"HUH!" Anin membuang napas keras, mengeluhkan ospek yang masih lama akan berakhir. Gracia hanya geleng kepala melihat kelakuan teman barunya itu. Mereka berada dilapangan untuk mendengarkan seminar yang dijelaskan seorang yang sudah berumur, entahlah siapa namanya Gracia tidak terlalu menyimak apa yang disampaikan oleh orang itu. Sehabis materi ini habis barulah Gracia menyimak karena diambil alih oleh panitia kedisiplinan itu artinya hukuman baginya akan sebentar lagi.
"Gini banget dah, telat doang dihukum." Anin menoleh pada seseorang yang mengeluh itu. "Lo kalo ngeluh liat posisi napa, kalo ada panitia abis lo!" seseorang itu hanya menyengir lebar. "Kenalin gue Sisca, lo siapa?" "Anin dan ini Gracia" Mereka saling bersalaman, beruntung mereka berada ditengah barisan jadi tidak kentara interaksi dari mereka. "Lo Gracia? Penerima beasiswa SnapCo kan? Nama lo ada dimading, panutan banget lo."
"CCk, panutan apaan? Dia udah ngelanggar dua peraturan dihari pertama."
"Thanks ya Nin udah mengingatkan gue lagi soal itu, thanks juga udah ngerusak citra gue." Jawab Gracia sarkas.
"Kembali Cia."
"Wey panitia." Ucap Sisca berbisik. Mereka berbaris berlagak tidak melakukan apa apa setengah detik yang lalu.
"Yuk ke sisi podium Reine mau naik podium bentar lagi."
Telinga Gracia tidak sengaja mendengar percakapan dua orang panitia yang baru saja berjalan didekatnya. Reine? Gracia tau artinya. Reine artinya Ratu dalam bahasa Perancis. Jadi siapa ratu itu? Suara di podium mengalihkan pikiran Gracia. Sedikit kaget, siapa yang ia lihat yang berdiri gagah dipodium. Panitia yang memarahinya pagi tadi. Jadi namanya Reine?
"Selamat sore 2019!"
"Sore Ka!"
Mahasiswa sudah membubarkan diri setengahnya setelah dipersilakan termasuk Anin yang bersih, tidak melanggar peraturan. Tersisa Gracia Sisca, dan yang lainnya yang kedapatan melanggar peraturan.
"Kalian tau kenapa dikumpulkan disini?"
Suara rendah namun mengintimidasi itu terdengar lagi yang berhasil membuat Gracia takut sendiri. Ia sedari tadi hanya menunduk takut, jika mendongak bisa saja panitia menduga ia menantang panitia. Tau sendiri terkadang panitia sengaja mencari kesalahan para maba.
"Kalian ga bisa ngomong? Jawab! Jangan diam aja!"
"Kalian sudah mahasiswa bukan masih siswa! Harus bisa beragumen!" Beberapa orang sudah mulai berani menyuarakan pendapatnya. Gracia hanya mencari aman saja, lebih baik ia diam hemat energi tidak penting sekali menanggapi debat ini. Dalam debat terjadi proses tawar menawar hukuman antara reine dan mahasiswa baru, sudah terjadi hingga empat puluh menit.
"Ok, baik. Saya terima usul kalian! Bagi kalian yang tidak mengenakan atribut yang lengkap, hukumannya yaitu menulis secara esai mengenai biografi tokoh tokoh ekonomi yang kalian minati sebanyak 1500 kata, bagi yang terlambat menulis isu ekonomi yang sedang terjadi belakangan ini hanya boleh tahun ini dan empat tahun kebelakang, panjang kata minimal 3500 kata. Dikumpul besok bagi saat akan apel."
Semua pasrah mendengarnya, protespun akan percuma.
"Bagi yang melanggar kedua peraturan tidak ada keringanan. Terima kasih, silakan membubarkan diri."
Gracia sangat tahu kalimat itu ditujukan padanya. Suram sekali hari ini batin Gracia. Ia tidak yakin bisa mengerjakan itu dalam waktu semalam saja. Ditambah ia harus bekerja di cafe tante Melody. Tentu akan menyita waktu malamnya.
***
Saat sudah selesai ospek, Panitia masih berada diruang panitia untuk evaluasi dan mendiskusikan untuk hari esok. Setelah berdiskusi lama akhirnya rapat dan evaluasi selesai. Shani membereskan barangnya, tubuhnya sangat lelah saat ini perlu istirahat.
"Shan, ada Raja di depan." Ucap Nadia membuat wajah muram Shani berubah cerah. Nadia hanya mendengus, dasar orang kasmaran.
"Hai Shan." Ucap pria tinggi, yang usianya dua tahun lebih tua dari Shani. Mahasiswa yang sudah wisuda tahun lalu dan sedang menunggu panggilan kerja.
"Hai, tumben kesini." Ucap Shani. Pasalnya memang kekasih Shani ini sangat jarang menampakan dirinya di kampus.
"Ga boleh nih? Ya udah kita ga usah ketemu lagi." Ucap Raja dengan nada kesal.
"Kamu ngambek?" Shani mengecup pipi Raja sekilas. "Masih ngambek?" Raja hanya tersenyum semringah. Beruntung gedung C sudah sepi jadi Shani tidak akan malu jika melakukannya.
"Shan, maaf ya aku boleh minjem mobil kamu ga besok? Aku mau cari kerja ditempat yang lumayan jauh gitu." Ucap Raja memohon sambil menggenggam tangan Shani.
"Kenapa ga naik angkutan umum aja?" Tanya Shani. Bukannya Shani tidak mau hanya bertanya saja.
"Pengen gitu, tapi aku takut penampilan ku jadi sedikit kusut, kan ga enak kalo diliat calon atasan."
"Ya udah iya." Shani mengangguk lemah bersedia meminjamkan mobilnya untuk Raja. "Makasih sayang, sebagai ganti karena kemarin kita ga jadi jalan, sekarang kita jalan yuk."
Shani mengangguk antusias, digenggamnya tangan Raja untuk segera menuju mobilnya.
*
Sudah selesai dengan makan malam mereka, Raja mengantarkan Shani ke rumahnya.
"Eh, stop Ja." Perhatian Shani teralihkan pada Cafe yang searah dengan rumahnya.
"Kenapa Shan?" ucap Raja. Bingung melihat kekasihnya seperti fokus akan suatu hal.
"Aku baru tau ada Cafe disini." Shani masih melihat Cafe itu sangat ramai akan pengunjung. 'Gracia?' batin Shani. "Ja kira-kira kalo cafe seperti ini tutupnya kapan ya?" Tanya Shani pada Raja.
"Mungkin sekitar jam sebelas atau dua belas. Ada apa? Kamu mau mampir?"
Shani menggeleng. "Ngga, anter aku langsung pulang aja. Sekalian biar kamu bawa mobil aku."
Mobilpun melaju meninggalkan halaman cafe itu.
Gracia sudah sampai dirumahnya, sudah pukul setengah dua belas malam. Gracia bergegas membuat kopi untuk dirinya. Tugas hukuman itu akan dikumpulkan besok, sedangkan Gracia belum mengerjakannya sedikit pun.
Ia harus berjuang mengerjakannya malam ini, jika tak ingin bertemu dengan panitia kedisiplinan lagi, apalagi dengan Reine. Bisa-bisa kupingnya akan panas mendengar ocehan panitia kedisiplinan.
Kaget dengan malam ini, tapi gapapa itu keputusan viny. Buat para fans nya yang sabar dukung oshinya terus sampai hari kelulusannya tiba.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.