Sedalam apapun aku mengubur kenangan tentang kita,Sekuat apapun aku mencoba untuk melupakannya. Namun mengapa tak sedikitpun aku bisa menghapus jejaknya.
Kini aku terdiam sendiri di tengah malam yang sunyi.
Kupandangi beribu bintang dan bulan dilangit. Seolah hati terasa sunyi, kutatap sebuah foto yang tertera diponselku. Senyum cerah terukir dibibirku kala aku melihat foto itu.
Sejauh mungkin aku memandang kelangit. Hanya bulan yang bisa menerangiku. Sunyi kini terasa di hatiku, kupejamkan mataku dan kurasakan betapa sunyinya hatiku.
"Tidak semua bintang bisa terlihat, tapi bulan akan selalu terlihat" hanya kata itu yang kuingat saat ini.
Senyum mengembang dibibirku, dan kurasakan kehangatan menyapu hatiku. Getaran itu masih terasa saat aku mengucap namanya.
Aku berjalan menuju kamar dan kurebahkan tubuhku diatas kasur.
Terlintas kembali di memoriku saat siang tadi tak sengaja bertemu dengannya, di taman yang dulu kita menghabiskan waktu bersama.
Aku tak sengaja menabraknya saat aku telah tergesa karena hujan turun. Tak sengaja ku peluk dirinya saat aku akan terjatuh karna menabraknya.
perlahan kuanggkat kepalaku dan betapa terkejutnya aku, saat aku melihat kedua mata hitam itu. Aku terdiam dan membisu saat itu. Rintikan hujan mulai turun membasahi bajuku.
"Maaf" hanya kata itu yang mampu kuucapkan saat ku sadar ternyata yang kutabrak itu dirinya. Senyum itu tak pernah berubah, walau sekian lama aku tak melihatnya.
Berlahan dia menggenggam tanganku, dan membawaku berteduh di bawah sebuah rumah kecil yang menghadap ke danau. Genggaman tangan itu masih hangat, masih seperti saat dulu.
Kuberanikan diri menatap dua mata itu. Tersirat kebahagiaan di kedua mata itu. Ku beranikan diriku membuka suara. " hai" hanya kata itu yg bisa keluar dari dalam mulutku.
Hanya senyum itu yang kembali dia berikan untuk menjawab sapaanku. Dan entah mengapa hati ini kembali bergetar . Aku merasa canggung berada didekatnya.
Dan dari situ aku baru menyadari, bahwa dia tidak pernah berubah. Masih irit dalam bicara. hanya bicara kalau memang perlu di bicarakan.
Kesunyian mulai menerpa kita berdua. Kulihat dia memperhatikanku, tatapan itu masih sama seperti yang dulu, hangat dan penuh ketulusan . Debaran jantungku mulai tk bisa terkendalikan.
Aku masih terdiam dan membisu. "Boleh meminta nomer ponselmu?" Setelah sekian lama terdiam, dia mulai berbicara dan kata itu yang tiba - tiba dia ucapkan kepadaku. Dan setelah aku memberikan nomer ponselku, tanpa banyak kata dia mulai berpamitan untuk pergi karna ada urusan yg harus diurus.
Dalam hati aku bingung, kenapa dia bisa berada disini, dan untuk apa dia disini. Perlahan ku langkahkan kakiku untuk pulang kerumah.
Ku hembuskan nafasku sesaat teringat kejadian itu.
Sungguh hati ini masih merindukan sosok itu.
Mungkinkan dia juga merasakan perasaan yang sama sepertiku.
Entahlah...
Kupejamkan mataku sesaat, dan ku coba tenangkan debaran jantungku saat ku melihat namanya tertulis di layar ponselku.
Di lain sisi, aku senang melihat namanya kembali tertera di ponselku. disisi lain, aku takut kecewa akan harapan yang terlalu besar kepadanya.
Ku yakinkan hatiku untuk tidak gugup saat aku menggeser tombol hijau diponselku.
"Hallo" kudengar suara di seberang sana.
YOU ARE READING
Sunrise
RomanceSunrise mengingatkanku pada sosok dirimu dalam hidupku. Sinarnya begitu indah menyinari bumi, Seperti dirimu yang slalu menyinari diriku dari kegelapan. Aku tidak tahu rasa ini bisa sedalam ini. aku tidak pernah menyangka akan jatuh cinta sedalam i...
