Halaman Satu

109 11 10
                                        

Kuingat dirimu layaknya bintang jatuh
Pertanda harapan
Kuingat dirimu layaknya pelangi
Sebagai tanda hujan dan badai ada akhirnya

Kutandai dirimu sebagai mimpi
Karena sulitnya tuk bisa ku genggam

Kisah ini, adalah kisahku.
Kisah penuh luka, yang coba aku uraikan pelan-pelan, agar rasa sakitnya tak kembali terasa.

Kisahku tak sepenuhnya luka, ada tawa, canda, dan bahagia terpatri disana.

Ada pula sebuah nama. Yang aku bingkai, aku gantung tinggi diangan.

Sebuah nama yang berarti mimpi bagiku, sebuah nama yang berarti pelangi di hariku, sebuah nama keramat untukku.

.Saraluna.

🌙

Kulangkahkan kakiku penuh dengan harapan. Satu mimpi kecilku tercapai. Aku ada disini. Berdiri didepan kampus yang menjadi anganku di lebih dari 365 hari terkahir ini.

Aku berhasil menaklukan mimpiku, serangkaian kalimat yang langsung mengembangkan senyumku.
Sampai-sampai rasanya aku ingin berteriak disini, biar semesta tahu, aku menyanyikan syukurku atas keberadaanku disini.

Mataku terus menyusuri segala rupa yang ada didepan mataku. Setiap indah yang disajikan dunia, terasa sangat sejuk dimataku.

Kampusku yang berwarna biru dan kelabu. Ramai dengan lalu lalang para pencari ilmu yang membawa buku sepertiku.

Hari pertamaku dikampus ini. Tanpa ada teman hanya ada harapan.

Aku akhirnya melangkah dengan sedikit terburu. Ruangan yang aku tuju belum juga aku temukan.

"Diujung koridor!!" Sayup-sayup petunjuk yang tampaknya ditujukan pada semua mahasiwa baru.

Mataku menatap kearah petunjuk itu. Kemudian terpaku.

Mataku terpaku bukan pada ruangan yang aku tuju. Bukan pula pada petunjuk yang membuatku ragu. Tapi pada dia yang berdiri tak jauh dari pintu.

Apakah itu kamu?

Mataku kutajamkan sebisaku. Langkahku juga aku bawa baju. Aku ingin tahu, apa benar dia yang bediri disana adalah kamu.

Kamu yang hampir selalu hadir disetiap puisiku. Hadir juga dalam doa-doa yang aku lafalkan.

Sesaat hatiku beku. Ketika sosok itu menoleh, menghadap padaku. Seketika pula irama jantungku tak tentu. Ketika bola mata itu tampak masih terus memandangku.

Tak kuat akan yang terjadi didalam dadaku. Aku tundukan pandangku. Meskipun yakinku bahwa itu kamu tak lagi ragu.

🌙

Aku kembali menghadiahkan senyum pada diriku, saat menatap pantulan diriku di cermin yang baru saja aku pasang dikamarku.

Aku bangga padamu.

Kuselipkan kata itu padanya. Dirinya yang sudah bersusah yang penuh dengan kepayahan untuk bisa sampai disini.

Kuikat rambut hitamku yang hampir menyentuh punggung bawahku. Saatnya aku untuk menata kamar baruku. Rumah kecilku dikota baru ini.

Yayımlanan bölümlerin sonuna geldiniz.

⏰ Son güncelleme: Jul 19, 2021 ⏰

Yeni bölümlerden haberdar olmak için bu hikayeyi Kütüphanenize ekleyin!

SARAHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin