"Apa yang kau lakukan itu, adalah tindakan yang bodoh. Mengorbankan diri sendiri hanya untuk melindungi kedua bocah ingusan yang tidak bisa apa-apa."
"Kau tahu apa? Hanya mereka keluarga yang kupunya. Kau tidak berhak untuk melarangku."
"Tentu saja...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
•••
Sinar itu sangat menyilaukan sampai-sampai bisa membuat sang empunya terbangun. Dia mengedip beberapa kali untuk membiasakan cahaya tersebut masuk ke penglihatannya. Sangat terang. Dia terbagun dari tidurnya yang menurutnya, sangat lama..
Bau-bau obatan yang menyengat menyeruak masuk ke indra penciumannya. Dia sedikit membencinya. Dia bukannya tidak suka, tapi, kenapa bisa dia berada di ruangan ini.
Ruangan rawat inap.
Penglihatan yang pertama kali Dia lihat adalah sesosok orang. Wajahnya tak terlalu jelas karena dia berdiri tepat didepan wajahnya atau memang, Dia belum sepenuhnya sadar?
Ah masa bodo.
Dia ingin mencoba bangun. Dia bersangga pada besi tempat tidurnya. Sebelum Dia terduduk, sesosok yang didepannya langsung memegang kedua tangannya. Dilepasnya perlahan tangan tersebut, lalu digenggamnya lembut. Sosok itu mencium punggung tangan sang empunya. Dilihatnya, bulir air matanya mulai turun perlahan.
"Syukurlah... syukurlah.."
Ucapnya di sela tangisnya.
Dia yang hanya terduduk, menatap kosong sosok yang didepannya ini, hanya bisa memasang tampang bingung sambil bertanya di dalam pikirannya sendiri.
"Kau... siapa..?"
Itulah kata pertama yang terucap dari bibirnya. Sosok yang didepannya sedikit terkejut awalnya. Tapi, ekspresinya berubah. Sosok itu memasang senyum lembut di wajahnya, lalu menggeleng pelan.
"Tidak, kamu tidak perlu tahu. Yang terpenting, kamu sudah sadar...
Ichiro."
Ichiro, iya. Namanya Ichiro. Ichiro Yamada.
Ichiro pun kembali memasang tampang bingungnya. Dia melihat sekitar.
Tembok putih.
Obat-obatan di sisi kanan dan kiri yang tergeletak manis di meja nakas.
Orang-orang yang berlalu lalang di koridor. Semuanya memakai baju putih kecuali para pasien.
"Hei.. Kenapa aku disini..?"
Dilepasnya perlahan genggaman sosok tersebut. Ichiro masih ditandai tanda tanya kenapa dia bisa berada disini. Dan lagi, siapa yang berada didepannya ini? Ichiro saja tidak mengingat kejadian yang menimpanya hingga bisa berada disini.
Dia pun memegang erat kepalanya. Menarik rambutnya, mencoba memikirkan apa yang baru saja terjadi. Kenapa dia tidak bisa mengingatnya?!
"Khh.. sialan.." rintihnya pelan.
Sosok yang didepannya langsung menarik cengkraman Ichiro dari kepalanya. Dia mencoba membuatnya tenang. Ichiro kembali menatap sosok yang didepannya ini. Tapi tatapannya beralih ke menjadi sebuah ketakutan.
Ichiro tidak mengenalnya. Kenapa dia bisa berada disini?! Apa yang terjadi?! Masih banyak lagi pertanyaan yang datang secara bertubi-tubi.
Ichiro menunduk. Tatapannya kembali kosong. Dia menarik kedua kakinya, lalu memeluknya. Ichiro mencoba tenang. Dia tidak ingin gegabah untuk keluar dari ruangan ini lantaran selang infus yang menancap di tangan kirinya itu.
Rasanya, Ichiro ingin memecahkan barang atau melempar apapun yang ada didekatnya. Tapi sayang, semua benda di sekitarnya tidak memiliki resiko pecah, atau benda tajam.
"Sialan.. sialan.." umpatnya lagi.
Sosok didepannya hanya bisa menatap nanar. Ichiro, dia bukanlah Ichiro yang seperti biasanya. Ichiro selalu kuat dan tidak pernah menyerah. Selalu bersemangat dan selalu menampilkan senyum diwajahnya.
Ichiro yang ini berubah.
Tidak seperti biasanya.
"Hei.."
Panggil Ichiro pelan. Tapi, sosok di depannya ini pasti bisa mendengarnya. Ichiro pun mengangkat kepalanya. Ichiro mengerutkan dahinya, menatap sosok yang didepannya sambil terus berpikir.
Dia terasa familiar. Ichiro seperti mengenalnya. Tapi, Ichiro tidak mengingatnya sedikit pun. Apa yang membuat sosok didepannya terus menatapnya sambil tersenyum lembut seperti itu? Aneh sekali...
"Jawab aku. Kau siapa?"
Ah benar. Ichiro benar-benar tidak mengingatnya. Sosok didepannya hanya tertawa sambil memegangi perutnya.
'Kenapa dia tertawa seperti itu? Apa pertanyaanku tadi salah atau memang lucu?' Batin Ichiro.
"Hahahaha! Kau ini memang lucu, bocah."
Ichiro pun kembali dibuatnya bingung. Bocah? Siapa? Memangnya sosok ini mengenalnya? Terus kenapa Ichiro tidak bisa mengingatnya sedikitpun?
"Namaku
Samatoki Aohitsugi."
- Bersambung -
.....
[A/N] Halo guys~
Akhirnya saya comeback membawakan cerita yang bisa dibilang, banyak bawangnya, gitu.
Semoga kalian suka ya. Maaf kalau dirasa feelnya kurang dapet Aku akan update secepatnya, ingin memulai produktif di dunia jurnalis~
Tinggalkan kritik, saran, dan voment nya ya Terima kasih.