1

97 20 6
                                        

Nadine POV

Aku tidak tahu akan secepat ini. Akhirnya waktu ini datang juga, waktu yang sebenarnya tidak pernah ku harapkan untuk datang. Apa yang harus aku lakukan setelah ini?

“maafkan aku”

“tidak apa-apa”

“sungguh maafkan aku”

“aku sudah tahu akan seperti ini, jadi tidak apa-apa”

“tolong untuk baik-baik saja”

“harusnya aku yang berkata seperti itu”

“terima kasih, terima kasih untuk selama ini”

“sudahlah, itu hanya akan membuatku sulit”

“maafkan aku”

“pergilah, tapi tolong jangan pernah lupakan aku dan kenangan yang pernah kita buat bersama. Kembalilah padaku, saat kamu mulai menyadari bahwa apa yang kamu perbuat itu salah. Ada dan akan selalu ada, tempat untukmu kembali”

Tanpa menjawab permintaanku, James memeluk ku. Erat sangat erat, ia menumpahkan semua air matanya dibahu sempitku, aku bisa merasakan getaran tubuhnya saat menangis dan aku juga bisa merasakan baju ku basah dibagian bahu akibat air matanya. Lalu apa yang aku lakukan? Aku hanya diam, kaku tak mampu membalas pelukannya.

“pergilah”

Aku mendorong tubuhnya dari pelukanku dan bergegas masuk kedalam rumahku, menutup pintu dan bersandar dibalik pintunya. Perlahan tubuhku mulai merosot kebahwah, meringkuk ku memeluk lutut ku sendiri. Ku tumpahkan semua air mata yang sedari tadi ku tahan. Bohong jika ku berkata bahwa aku baik-baik saja, semenjak 4 bulan lalu, semenjak kejadian yang tak pernah ku harapkan hadir dalam hubunganku dengan James yang kemudian membuatku harus melepaskannya saat ini.

Kejadian 4 bulan lalu yang membuat ku harus berpura-pura untuk meyakinkan diri bahwa akulah satu-satunya wanita yang dicintainya dan mengganggap bahwa James adalah laki-laki yang paling mencintaiku dan tak pernah meninggalkan ku apapun yang terjadi sesuai dengan janjinya 2 tahun lalu, tepat saat pertama kali kami memutuskan untuk menjalin hubungan.

Ya, aku menyimpan semuanya selama 4 bulan. Sendiri. Awalnya ku pikir dia hanya sedang membuat kesalahan, tapi dia terus mengulanginya dan aku terus menggap bahwa tidak pernah terjadi apa-apa. Bukan, bukan karena ku bodoh. Tapi karena ku percaya bahwa jauh di dalam hatinya James hanya mencintaiku, dan bahwa ku percaya bahwa James adalah laki-laki yang tak akan pernah mengingkari janjinya.

-flashback-

“sayang nanti aku ada janji sama temen aku, jadi kayaknya aku gak bisa nganterin kamu ke rumah ibu deh”

“kok mendadak James? ”

“iya, maaf sayang. Ini temen aku baru ngabarin kalau dia udah sampe di Philippine dan aku udah janji sama dia akan nemuin kalau dia udah sampe”

“temen kamu siapa?”

James hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku.

“kok cuma senyum, gak mau ngasih tau? Yaudah”

“gak apa-apa, aku cuma seneng aja kamu nanya begitu”

“kok seneng? ”

“iya itu tandanya kamu cemburu”

James langsung memeluk dan mencium keningku.

“ihh apaan sih, siapa juga yang cemburu. Kan aku cuma nanya”

Jawabku sambil mendorong tubuhnya dari pelukanku.

“kamu tuh gak biasanya nanya-nanya dengan siapa aku pergi”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 17, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Promise. Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang