nu.

32 3 2
                                        

Namaku nugraha, orang-orang memanggilku dengan "nu". Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara.
Aku dilahirkan dari keluarga kecil yang cukup bahagia, penuh keharmonisan, hangat dengan utuhnya kasih sayang dari cinta.

Ruang tamu adalah tempat yang tak pernah terlewatkan untuk ku, ibu, ayah dan adik-adik ku untuk saling bertukar fikiran, berbagi tawa, cerita, dan tentang apa yang telah kami lewati setiap harinya.
Ini adalah saat saat terbaik yang selalu kami miliki.

Sebelum hari itu tiba...

Kabar berita datang dari ayah. ia yang terkena pengurangan hak bekerja di perusahaan tempat ia bekerja.

Pada malam yang hening, ayah pulang dengan tanpa sepatah kata untuk menyapa kami yang sedari tadi menunggunya di ruang tamu.
Hal yang tak seperti biasanya sedang kami rasakan, ribuan pertanyaan singgah dalam fikiran " Ada apa dengan ayah ? ".
Malam itu waktu terlihat lebih lama untuk berputar, ribuan tanya yang masih belum terjawab, mata kami menatap satu sama lain dan ruang tamu pun tak sehangat seperti malam-malam sebelumnya.

Kedua adik ku mayang dan dimas bergegas masuk ke kamar mereka. Ibu yang terlihat tetap tersenyum padahal ku tau dalam hati banyak sekali yang ingin ia sampaikan.

Ayahku yang sedari tadi terlihat termenung di beranda depan rumah, kedua mata ku tertuju pada sebuah asbak yang sudah di penuhi dengan puntung rokok, mungkin jumlahnya sudah puluhan, tak seperti biasanya ayah merokok sebanyak ini.

Segelas kopi yang ku bawa untuk ayah sebagai pembuka pembicaraan kami, aku yang sedar tadi tak berani berbicara awalnya kini ku beranikan diri untuk mengucapkan sebuah kata.

" Yah, ini kopinya ibu yang buatkan " Aku memulai percakapan.

" Hmmmmm. " Jawab ayahku.

Kemudian seketika ayah bergegas pergi dari hadapanku tanpa sedikitpun menyeruput kopi yang sudah ibu buatkan.
Padahal kopi buatan ibu adalah yang ayah cari setelah ia pulang bekerja, setelah hari-hari selalu membuatnya lelah, setelah ia bekerja keras melawan keluhnya, kopi butan ibu bagaikan penyemangat tambahan untuk dirinya.
      
                                     ***

Hari demi hari berganti, waktu demi waktu berputar tanpa akan kembali meski aku meminta berulang kali.
Aku merindukan ayah ku yang dulu, aku rindu keluarga kecil kami yang hangat akan kebersamaan.
Kini, kita bagaikan manusia asing dalam satu atap tetapi senyum ibu yang selalu jadi penghangat.

" Prangggggggg..."

Terdengar seeperti pecahan benda , suaranya berasal dari ruang tamu. Ayah berteriak kasar disusul tangisan ibu memecah keheningan siang itu.
Mendengar itu, aku bergegas berlari untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Terlihat dari kejauhan ayah ingin melayangkan sebuah pukulan keras untuk ibu.

" Ayah ! " Sontak aku berteriak dengan sekeras mungkin.

Ku mendekap ibu, pipinya telah basah karena deras air matanya jatuh tak bersalah.

" Jika ayah memukul ibu, aku tak segan untuk berani membalas memukul ayah ! "

" Kamu sudah berani melawan ayah hah ?! Anak bau kencur, sok mau jadi jagoan ! " Emosinya kian memuncak.

" Aku ga akan pernah takut dengan siapapun yang ingin menyakiti ibu walaupun dia adalah ayahku sendiri ! " Tegasku.

Lalu kedua tangan ayah menarikku, melayangkan puluhan pukulan terhebatnya, menghantam wajah dan pada bagian tubuhku yang lainnya. Saat itu perkelahian tak terhindarkan.

" Cuma segitu kemampuan ayah ? " Aku mencoba berbicara dengan wajah yang berlumur darah.

" Dasar anak tidak tau diri ! Bhakk !! " Dipukulnya sekali lagi tepat menghantap bagian mata kanan ku.
Ku rasa itu pukulan terakhirnya untuk siang ini.

Aku tak bisa sadarkan diri, di antara sadar dan ketidak sadaranku aku hanya bisa melihat wajah ibu yang terus menangis. Sesekali terdengar suaranya menyebut-nyebut namaku, dan seketika duniaku menjadi gelap.

                                      ***

" Aku dimana bu ? " Tanyaku pada ibu yang sedang terduduk tidur di samping ranjang tempat ku terbaring sambil menggenggam erat tanganku.

" Kamu di rumah sakit nak, kemarin kamu tidak sadarkan diri , ibu khawatir, jadi langsung membawamu kesini  " Di iringi dengan senyum terindahnya, membuat aku selalu merasa tenang.

" Dimana ayah ? Apakah dia sudah puas memukul aku dan ibu ? "
Dengan masih sedikit perasaan benci aku bertanya.

" Sudah-sudah kamu istirahat ya , kalo kamu sakit terus nanti siapa yang habiskan masakan ibu lagi "
Dan ibu selalu bisa membuat aku tak ingin berhenti untuk terus menjaga dan menyayanginya.

                                     ***

nu. ( petualangan menyembuhkan luka )Stories to obsess over. Discover now