Unexpected Surprise

227 27 0
                                        

Menjadi ibu memang bukan pekerjaan mudah. Apalagi menjadi ibu dan orang tua tunggal, kesulitannya meningkat dua kali lipat.

Im Nayoung, seorang single parent berusia 25 tahun. Ia tinggal sendiri, dengan dua anak kembarnya, Minhwa dan Minho.

"Minho, tolong bantu Mama,"

Anak berumur 3 tahun itu berlari kecil mendatangi ibunya, yang duduk di tengah-tengah ruangan.

"Sayang, tolong masukkan mainan-mainan ini ke dalam kotak ya. Mama akan bangunkan Minhwa."

"Oke, Mah,"

Suara bel dari luar mengalihkan perhatian Minho. Anak lelaki itu langsung berteriak memberitahu ibunya.

"Mama, ada yang datang!"

Namun mamanya tidak mendengar, mungkin masih membangunkan Minhwa. Minho bingung, karena suara bel terus berbunyi, tapi dia ingat pesan ibunya untuk tidak sembarangan membuka pintu jika tidak ada orang di rumah.

Akhirnya, Minho menyeret sebuah kursi kecil miliknya ke bawah monitor, ia akan melihat siapa yang membunyikan bel.

Matanya melebar, tangan kecilnya langsung menekan pembuka kunci, dengan sedikit usaha lebih karena tinggi badannya. Begitu bunyi kunci terdengar, ia berlari ke pintu.

***

Nayoung terheran ketika suara bel sudah berhenti. Apa tamunya sudah keburu pergi? Atau Minho yang membuka pintu?

Semoga bukan opsi terakhir. Nayoung meraih dua tangan Minhwa dan merengkuhnya dalam gendongannya.

Minho tidak ada di ruang tengah. Ekor matanya melihat kaki kecil itu ada di ambang pintu depan, dengan setengah badan berada di luar. Nayoung langsung menghampiri Minho.

"Hwang Minho, Mama kan sudah bilang, jangan..."

Kata-katanya kembali tertelan saat manik matanya bertemu dengan mata itu. Pelukkan Minhwa yang masih mengantuk makin mengerat.

Namun, Minho malah menarik kain bajunya sambil menunjuk orang di hadapan mereka dengan antusias. "Mah, Papa datang! Papa pulang!"

***

Hwang Minhyun, laki-laki itu sedang duduk di sebuah sofa panjang, memandangi dua anak kecil asik bermain di hadapannya.

Anak-anaknya.

Kenyataan itu masih sedikit asing baginya. Melihat dua bocah kecil yang memiliki beberapa fitur wajah yang mirip dengannya, rasanya seperti mimpi.

Dulu, dia punya angan untuk memiliki anak-anak yang mirip dengannya. Dulu. Kenyataannya?

Dari awal sudah salah.

Kehadiran seseorang kembali ia rasakan. Ia menoleh ke sisi kirinya.

Perempuan yang berdiri di hadapannya adalah mantan istrinya. Ibu dari dua anak-anak manis itu.

Semuanya salah. Seharusnya bukan dia.

Perempuan itu menaruh secangkir teh, yang dia ingat aromanya setiap pagi, dan beralih pada dua anak yang mulai meributkan mainannya.

"Minho, Minhwa, tolong jangan berebut," tuturnya tetap halus dan lembut, dari ingatannya empat tahun lalu. "Apa kalian sudah membereskan tas sekolah kalian?"

Dua anak itu berhenti dengan mainannya, saling melihat satu sama lain, lalu menggeleng pada ibunya. Perempuan itu tersenyum kecil, lalu berkata lagi, "Kalau begitu, bereskan sekarang dan bermainlah di kamar."

Biasanya, anak kecil akan bertanya 'mengapa?' saat di suruh bermain di tempat lain. Namun entah bagaimana, Minho seakan mengerti apa maksud tersembunyi dari perintah ibunya. Ia mengangguk patuh, lalu menggandeng tangan adiknya menuju kamar.

Dengan perginya kedua anak itu, suasana semakin tegang.

Perempuan itu membuka suaranya terlebih dahulu. "Jadi, apa maksudmu tiba-tiba datang ke sini?"

Pria itu beralih menatap mantan istrinya. Wanita itu tidak berubah banyak. Rambut hitamnya yang lebih pendek dari terakhir ia lihat, tubuhnya yang lebih kurus, namun auranya tetap sama. Ia merasakan kehangatan saat wanita itu berinteraksi dengan anak-anak, kini mendingin saat menghadapinya.

"Mereka tahu... tentangku?"

Nayoung berusaha melarikan matanya kemana saja asal tidak bertemu dengan manik jernih pria itu. "Tentu saja, aku tidak sejahat itu membuat seorang ayah dan anak-anaknya saling tidak mengenal."

"Dan kau benar-benar memakai nama depanku?"

"Jika kau jadi keberatan, aku bisa mengubahnya. Tidak terlalu sul..."

"Tidak perlu. Biayanya akan mahal," potong Minhyun. "Lagipula, aku sedikit merasa senang, masih ada sesuatu yang kumiliki, milikku sendiri."

Nayoung menghela nafas, "Mereka anak-anakmu, tidak bisa kau rubah sampai kapanpun."

"Ya, aku tahu," pria itu menangkap sebuah pigura dengan foto ketiganya, tersenyum ke arah kamera.

"Seharusnya, kau mengabariku terlebih dahulu jika ingin melihat mereka," ucap Nayoung lirih.

"Aku juga tidak merencanakan ini. Aku tidak pernah mengira akan datang ke sini."

Seperti yang sudah ia duga.

Aftermath // hmh inyStories to obsess over. Discover now