chapter 1

4 0 0
                                        

Kuuaak.. Kuaak.. Kuuaaak

Suara burung gagak terdengar menambah kesan mengerikan di tempat itu, Darxilim adalah tempat yang penuh dengan kegelapan, dengan awan hitam yang lebat menutupi sinar matahari, pohon-pohon mati dan berwarna kehitaman, burung gagak beterbangan dimana-mana dan sebuah kastil tua berdiri di antara kegelapan itu, kastil yang juga dipenuhi oleh kegelapan di dalamnya ada seseorang berjubah hitam dan menutupi wajahnya menggunakan tudung jubahnya tengah duduk disinggasananya.

"Hm... sudah tiba saatnya," Gumam sosok itu lalu menyeringai misterius.

...












Oeek... ooeek... oek

Seorang bayi telah lahir bersamaan dengan guntur yang menggelegar tepat saat fenomena super blue blood moon.

"Selamat Tuan, istri Anda melahirkan bayi perempuan yang amat cantik, dan memiliki surai yang berbeda dari yang lainnya. Tampak sangat cantik, ini keajaiban." Jelas sang dokter begitu sang suami masuk ke ruang persalinan dam sang istri yang melahirkan seorang bayi cantik yang memiliki surai berwarna biru gelap dan seperti ada glitter yang menyertai surai bayi tersebut.

Sang ayah yang melihat itu tersenyum bahagia. "Terima kasih, dok." Balasnya lalu menghampiri istrinya yang tengah memberi ASI pada bayi cantik itu.

"Lihatlah Rick, bayi kita sangat cantik." Ucap Serilia -ibu dari sang bayi.

Suaminya yang bernama Erick itu mengangguk sambil mengeluarkan air mata bahagia lalu mengusap pucuk kepala Serilia dengan penuh sayang, "Berilah dia nama, Rick" Pinta Serilia dan diangguki oleh Erick, kemudian ia pun tampak berpikir, "Selena Eudora Heleigh ." Begitu nama bayi cantik itu disebutkan mata bayi itu perlahan terbuka dan terlihat warna matanya pun yang juga berbeda yaitu berwarna merah, dan langit tepat di atas bayi itu tampak berkilat dan sesuatu seperti cahaya dengan cepat melesat dari balik awan dan turun menimpa tubuh bayi itu dan masuk ke dalam tubuh bayi itu tanpa di sadari siapa pun.

"Selena," Gumam Serilia sembari tersenyum kemudian mengecup pipi bayi cantik itu.

...





17 tahun kemudian...

Selena tumbuh menjadi gadis yang cantik yang memiliki rambut indah berwarna biru gelap dengan glitter bertaburan yang berwarna biru muda di rambutnya menambah kesan keindahan yang akan mempesona siapa pun yang melihatnya, manik matanya semerah darah, dan bibir mungil dan tipis berwarna merah muda alami. Dia gadis bak putri dongeng yang membuat semua orang tak percaya, tapi. Itulah dia Selena

Tapi, karena semua kecantikan yang ia miliki membuatnya selalu di bully oleh teman sebayanya membuatnya selalu di dalam rumah dan pendiam karena ia trauma dengan perlakuan yang di lakukan oleh teman-temannya. Semenjak itulah ia memutuskan untuk selalu di rumah dan orang tuanya memanggil guru privat untuk melanjutkan sekolahnya di rumah.

Kini, Selena tengah berada di kamarnya sembari membaca buku sembari tiduran dengan posisi tengkurap dan sesekali bersenandung kecil. Suaranya pun sangat merdu saat berbicara maupun bernyanyi, dan terkadang semenjak ia berumur 18 tahun, ia mulai merakan aura dari sekitarnya sehingga terkadang membuatnya terganggu, dan ia juga bisa memunculkan hewan dengan tanpa sengaja saat ia menyebut seekor hewan yang ia inginkan. Tapi kemampuannya itu tak pernah ia beritahu pada orang tuanya dan siapa pun.

Seperti saat ini, ia tengah bosan dan memanggil hewan untuk menemaninya, ia memanggil seekor serigala abu-abu tanpa takut serigala itu akan menikamnya karena setiap hewan yang ia panggil sudah otomatis akan menurutinya layaknya ia adalah tuannya.

"Kau sangat menggemaskan Luke," Gumam Selena sembari mengelus kepala serigala yang ia beri nama bernama Luke.

Saat ia tengah asyik dengan teman serigalanya, "Sayang turunlah, waktunya makan malam!" Teriak Serilia -ibunya yang tengah berada di dapur untuk menyiapkan makanan.

"Baik Bu, sebentar lagi!" Jawab Selena tak kalah kencang, lalu membangunkan Luke yang asyik terlelap di pangkuannya, "Maaf Luke, aku harus mengembalikanmu" Lirihnya tak tega.

Luke pun mengangguk lalu menjilati wajah Selena, "Hahahaha!" Tawanya lalu memeluk leher serigalanya itu. "Sampai jumpa lagi, Luke." Ucapnya lalu meletakkan telapak tangannya di atas kepala serigala itu dan serigala itu pun menghilang.

Ia pun langsung bergegas turun dan menghampiri ibunya yang tengah menata makanan di meja makan, ia pun turut membantu ibunya menyiapkan makanan ke meja makan.

"Ibu tadi mendengarmu tertawa, Kenapa?" Selidik Serilia membuat Selena terkejut tapi ia langsung menutupinya dengan senyum manisnya.

"Aku tadi sedang membaca novel, lucu sekali, Bu." Bohongnya.

"Oh baiklah, sayang." Dalam hati Selena lega karena ibunya tak terlalu mencurigainya.

Saat makan malam sudah selesai di siapkan, Serilia hanya tinggal menunggu suaminya pulang kerja, yaitu Erick. Erick bekerja sebagai buruh, mereka memang keluarga yang sederhana dan terkadang juga Selena membantu sang ayah mencari uang dengan hasil lukisannya, ya memang ia sangat pandai melukis, dan lukisannya lumayan banyak penggemarnya. Namun, ia tak setiap hari melukis karena cukup melelahkan.

Tak lama terdengar suara motor di pekarangan rumah mereka yang tak lain adalah motor Erick.

"Ayah pulang!" Ujar Erick lalu menghampiri sang istri dan mencium pucuk kepalanya kemudian juga pada Selena.

"Tumben sekali kau telat, ada apa?" Tanya Serilia khawatir.

"Hanya terjebak macet sedikit tadi" Jawabnya dan mereka pun mulai memakan makan malam bersama dengan ketenangan dan hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu.

Setelah selesainya makan malam, Selena kembali membantu Ibunya membereskan piring-piring kotor, sedangkan Erick tengah membersihkan dirinya.

Mereka pun berkumpul di ruang keluar, suatu kegiatan yang biasa mereka lakukan setiap harinya setelah makan malam dan membuat keluarga itu sangat harmonis dan bahagia.

"Ibu, Ayah. Kenapa rambutku ini berbeda dari yang lainnya?" Entah sudah berapa kali Selena bertanya begitu pada orang tuanya, tapi orang tuanya selalu menjawab. "Itu adalah kelebihan yang diberikan tuhan padamu sayang, kau harus mensyukurinya." Ucap Serilia lalu mengusap surai yang selalu dipermasalahkan oleh orang-orang yang iri padanya.

"Tapi, kenapa teman-temanku bilang aku ini anak aneh?" Lirihnya.

"Karena mereka iri padamu, sayang" Bujuk Erick berusaha menjelaskan padanya agar tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan teman-temannya itu.

"Putriku, kau tak perlu mendengar perkataan orang lain, semuanya iri akan kecantikan yang kau miliki sayang, karena itu. Bahagialah atas apa yang telah kau miliki." Nasehat Serilia membuat Selena tersenyum dan mengangguk mantap.

Erick tersenyum melihat putrinya yang sudah mengerti, lalu ia kemudian teringat sesuatu yang ia dapatkan dari seorang penjual saat ia pulang tadi. Ia pun mengeluarkan sebuah kalung dari sakunya.

"Oh iya sayang, Ayah ingin memberikanmu sesuatu sebagai kado ulang tahun yang waktu itu belum ayah sempat untuk membelikannya." Ucap Erick lalu memberikannya pada Selena.

"Wah!! Cantik sekali!" Pekik
Selena kegirangan begitu melihat kalung yang ayahnya berikan, "Terima kasih Ayah! Ibu!" Tambahnya lalu mencium pipi ayahnya dan ibunya bergantian.

"Sama-sama sayang" Balas mereka berbarengan.

Sebuah kalung liotin kristal berwarna biru dengan tambahan seperti sulur yang mengikat kristal biru itu dan berkerlap-kerlip tampak sangat indah. Begitu kalung itu dipakai oleh Selena, kalung itu tampak bercahaya dan tiba-tiba cahaya itu membesar membuat Erick dan Serilia harus menutup mata mereka karena silau dan begitu cahaya itu perlahan memudar. Dan betapa terkejutnya mereka tak melihat Arella di sana.

"Selena?!!!" Pekik mereka terkejut.

"Selena?!! Di mana kau sayang?!! Selena?? Hikss.. hiks.. Erick di mana  Selena?! Kalung apa itu?... hiks" Tangis Serilia pun langsung pecah begitu tak kunjung menemukan Selena.

"Maafkan aku sayang, aku tidak tahu kalung apa itu" Ucap Erick merasa sangat bersalah sekaligus khawatir pada Selena.

The Legend Of ArchivelStories to obsess over. Discover now