Seorang gadis dengan rambut hitam yang dikucir satu ke belakang sedari tadi mondar-mandir di depan kelas 11 ipa 2. Jam di tangan kirinya terus menjadi sasaran matanya sambil melihat ke arah sekitar.
Namanya Zea. Bukan nama jamnya. Tapi nama yang lagi pake jam. Sudah hampir 15 menit Zea menunggu seseorang. Dari yang tadinya anteng, omelan-omelan pun mulai keluar satu persatu dari bibir mungilnya. Alzi, nama oknum yang telah membuat 900 detik Zea terasa hambar. Alzi adalah pacar Zea, begitu juga sebaliknya.
"Itu anak kemana sih? kesiangan? belom ngerjain PR? ada ulangan? atau emang pengen bolos?" Zea selalu saja berpikir yang enggak-enggak tentang Alzi.
"Ze, ngapain di sini?" seseorang menepuk pundak Zea, yaitu Odit. Sahabat setia Alzi.
"Alzi mana ya?"
"Sakit katanya"
"Panu? Kutil? Ambeien? Sembelit?" Zea terus mengintrogasi Odit.
"Pacar sakit, sempet ya ngelawak" Odit heran.
"Sakit apa?"
"DB kayaknya"
"Orang semalem telponan sama gue sampe jam 10" Zea semakin ribet.
"Kayak gak tahu Alzi aja lo, dia mah kalo ketemu yang namanya penyakit. Gak pernah direspon sama dia. Dicuekin sama dia. Orang tadi pagi aja tetep mau berangkat sekolah, tapi dilarang mamanya" jelas Odit panjang lebar.
"Emang ngeyelan itu bocah, heran gue"
"Kayak lo"
"Namanya juga sehati hahaha" Zea PD.
"Serah lo Ze" Odit menyerah berdebat dengan Zea.
Setelah mendengar penjelasan Odit, Zea semakin yakin kalau dari tadi malam Alzi gak minum obat sama sekali. Hanya menghabiskan malamnya dengan bertelpon dengan Zea. Padahal yang dibahas bukanlah hal yang sangat penting. Hanya perdebatan kecil yang tak kunjung usai.
Mereka berdua bukanlah pasangan yang setiap detik saling mengucap I LOVE YOU. Bahkan tidak pernah terselip kata-kata romantis satupun dari obrolan mereka. Sekarang Zea merasa bersalah karena Alzi sakit.
Zea harus melihat keadaan Alzi. Bagaimanapun mereka selalu berdebat setiap waktu, tapi mereka saling menyayangi. Dia ingin memastikan laki-laki yang setiap hari membuat dia jengkel masih bernapas. Hanya itu!. Zea juga sebenarnya rindu dengan wajah Alzi yang bisa dibilang tampan.
"Assalamualaikum, Alzi!!" ucap Zea tanpa basa-basi sambil membuka pintu ruangan Alzi dirawat. Zea tahu dimana Alzi dirawat dari mamanya Alzi. Mereka sudah seperti menantu dan mertua.
"Waalaikumsalam, Zea!!!" jawab seorang wanita berjilbab merah muda sambil kemudian memeluk Zea. Iya mamanya Alzi.
"Aaaa tante kangen" Zea membalas pelukan mama Alzi.
"Yang sakit siapa? yang dipeluk siapa?" sindir laki-laki tampan yang menurut Zea sangat menyebalkan tapi kadang membuat Zea tidak bisa tidur karena rindu. Alzi, pacarnya.
"Kenapa kamu?" tanya Zea langsung.
"Kenapa gimana?" tanya Alzi balik.
"Sakit kenapa?" Zea melanjutkan interogasinya.
"Siapa yang sakit?" Alzi terus memancing pertanyaan juga.
"Kamu"
"Enggak, siapa yang bilang?"
"Gak sakit nih? Ya udah tante Zea mau pulang" Zea sambil pura-pura akan pulang.
"Kenapa kamu?" Alzi balik tanya.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa disini?"
"Gak suka?" Zea mulai kesal.
"Suka" Alzi lirih.
"Kok jadi ribut sih?"
"Kamu yang mulai"
"Enggak, kamu"
"Kamu"
Baru aja ketemu, perang dunia ke 3 udah mulai. Mereka berdua tetap sama. Keduanya keras kepala. Kata orang, pasangan itu saling melengkapi. Yang satu pendiem yang satu pasti tidak. Tapi itu semua tidak ada dalam kamus mereka.
Alzi dan Zea tetap sama. Ego menjadi prioritas utama mereka. Kadang, hanya untuk mengucap kata maaf mereka harus pikir-pikir dahulu selama seminggu lebih.
"Kalian ini, setiap ketemu pasti berantem. Kalau jauh pada kangen kan?" mama Alzi heran terhadap ulah Alzi dan Zea.
"Enggak" jawab Zea.
"Iya" jawab Alzi.
"Beneran?" Alzi menanyai Zea.
"Iya"
"oh" hanya dua huruf yang keluar dari mulut Alzi.
"Marah?"
"Iya"
"Kangenlah"
"oh"
