SEBUAH AWAL

19 4 0
                                        

Seperti senja itu , aldera hanya terdiam menatap langit keemasaan yang slalu terasa indah. Walau ia tau setelah senja menghilang, gelapnya malam lah yang akan senantiasa menemani di kegundahan dan kesedihannya.

Bulir air mata seperti tak mau berhenti mengguyur deras di pipinya, terus mencoba menata ulang hati dan meratapi kesepian yang tiada akhir. Suara gemerisik air sungai tak jua mengganggu lamunan panjangnya.

Sayup sayup terdengar derap langkah, langkah seseorang yang berlari seperti sedang terburu . tak lama disusul dengan suara bass khas milik kakak tersayang nya.

"huhhh,, ternyata kau disini der.. tak tau kah seberapa khawatir nya kakak mu ini hah ?" kesal sang kakak.

Aldera tersenyum seraya menghapus air mata nya , beginilah sang kakak slalu terasa lucu jika sedang mencemaskannya.

"kak, aku hanya sedang menikmati senja kesukaan ku" jawab dera sekenanya.

Sang kakak tersenyum dan melangkah maju menggenggam tangan sang adik kesayangan.

"dan slalu ingat kak, aku sudah besar . kakak tak perlu terlalu mencemaskan ku"

Sang kakak hanya tersenyum mendengar gerutuan aldera, mereka pun melangkah pergi menuju rumah.

Aldera selalu senang jika sang kakak ada di rumah, setidaknya walau hanya sebentar. Karna hanya dengan kehadiran sang kakak keluarga ini baru terasa seperti keluarga yang sesungguhnya.

Setiap hari sang ibu dan ayah hanya bertengkar tiada hentinya. Mereka seakan tidak perduli dengan kehadiran aldera di rumah itu, sampai terkadang terlintas di fikirannya bahwa ia bukan anak kedua orang tua nya.

Suasana seperti itu salalu aldera rasakan setiap hari, namun semua nya seakan tidak pernah terjadi jika sang kakak berada di rumah. Ayah dan ibu terlihat harmonis dan saling mencintai , mereka pun sangat lembut dan perhatian pada Aldera.

Aldera slalu berharap sang kakak berada lama di rumah, namun karna pekerjaan nya yang sebagai sekertaris di perusahaan besar. Mengharuskan kakak untuk menyewa apartement di dekat perusaannya.

Bahkan terkadang aldera merengek kepada sang kakak agar sang kakak mau mengizinkan nya tinggal bersama. Namun slalu ditolak keras oleh sang kakak.

Kakak slalu berkata jika aku ikut dengan nya ibu dan ayah akan sangat kesepian. Begitulah ingatan aldera melayang kemana mana.

"kakak, bisakah kakak di rumah lebih lama lagi. Ini baru setengah hari kakak di rumah, dan sudah ingin pergi lagi" gerutu aldera terus menerus.

Sang kakak tersenyum seraya mengelus rambut panjang aldera.

"kakak mu ini sangat sibuk saying" jawab fallan lemah.

Ia sangat tau jika adik nya sangat kesepian , ia pun sangat ingin slalu berada di sisinya seperti saat ini. Namun pekerjaan kantor tak bisa ia tinggalkan begitu saja. Jika ia ingin membawa aldera bersama nya, ia benar benar tak bisa. Terlalu rumit untuk dikatakan, sungguh sungguh tak bisa.

"adikku dengar, kakak sangat menyayangimu. Kakak sangat ingin bersama dengan mu dan kedua orang tua kita namun apa daya jika keadaannya memang tidak bisa sayang kakak tau kau gadis yang kuat"

Seperti tercubit rasanya , begitulah fallan selalu mengeluarkan kata kata manis yang terasa pahit untuk aldera. Sedang aldera hanya bisa tersenyum kecut mendengar penuturan sang kakak.

****

Pagi yang sama seperti biasanya , bukan suara kicauan burung yang menemani pagi nya. Namun suara pertengkaran kedua orang tua nya, ya fallan sudah kembali ke apartement nya sendiri.

FIRST LOVE AlDERAStories to obsess over. Discover now