(1) Siswa Baru

263 33 24
                                        

Suasana kelas yang semula riuh, kini berubah sunyi saat Guru Kang menata langkahnya ke belakang meja guru. Wanita yang usianya hampir menyentuh kepala empat itu menatap satu persatu siswa dari balik kacamata berlensa tebal. Sebenarnya Guru Kang itu baik, hanya saja ia tidak suka jika ada suara lain ketika dia bicara, jadi semua siswa pasti akan langsung tutup mulut tiap ia datang.

Setelah dirasa kondusif, Guru Kang menyapa siswanya, "Selamat pagi, Anak-anak. Sebelum kita memulai pelajaran, aku ingin memperkenalkan anggota baru kelas ini kepada kalian."

Sebagian siswa berbisik-bisik dengan orang di sebelahnya, sementara yang lain menjulurkan leher ke arah jendela supaya bisa melihat penampakan anggota baru yang dimaksud. Melihat siswa-siswanya mulai tidak terkendali, Guru Kang memukul-mukul meja untuk mendapatkan perhatian.

"Jangan berisik. Berikan kesan pertama yang baik untuk teman baru kalian," ujarnya. Ia menoleh ke pintu kelas lalu mengangguk, memberi tanda kepada sang siswa baru untuk masuk.

Selama beberapa detik, tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang memasuki kelas. Pada detik kesepuluh barulah nampak seorang remaja laki-laki berjalan masuk dan mengambil seluruh atensi dengan perawakannya yang tinggi serta kulit putih pucat yang sangat kontras dengan rambut hitam jelaga yang dimiliki. Rambut bagian depannya cukup panjang dan sedikit bergelombang, dibiarkan hingga hampir menutupi mata. Tulang hidungnya tinggi, bibirnya tipis kemerahan. Para siswa menganggap presensinya sangat menarik, jika saja si siswa baru mau mengangkat kepala dan menatap mereka. Tapi nyatanya, laki-laki itu memilih terus menundukkan kepala.

"Jeon Jungkook."

Sudah.

Hanya itu.

Tidak ada perkenalan diri dengan senyum ramah atau pun penjelasan mengenai dari mana asalnya. Pemuda yang biasa dipanggil Jungkook itu enggan memberi informasi tentang dirinya selain nama. Bahkan baginya itu sudah terlalu banyak. Akan lebih baik jika di sekolah tidak ada yang mengenalnya sama sekali. Tapi, Ibu Yoora sudah mewanti-wantinya supaya mau mencoba bergaul di sekolah baru, jadi ia terpaksa memberitahu namanya.

"Itu saja?" tanya Guru Kang setelah melewati waktu tiga menit dalam keheningan. "Kau tidak mau memberitahu mereka dari mana asalmu? Atau hobimu?" Guru Kang mencoba mengulik informasi anak didik barunya.

Bukannya menjawab, Jungkook malah diam saja. Pandangannya terarah pada lantai, tangannya mencengkeram tali ransel yang terjulur di samping badan. Biasanya siswa baru tidak akan keberatan jika ditanya tempat asal dan hobinya karena itu masih pertanyaan umum, bukan benar-benar privasi, tapi Jungkook tidak mau membagi secuil pun informasi tentang dirinya.

Guru Kang menghela napas lalu memasang senyum, mencoba memahami. Ia beralih pada siswa-siswanya, "Baiklah kalau begitu, nanti kalian bisa bertanya pada Jungkook di jam istirahat. Jungkook, silakan duduk di samping Jung Hera." Jarinya menunjuk sebuah bangku.

Akhirnya kepala Jungkook terangkat untuk mencari tempat duduk. Mata bulatnya mengedar kemudian menemukan seorang gadis melambaikan tangan padanya dengan senyum lebar di bibir. Pandangan Jungkook terarah ke bangku di samping gadis itu. Satu-satunya tempat yang tidak punya pemilik. Ia pun melangkah ke barisan belakang dan menempati bangku di dekat jendela. Sempurna, pikir Jungkook. Dari sini ia bisa melihat langit beserta awan berarak pelan sekaligus bisa menyudutkan diri dari yang lain. Dua hal yang paling ia sukai di dunia ini.

"Hai." Gadis dengan rambut diikat satu bagai ekor kuda berbisik dari bangku sebelah. "Salam kenal, Jungkook, aku Hera."

Jungkook hanya melirik dari sudut mata lalu sibuk mengeluarkan buku dari tas tanpa membalas sapaannya.

Kening Hera mengerut bingung. Kenapa Jungkook tidak meresponnya? Apa suaranya tidak terdengar? Bibirnya terbuka untuk bicara lagi, namun niat itu urung ketika Guru Kang mulai menjelaskan materi di depan kelas.

HIRAETHWhere stories live. Discover now