih? Kenapa aku menangis? Wajar tidak kalau aku menangis?

Tapi serius, adegan ketika Mitsuha dan Taki berjuang untuk menyelamatkan penduduk Itomori dari ledakan meteor membuatku tanpa sadar meneteskan air mata. Aku benar-benar tak bisa mencegahnya.

Setelah film itu berakhir, aku buru-buru mencari soundtrack dari Radwimps di Spotify. Filmnya keren, lagunya juga sangat enak didengar. Lagunya terdengar dreamy dan mampu menumbuhkan suasana magis sekaligus menenangkan. Seperti masuk ke dalam alam mimpi melalui lorong waktu.

Nah, karena sudah menonton film yang membuat menangis, sekarang saatnya mengembalikan mood dan menonton film yang lebih ceria.

My Stupid Boss sepertinya pilihan yang tepat. Kalau begitu─

"Astaga Adrana! Kenapa belum tidur? Jam berapa ini?"

Holy shit, itu Ibu!

Aku bisa mendengar langkah suara kakinya yang berderap cepat menuju kamarku. Pasti karena lampu kamarku masih menyala. Lagipula, ini sudah jam setengah sebelas malam. Mengapa beliau masih berkeliaran─maksudku, mengapa beliau belum tidur?

Kututup laptopku tanpa sempat kumatikan kemudian melompat dengan gerakan sehalus dan seringan mungkin dari kursi meja belajarku ke atas kasur. Aku berhasil menutupi tubuhku dengan selimut saat Ibu membuka kamarku.

Pakk!

"Wadaw!" aku mengelus bokongku yang baru saja menerima tamparan keras dari tangan besi Ibu.

"Jangan pura-pura tidur! Ibu tahu kamu belum tidur!" bentaknya, kemudian mengambil ancang-ancang untuk memukul bokongku lagi.

"Eit, eit, eit!" aku cepat-cepat berkelit di atas kasur sambil mengangkat tanganku, berusaha menghindari serangannya. "Kalau dipukul lagi Ran malah nggak bisa tidur, dong!"

"Jam segini belum tidur!" bentaknya lagi, ya ampun, padahal ini sudah larut. Bagaimana kalau tetangga mendengarnya?

"Kenapa sih, Bu? Ran, kan bukan anak kecil lagi." Keluhku karena Ibu selalu menyuruhku untuk tidur maksimal jam sepuluh malam.

"Tidak baik tidur terlalu malam, Adrana. Sudah, sekarang kamu tidur. Biar besok nggak telat sarapan lagi seperti kemarin karena buru-buru ke kampus." Keningku berkerut mendengar perkatannya.

"Besok Ran masuk siang kok, Bu ...." aku mencoba merajuk, tapi malah menerima satu cubitan kecil di pinggangku.

"Mau masuk pagi atau siang, harus tetap bangun pagi! Nggak ada alasan! Udah sana cepat tidur." Ibu melengos sambil mematikan lampu kamar dan menutup pintu kamarku. Aku mendengus. Ibu tidak pernah berubah, selalu memperlakukanku seperti anak kecil.

Aku mengendap-endap lagi mendekati laptopku. Satu film lagi bolehlah. Aku tak bakal bangun kesiangan, kok.

"Adrana! Jangan coba-coba mengambil kesempatan untuk menonton lagi!"

Arrrggh, bagaimana beliau bisa tahu sih?

Aku merangsek kembali ke kasurku dan menarik selimut, mencoba untuk tidur setelah menggerutu sedikit-sedikit.

"Mark, hari ini pun ibuku masih menyuruhku untuk tidur cepat. Kau dengar tadi dia marah-marah? Geez." laporku pada poster Mark Lee yang tertempel di dinding. Sebenarnya, mukanya tidak kelihatan, sih. Berhubung lampu kamarku dimatikan dan aku tidak menggunakan lampu tidur.

Aku menghela nafas. Mengambil handphone yang tergeletak di rak buku samping kasurku, kemudian mencari playlist lagu-lagu Mark yang kusimpan."Lagu nina bobo dari Mark hari ini, Dream Me, duet antara kamu dengan kakakku, Joy."

"Sebenarnya aku ingin mendengarkan Radwimps lagi, tapi rasanya kurang afdhol kalau tidak menutup hari dengan suaramu."

"Hehehe." Aku terkekeh sendiri. Berbicara sendiri seperti orang sinting. Tiap malam kuselalu menatap layar terpaku─lebih tepatnya, menatap poster Mark dari album Regular yang kutempel di dinding depan tempat tidurku─dan menyampaikan keluh kesahku sebelum tidur. Aku melakukannya hampir setiap hari kalau tidak ketiduran, semacam tradisi sebelum tidur. Bisa dibilang, poster itu adalah buku harianku, meskipun dia tidak merekam segala kisah sehari-hariku.

Oh, benar. Aku harus berdoa sebelum tidur.

"Good night, Mark." pamitku sebelum benar-benar tertidur pulas.

Selamat malam, Adrana.

_____

Welcome to my new project! Hehehe.

Ide awalnya memang ambil dari konsep body-swap seperti di Kimi No Nawa. Tapi apakah cerita dan akhirnya akan sama seperti film tersebut?

Well, let's see. Ekspektasi kadang nggak sesuai realita kan? 👀

SwitchWhere stories live. Discover now