Langit yang menggelap tanda akan menumpahkan rintik air yang tadinya berjatuhan dikit demi sedikit menjadi luapan air yang memenuhi ibu kota Seoul sore ini. Dari lantai dua sebuah gedung yang bisa terbilang lusuh, terlihat seorang pemuda dengan raut wajah diambang batas putus asa mengamati satu demi persatu makhluk yang berlalu lalang di bawah sana.
Macam-macam mereka yang mengatasi hujan agar tidak membasahi dirinya; normalnya menggunakan payung, tetapi tidak sedikit yang menghalau hujan dengan buku tebal ataupun tas kantor yang didalamnya mungkin saja terdapat barang elektronik yang sama sekali tidak bisa bersentuhan dengan air.
Toh, ia yang mengamati dari lantai dua tidak akan menyusahkan diri untuk memikirkan apa yang terjadi di luar sana.
Sejak beberapa jam yang lalu bahkan sebelum hujan membasahi jalanan di luar sana, otaknya masih terngiang ucapan frustasi dari Mr. Kim, selaku CEO dari Large Entertaiment.
Sepatu pantofel yang bersetuhan oleh lantai sukses menggemakan suaranya di koridor yang terbilang sunyi dan tidak cukup panjang untuk disebut koridor. Seharusnya siang hari tidak akan membuat tempat ini sepi, tapi ada daya, tidak banyak staff yang direkrut oleh Mr. Kim.
Lelaki dengan tubuh yang agak kekar dan gagah melangkah menuju sebuah pintu besi yang berada di tengah area —ruangan yang menjadi pusat di lantai dua.
Perlahan ia membuka sedikit pintu itu dan netranya menangkap pemandangan yang sudah biasa dilihatnya beberapa tahun belakangan ini. Seorang pemuda dan satu-satunya pemuda di Large Entertaiment yang menghabiskan sebagian besar waktu senggangnya di pratice room. Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti alunan musik yang mengudara di sekitar pratice room, menghayati detik demi detik pergerakan halus tapi pasti yang sudah dihafal di luar kepala, surai merahnya yang berantakan menambahkan kesan seksi yang terpancar di dalam dirinya. Lelaki yang baru saja memasuki pratice room terdiam sejenak, meresapi keseriusan yang ada pada diri seorang pemuda di hadapannya.
Merasa dirinya diperhatikan, ia dengan perlahan menghentikan tariannya dan menengok ke arah dimana lelaki yang lebih tua berpijak. Senyum langsung terpatri di bibir mungil si pemuda bersurai merah, kakinya melangkah menuju speaker yang berada di ujung ruangan untuk mematikan. "Ada apa, hyung?"
Yang ditanyai terdiam sebentar, memutar otak memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab, "Apa setelah ini kau ada acara, Jihoon?"
Pemuda yang diketahui bernama Jihoon menggeleng pelan. "Kurasa tidak, hyung. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Si surai merah menghampiri lelaki yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri dan menempatkan diri tepat di hadapannya.
"Aku kesini untuk menyampaikan kabar buruk," yang tua tanpa basa-basi melontarkan seuntai kalimat yang berhasil mendapat kerutan dari Jihoon. "Apa maksudnya, hyung?"
Daniel, lelaki gagah yang berbicara dengan Jihoon mengacak rambutnya, dirinya sedikit frustasi akan perkataan yang tadi pagi diucapkan oleh atasannya —cukup membuat Daniel tidak nafsu melahap makanan yang sudah dibelinya sebelum menuju ke Large Entertaiment.
"Mr. Kim belum memberitahumu, bukan, jika kau terancam gagal debut?"
Sedetik. Jihoon merasa dunianya seakan runtuh, apa yang sudah dibangunnya bertahun-tahun terasa tidak ada hasilnya, seluruh waktu yang digunakan untuk mencapai mimpinya seperti terbuang sia-sia. Bagaikan terlahir tanpa perjuangan melihat, mendengar, bahkan merasa sama dengan tidak ada artinya selama dia hidup.
Mata dengan berbulu lentik itu terpejam menahan air mata yang siap tumpah ketika mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir tebal Daniel, manejer pribadinya. "Large Entertaiment kekurangan dana. Kau tahu, bukan, CEO terdahulu kita mengkorupsi 80% dari pengeluaran Large Entertaiment. Agensi ini masih terbilang cukup baru, dana yang terkumpul pun tidak sama seperti agensi lainnya yang mampu mendebutkan seseorang bahkan di waktu tersulit pun seperti agensi ini." Daniel menghela nafas cukup kasar, Jihoon —yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri mengusap kelopak matanya yang berair. Daniel paham jika Jihoon terkejut dan mungkin saja hatinya terluka akan ucapannya yang seakan-akan melunturkan mimpi Jihoon. Tapi ia harus mengatakannya sekarang sebelum Jihoon semakin terlukai.
"Juga, beberapa staff disini upah kerjanya belum sampai ke tangan mereka." Termasuk Daniel yang merupakan manejer pribadi Jihoon, sejak dua bulan yang lalu ia tidak sedikit pun mendapatkan upah. Seluruh penghasilan yang masuk ke Large Entertaiment digunakan untuk menutupi kerugian yang tidak bisa dibilang sedikit.
Kaki Jihoon melemas, seakan tulang yang menompa tubuhnya mencair bagaikan es krim yang terkena paparan teriknya sinar mentari. Dengan gerakan lamban ia merendahkan tubuhnya dan membuat dirinya berjongkok menghadap kaki jenjang Daniel. Pikirannya kosong, beserta jiwanya yang perlahan menghilang diterbangkan udara dingin ruangan ini.
Sebenarnya Daniel tidak tega melihat Jihoon serapuh ini. Tapi apa yang bisa diperbuatnya selain berada di sisi Jihoon? Atasannya memang meminta tolong kepada dirinya untuk menyampaikan kabar buruk ini kepada satu-satunya trainee di Large Entertaiment, dan dia hanya perlu mengabulkan permintaan dari atasannya.
Daniel menyamakan tingginya dengan tubuh Jihoon —berjongkok. Tangannya mengelus surai Jihoon yang masih berantakan, "Tapi, Jihoon, aku yakin Mr. Kim tidak sekejam itu untuk tidak mendebutkanmu. Pasti kau bisa debut, percaya padaku!" Daniel memilih menenangkan Jihoon dari keterpurukan ini.
"Hyung..." Jihoon mengangkat kepalanya yang sedaritadi ditempelkannya di lutut.
"Hm?" Tangan lebar Daniel merapikan poni Jihoon yang terangkat ke atas menjadi di tempatkan di tempat semula, di atas dahi.
Perlahan Jihoon menarik nafasnya, menenangkan diri sebelum kembali berbicara. "Apa yang harus kulakukan untuk bisa memulai debutku?"
Jihoon merasakan bahunya ditepuk oleh seseorang, pelakunya adalah Mr. Kim, CEO Large Entertaiment yang masih bisa dibilang cukup muda daripada CEO terdahulu mereka.
Sedikit terkejut dengan kedatangan Mr. Kim, Jihoon refleks membungkukkan tubuhnya guna menghormati atasan yang saat ini sedang tersenyum menatapnya. Mr. Kim menatap raut Jihoon yang tidak bisa dibilang membaik, mungkin lebih tepatnya semakin suram.
"Apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan sampai kau repot-repot mendatangi ruanganku, Park Jihoon?" Mr. Kim yang tadinya sedang bercengkrama di kantin segera menuju ruangannya kala sang sekretaris mengabarkan jika Jihoon yang merupakan satu-satunya berlian bagi Large Entertaiment menunggu di ruangannya.
Anggukan Jihoon menjadi jawaban atas pertanyaan Mr. Kim. CEO Large Entertaiment itu mempersilahkan Jihoon menduduki sofa yang tersedia, sedangkan ia mengambil air mineral di lemari yang terletak di sudut ruangan.
Mr. Kim menempatkan diri di hadapan sofa yang Jihoon duduki setelah sebelumnya menaruh air mineral di atas meja yang memisahkan keduanya.
Keduanya terdiam, yang lebih tua menunggu si rambut merah membuka bibirnya. Ia yakin Jihoon sudah tahu mengenai kabar terburuk yang menimpa Large Entertaiment —pastinya diberitahu oleng Kang Daniel.
Nafas kasar Jihoon menyapa indra pendengar Mr. Kim sebelum ia mengeluarkan sebuah kalimat panjang yang akan merubah takdir hidupnya mulai sekarang. "Jadi begini Mr. Kim...."
•••••
"Jika ingin menyelamatkan perusahaan ini, haruskah kita segera mendebutkan Park Jihoon?" Tanyanya dengan nada frustasi, Ia memijat pangkal hidungnya, menghalau rasa pusing yang mendera sejak dua bulan yang lalu. Rasa-rasanya kepalanya seperti ingin pecah saja menjadi berkeping-keping bagian.
Yang diajak bicara menoleh menatap atasannya, penampilannya pun tidak kalah acak-acakan dengan atasannya. Hanya saja sedikit bisa dikatakan lebih normal, "tapi, bukankan kita belum memiliki cukup dana untuk mendebutkan dia?"
"Hanya dia satu-satunya harapan kita sekarang." Ujarnya pelan. Matanya menerawang ke jendela besar yang menampakkan langit penuh bintang-bintang indah yang bertebaran, bulan yang di malam ini muncul dengan gagah menambah kesan indah pada langit biru di luar sana.
"Aku tahu. Sepertinya kita membutuhan bantuan dia." Senyum kecil muncul di bibir yang memucat. Senyum yang tidak bisa diartikan baik atau buruk. Senyum yang akan membuat kesengsaraan ini menjadi kesuksesan besar yang akan mengalahkan bintang yang paling terang sekalipun.
•••••
Hai! Balik lagi dan kali ini muncul bawa work baru. Sekaligus rebranding jadi yourluvpw. Hihi. Gimana uname barunya? Mantap?😊
Work kali ini kolaborasi sama flawsun, semoga pada suka yaaa😘
Ditunggu vommentnya. Ehehe.🤗
Fast update jangan?👀
YOU ARE READING
IDOL ; lgl - pjh
FanfictionPark Jihoon terancam gagal debut, dapatkah ia meraih mimpinya kembali? ⚠bxb read at your own risk.🔞 ( 라이관린 & 박지훈 ) 'panwink fanfic. 'one shoot. a fanfiction by cecil & flawsun. enjoy.
