Azof~Nala

377 54 3
                                                  

Langit senja memancarkan warna keemasan, menyilaukan mata Nala yang sedang pulang kantor melawan matahari. Matanya menyipit mencoba menajamkan penglihatan, kakinya seketika menginjak pedal rem saat sebuah motor melintas cepat di depannya.

"Astaga." Pekik Nala seraya mengelus dadanya.

Buru-buru dia keluar mobil mengecek pengendara motor yang hampir dia tabrak.

"Mas nggak apa? Sorry ya." Ucap Nala dengan tampang memelas pada si pengendara motor yang kini motornya masuk ke trotoar. Untungnya nggak sampai nyungsep.

"Nggak apa mba, saya juga yang sembarangan nyebrang soalnya buru-buru mau ketemu calon istri." Ucap si pengendara tanpa membuka helm fullfacenya lalu melesat pergi.

Nala melongo di tempat, ternyata wajah memelasnya terbuang sia-sia. Dia menghentakkan kakinya sebal karena kelakuan si pengendara motor yang menyebalkan. Jadi inget Azof kalau gini, pikir Nala dengan wajah makin muram.

"Sial!"

Nala kembali mengendarai mobilnya pelan-pelan menuju rumahnya. Setibanya di halaman depan rumahnya kening Nala mengkerut melihat motor yang hampir dia tabrak sudah nangkring di sana.

"Assalamu'alaikum Mom." Seru Nala saat masuk rumah, tapi rumahnya terlihat sepi.

"Mom." Seru Nala lagi.

"Ya ampun anak mommy kok teriak-teriak."

"Habis mommy kupanggil nggak nyahut-nyahut salam Nala."

"Mom sama daddy baru di belakang, ada tamu."

"Iya tuh motor siapa mom?"

"Kamu lihat sendiri aja pasti kamu seneng."

Nala yang penasaran langsung melangkah lebar menuju halaman belakang. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok pria tinggi menjulang memunggunginya. Saat pria itu menoleh, Nala seketika menahan nafas. Hatinya berteriak 'Oh my God!'.

Nala lari menghambur memeluk Azof hingga Azof hampir jatuh terjengkang karena dia tak siap. Nala memukul Azof bertubi-tubi karena membuatnya hampir mati jantungan hampir menabrak orang dan dongkol karena tadi Azof seolah tak mengenalnya. Azof tak mencoba menghindar dari pukulan Nala, dia malah tersenyum lalu memeluk Nala erat. Dia ingin menyalurkan rasa rindunya yang menumpuk berbulan-bulan ini bahkan hampir setahun ini.

Mata Nala sudah berkaca-kaca, dia teramat rindu pria di pelukannya saat ini. Tak mudah saat harus menjalani hubungan jarak jauh. Untungnya Azof termasuk pria yang yang tak pernah lalai mengabarinya.

"Hei, aku pulang kenapa malah nangis."

"Ya gimana nggak nangis, aku kangen!"

Azof kembali terkekeh, pacarnya ini memang teramat manja. Tapi dia menyukainya, walaupun manja tapi Nala tak pernah mengeluh hingga bisa dibilang mereka tak pernah bertengkar walaupun mereka LDR. Azof harus meneruskan sekolah spesialisnya di luar negeri jadi terpaksa mereka harus berhubungan jarak jauh.

"Pulang kapan? Kenapa nggak bilang?" Tanya Nala seraya mengusap air matanya.

Azof membantu mengusap pipi Nala yang basah karena air mata.

"Kan mau bikin surprise."

Kali ini Nala benar-benar kaget karena tadi siang Azof bilang mau pulang bulan depan. Tapi sekarang Azof ada di hadapannya.

"Libur berapa hari?"

"Rahasia, yang penting sayangku seneng."

"Cepet bilang!"

"Satu minggu." Ucap Azof, mata Nala seketika meredup. Satu minggu yang berarti hanya beberapa hari waktu untuk bersamanya.

Azof tahu wanitanya sedih, dikecupnya bibir Nala yang mengerucut.

Proposal AzofTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang