0.1

8 0 0
                                        


﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋
Catatan kecil terletak pada bagian bawah cerita

﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋

Dentingan musik memecah kesunyian malam. Terlihat seorang gadis mungil tengah menari dengan indahnya. Ia adalah Jung Raihana, gadis mungil yang telah terjun ke dalam dunia entertainment bertahun-tahun lamanya. Ayahnya adalah seorang Ceo agensi terkenal di Korea. Ibunya telah meninggalkannya di saat ia masih balita.

Seolah tak mempedulikan waktu ia terus berusaha mempelajari sebuah koreografi baru. Surai coklatnya bagai menari mengikuti irama. Peluh yang membasahi dahinya sudah tak ia hiraukan. Manik hitamnya seolah bersembunyi didalam kelopaknya.

***

Malam berganti pagi, bulan turun tergantikan oleh sang surya. Gadis itu berlari perlahan menuju sebuah halte.

'Sial.'
Batin gadis itu. Ia hanya berharap agar ia tidak tertinggal bus atau yah-- dia akan berlari ke sekolah. Entah ia sedang beruntung atau bagaimana tetapi bus masih terparkir di dekat halte.

'Baguslah, setidaknya Ssaem¹ Nam tidak memarahiku lagi.'
Begitu batin Rain. Namun, keberuntungan tak selalu berpihak padanya. Andai saja tubuh jangkung itu tidak menabraknya mungkin saja ia akan tepat waktu.

'bruk!'

Rain kehilangan keseimbangannya akibat tubuh jangkung itu. Ya, sosok itu adalah Park Jae Lie. Musuh bebuyutan Rain selama 2 tahun berturut-turut. Sialnya lagi ia adalah teman sebangku Rain.

"Ughh! apa kau tidak punya mata huh!?" Rain berusaha bangun dari duduknya. Namun, dengan perasaan tidak bersalah Jae malah meninggalkannya di lorong.

"H-hey! bedebah sialan! tunggu aku bodoh!" Rain berusaha berlari menuju kelasnya. Namun, dengan segala kesialannya ia malah terlambat masuk kelas. Dan seperti biasa ia akan mendapat omelan menyebalkan dari Ssaem Nam.

'Argh! Aku mengakui ketampanan wajahnya. Namun, mulutnya yang seperti Yeoja² itu membuatku ingin sekali menutup mulutnya.' Rain terus saja menggerutu. Sedikit melamun dan  sedikit memajukan bibir mungilnya. Tanpa ia sadari sepasang mata tengah mengintai keberadaannya.

***

Kau tau? Jam istirahat adalah waktu paling menyenangkan bukan? Kau dapat mengistirahatkan tubuhmu sejenak sambil menyantap bekalmu. Yah, jika kau adalah anak rajin mungkin saja kau akan berlari secepat kilat menuju perpustakaan sekolah. Pftt dasar kutu buku.

"Rain..."

"Rain?"

"Jung Raihana! Yak! Apa yang sedang kau pikirkan huh?!" Teriakan yang sangat menusuk telinga itu berhasil membuat anak itu membuang segala kekesalannya.

"Huwaaaaa! Nde! Maafkan Aku Jina!"
Ya, tentu saja gadis itu terkejut. Bahkan, Ia hampir saja terjatuh dari bangkunya.

"Ck, menyusahkan sekali. Apa yang sedang kau pikirkan huh? Kau tidak ingin bercerita padaku?" Jina sedikit memajukan bibir mungilnya. Namun, reaksi Raihana terhadapnya malah membuatnya semakin kesal.

"Bwahahaha, Apa yang sedang kau lakukan? Memajukan bibirmu? Kau bahkan terlihat seperti bebek." Raihana berusaha menirukan eskpresi Jina. Ia bahkan bertingkah layaknya seekor bebek.

"Hentikan itu bodoh! Itu tidak lucu!" Jina berusaha menghentikan tingkah Raihana. Namun, Ia bahkan tidak dapat mebghentikan Raihana sedikitpun. Hingga sebuah suara berhasil membuat mereka terdiam.

"Raihana, temui aku di kantin saat jam istirahat berlangsung."

.

.

.

.

.

♡ :: Jung Raihana ༉ ゚

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


♡ :: Jung Raihana ༉ ゚








﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋

Note: ₊˚.༄

□ Ssaem¹: sebutan untuk Guru dalam bahasa korea

□ Yeoja²: sebutan untuk perempuan dalam bahasa korea

﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋﹋

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 12, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Hujan Dan PelangiStories to obsess over. Discover now