Cerita Twoshot ini bikin nya ngalir gitu aja.
dan aku ga tau menurut kalian ini jalan ceritanya nyambung apa enggak (mudah2an nyambung) XD
Semoga suka.
Selamat membaca ya!
Vote nya terus Komen jangan lupa 😊
-
-
"Sehuun" seorang siswi cantik ber name tag Lim Yoona berlari sambil memanggil nama seseorang sedikit kencang di kantin, seorang pemuda tampan siswa sekolah itu.
Yang merasa punya nama itu menampakan wajah datar dan mengabaikan –tak perduli dengan teriakan itu. Sehun tetap asik menyeruput minum kesukaannya, bubble tea rasa coklat.
Posisi Sehun saat ini berada duduk di ujung bangku kantin tersebut, tempat khusus favoritnya.
Yoona sampai di hadapan Sehun dan duduk di kursi kosong.
"Sehun, nanti sepulang sekolah aku bisa gak ikut nebeng ke motor kamu buat pulang?" tanya Yoona.
"Gak bisa" jawab Sehun singkat, datar dan menyeruput bubble tea nya lagi.
Gadis itu mengerutkan bibirnya.
"Kenapa gak bisa?"tanya Yoona.
"Soalnya aku harus buru-buru pulang ke rumah"balas Sehun datar.
Yoona menghela nafas lalu menundukan kepalanya kemudian berdiri.
"Perasaan tiap kali aku minta nebeng ke kamu, kamunya suka bilang gak bisa mulu, Hun." kata Yoona mengingat-ingat sementara Sehun diam.
Kemudian Yoona menghela nafas, merasa sedih lalu menundukan kepalanya kemudian berdiri.
"Tapi yaudah kalau kamu gak bisa, gak papa... kalau gitu aku pergi dulu ya, Hun. Dahh"ucap Yoona pamit dan pergi meninggalkan kantin. Baru Yoona pergi dari hadapannya, Sehun mengelap dahinya yang berkeringat.
Bel terakhir sudah berbunyi beberapa saat lalu dan semua warga sekolah itu sudah pada berhamburan untuk pulang. Termasuk Yoona.
Yoona berjalan melewati setiap koridor kelas menuju gerbang sekolah. Namun tak sengaja ketika dirinya melewati parkiran Yoona melihat Sehun memboncengi seorang siswi lain dengan motor ninja miliknya dan Yoona tau siapa siswi itu. Irene, teman kelas pemuda itu.
Seketika Yoona tersenyum miris melihat itu. Apa maksud pemuda itu waktu di kantin? Pemuda itu berbohong? Bilangnya harus buru-buru pulang ke rumah.. hingga ia tidak bisa ikut numpang pulang. Nah, ini?
Kok ngebonceng cewe itu bisa? Atau jangan-jangan... Tanpa sadar Yoona mengeratkan pegangannya pada tas ranselnya. Matanya mendadak terasa perih. Yoona menggelengkan kepalanya lalu memalingkan muka ke arah lain.
Sadarlah Yoona! Jangan seperti ini! Pemuda itu bukan siapa-siapamu. Dia hanya temanmu, teman biasa mu! Kau tak berhak untuk merasa kecewa ataupun marah hanya karena pemuda itu tidak berkata jujur padanya dan membonceng perempuan lain.
Ketika motor itu melewati dirinya dan pandangannya bertemu dengan si pengendara motor itu, saat itu juga air mata Yoona jatuh membasahi pipi.
Esoknya Yoona berharap kalau pemuda itu mau mengatakan atau menjelaskan sesuatu padanya. Namun nyatanya tidak, Yoona tersenyum kecut. Toh apa gunanya pemuda itu harus menjelaskan sesuatu padanya. Hubungan mereka saja hanya sekedar teman biasa.
Jadi pemuda itu tak perlu repot-repot harus melakukan hal itu padanya. Sebagaimana seperti kekasih yang takut salah paham pada kekasihnya maka langsung memberi penjelasan pada kekasihnya agar tak terjadi yang tak diinginkan seperti pertengkaran, salah paham atau bahkan terancam putus hubungan.
