Gadis tersebut masih menatap nanar bangunan di hadapannya. Sebuah kastil tua nan megah perlahan-lahan terkubur dalam tanah. Ia bisa merasakan kekuatan dahsyat yang menyegel kastil tersebut. Sehingga orang yang berada di dalam sana tidak bisa keluar dan tertanam di dalam tanah.
Netranya terasa panas. Terlihat jelas sklera gadis itu berkaca-kaca Menandakan ia menahan lelehan air mata yang hendak turun. Dengan tangan terkepal, ia masih melihat jelas detik demi menit istana penguasa vampir tertimbun butala.
Ia menoleh ke sekeliling. Yang ia temukan hanya dua orang manusia saling memeluk dan bertahan diri. Juga seorang lelaki tertunduk lemas dengan kedua tangan mencengkeram tanah. Terlihat jelas raut frustrasi, kecewa dan kekesalan campur aduk dalam dirinya. Selebihnya hanya pohon-pohon yang menjulang tinggi menuju langit luas. Ia tak dapat menemukan sang Paman. Orang yang beberapa waktu lalu ia cari keberadaannya.
Tunggu ....,
Gadis pemakai sweter rajut itu langsung menoleh ke arah bangunan yang hampir tertutup oleh tanah. Matanya terbelalak tak percaya saat ia mengetahui seliut sosok yang sangat dikenalnya. Terlihat jelas bayangan lelaki itu melambaikan tangannya dan mengucapkan selamat tinggal dengan gerakan bibir sebelum semuanya rata dengan tanah.
Ia ingin mendekat, namun sayang kakinya tak dapat digerakkan. Rasanya ada yang memegangi dirinya. Semakin ia berontak, tambah kuat cengkeraman di tubuh gadis mungil tersebut. Ia tak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya luluh seketika terjatuh di atas tanah. Mengisahkan air mata yang membasahi kedua pipi.
Ia kecewa, benci, dan marah. Tak seharusnya paman mengorbankan dirinya untuknya. Dirinya begitu bodoh. Selalu tak memperhatikan ucapan pamannya. Padahal sejak ia kecil sang paman sudah mengajari berbagai kekuatan. Namun, ia menolak itu semua. Dan inilah akibatnya. Ia harus rela kehilangan sosok yang menemani perjalanan hidupnya selama ini.
Bodoh!
Ia masih menyalahkan diri sendiri. Butiran air mata terjatuh menyentuh punggung jatuh menjadi sebuah mutiara yang berkilau. Ia tak peduli seberapa banyak yang keluar. Yang terpenting ia bisa menyelamatkan sang paman. Akan tetapi ia lupa semakin banyak air mata yang keluar, maka berkuranglah kekuatannya.
“Nazifa ....,”
Gadis itu mendongak. Gendang telinganya mendengar suara yang sangat ia kenal. Kepalanya berputar ke segala arah. Netranya tak luput menelisik sekeliling. Ia tak mungkin salah menangkap bunyi tersebut. Seseorang telah memanggil namanya.
“Nazifa ....,”
Terdengar lagi. Akan tetapi ia tak dapat menemukan asal suara tersebut. Dua pasang manusia dan lelaki sepantarannya itu masih dalam dunia mereka sendiri. Ia tak ambil pusing. Sebab yang ia cari adalah bunyi tersebut.
“Jangan pernah menyalahkan dirimu atas semua kejadian ini. Apa yang Paman lakukan adalah hal terbaik untuk keselamatan kita semua.”
Ia tertegun. Ucapan Paman Cody terdengar seperti bisikan di telinganya. Namun sosok kerdil tersebut tak ada di sekitarnya.
“Paman akan selalu berada di sisimu. Sebab tempat Paman di sini. Di bawah tanah.”
Gadis itu mengangguk ragu. Ia terdiam sejenak. Menatap sekeliling hutan yang terlihat menyeramkan. Matahari sudah berlalu. Kegelapan menyelimuti sebagian Bumi. Ia memberanikan menatap langit yang berhias gugusan bintang. Mencerna kembali semua peristiwa yang telah ia lewati. Sampai detik ini, ia tak menyangka. Kalau dirinya berbeda dengan manusia pada umumnya.
Semua berawal dari pertemanannya dengan sang Paman. Pada akhirnya ia harus berpisah dengan sosok tersebut.
“Paman Cody, terima kasih.”
YOU ARE READING
Nazifa
FantasyPerjalanan seorang gadis yang hanya berteman dengan makhluk kerdil bernama Paman Cody. Perjalanan apakah yang dimaksud? Dan, siapakah Paman Cody ini? Yuk, ikuti ceritanya!
