Kau tahu apa yang istimewa darinya?
Dia tidak bisa berbicara.
Dia tidak bisa berjalan.
Dia tidak memiliki pengetahuan apapun tentang dunia luar.
Dia hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya, memandang langit cerah dari jendela yang sama tiap harinya.
Dia tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain.
Dia hanya bisa tersenyum.
Dan senyuman itulah yang paling istimewa darinya.
"Mungkin itu alasan mengapa aku sangat menyukaimu."
Ucapan pria itu membuat sang gadis, yang terbaring di tempat tidurnya dan mendengarkan dongeng singkat sebelum tidur dari sang kekasih, menutup wajahnya dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Ia tak tahu harus memberi respon seperti apa, selain mengintip sang kekasih dari selimut yang perlahan disingkirkan dari wajahnya.
"Cerita lagi?" ucap sang kekasih, sambil melonggarkan dasi yang masih terikat erat di kerah kemeja putihnya. "Ini saatnya tidur. Besok lagi, oke?"
Sang gadis menggeleng. Ia menahan lengan sang kekasih yang duduk di tepi tempat tidur, agar pria tersebut tidak bisa pergi dan mengabulkan permintaan egoisnya.
Lantas sang pria menghela napas dan melepas cengkraman "erat" sang kekasih dengan lembut dan perlahan.
"Bagaimana kalau kondisi tubuhmu memburuk? Kita lanjutkan ceritanya besok."
Sang gadis tampak kecewa, tapi ia segera mengulurkan jari kelingkingnya, seolah meminta kekasihnya untuk berjanji padanya.
Pria itu mengerti, dan segera melengkapi janji jari kelingking itu dengan jari tangannya.
"Saatnya tidur," ucap sang pria, mengelus dahi hingga rambut hitam sang kekasih, lalu diakhiri dengan senyuman pada wajah sang pria.
---
Sang pria, William, menutup pintu kamar sang kekasih dengan hati-hati. Ia tidak ingin membangunkan kekasihnya dan menceritakan berbagai dongeng yang hanya akan semakin mengundur waktu tidur.
Ia sempat mematung di satu tempat, hingga akhirnya suara berat khas seorang dokter menyapanya.
"Kamu pasti lelah," ucapnya, "Bagaimana rapat di perusahaanmu?"
William, tanpa memberi respon yang berlebihan, menjawab setelah melepaskan dasinya. "Seperti biasa, aku harus melakukan semuanya sendiri."
Dokter itu tersenyum tipis, lalu memberikan satu botol berwarna putih kepada William.
"Meski menurutmu suplemen itu merepotkan," ucapnya, "tapi tidak ada salahnya menjaga kesehatanmu. Apa yang akan May pikirkan kalau kekasihnya jatuh sakit?"
"Dia pasti tidak akan memintaku menceritakan dongeng sebelum tidur."
"Dan pasti May akan sangat cemas, berusaha bangkit dari tempat tidurnya dan menyeret tubuhnya sampai ia berhasil bertemu denganmu."
William terdiam.
"Sama seperti kejadian setengah tahun lalu," lanjut sang dokter. "Kamu tidak mengunjunginya satu hari dan dia hampir melompat dari jendela karena tidak bisa membuka pintu kamar yang terkunci. Untunglah pelayan menemukannya sebelum ia benar-benar melompat."
"Maksudmu, kamarnya tidak boleh dikunci?"
Sang dokter menggeleng.
"Rasa cemasnya padamu melebihi rasa cemasnya pada dirinya sendiri, dan ketidaktahuannya pada dunia luar bisa sangat membahayakan. May mengira dia bisa memanjat tembok dan terbang seperti pahlawan dari dongeng yang kamu ceritakan sebelumnya."
William memutus ucapan sang dokter, "Mulai besok, aku tidak akan menceritakan dongeng yang tidak masuk akal padanya."
"Will, bukan itu maksudku."
"Dok, prioritasmu adalah kekasihku yang memiliki kondisi semakin buruk tiap harinya. Fokus pada tugasmu atau aku harus mencari dokter pribadi lain yang bisa bekerja lebih baik."
William berusaha menahan amarahnya. Ia tidak ingin berteriak ataupun meninggikan suaranya. Kekasihnya sedang tertidur lelap, dan entah apa yang akan terjadi nantinya jika sang kekasih mendengar teriakannya.
Panik, takut, cemas.
May hanyalah gadis polos yang bisa menghasilkan imajinasi seliar apapun di dalam pikirannya. Pemikiran yang berlebihan akan memperburuk kondisi tubuhnya, secara fisik maupun psikis. William tidak ingin hal itu terjadi pada kekasihnya.
Sang dokter, seakan mengerti dengan pemikiran kliennya, terdiam dan menghela napas.
"Maafkan aku, Will." Sang dokter berkata, kemudian mengeluarkan catatan kecil yang disimpan di dalam saku dari jas putih khas dokter. "May menitip pesan padaku untuk memberikan catatan ini padamu."
William menerima catatan tersebut. "Terima kasih," ucapnya. "Apa ada hal lain yang harus aku ketahui tentangnya?"
"May terlihat lebih ceria hari ini," ucap sang dokter. Kali ini ia mengeluarkan satu lembar kertas yang terlipat. "Seharian ini ia memandang ke luar jendela dan berhasil melukis pemandangan indah ini untukmu."
"Pemandangan indah?"
"Ya," jawab sang dokter. "Pemandangan indah di hari yang mendung dan gerimis seharian."
William tak banyak berbicara. Ia menerima kertas yang terlipat itu tanpa membukanya, kemudian ia selipkan di dalam buku catatan.
"Aku akan mengunjunginya besok sebelum pergi bekerja."
"Lebih baik jangan," ucap sang dokter, "karena May masih tertidur di saat kamu akan pergi, Will. Kamu tidak ingin mengganggu tidurnya, 'kan?"
"Hanya sebentar saja." William tampak tak ingin menyerah begitu saja. "Melihatnya, maksudku, menemuinya pasti akan membuatku merasa lebih baik saat bekerja."
"Meski begitu, lebih baik kamu tidak menemuinya."
Jawaban sang dokter membuat William kecewa, namun ia tetap bersikeras akan menemui sang kekasih, dan dokter mengetahui hal itu. Sehingga dokter pun berkata,
"Tapi lain ceritanya jika May sudah terbangun saat kamu berkunjung."
William mengangguk dan memperhatikan ponselnya. Layar ponsel menunjukkan beberapa notifikasi yang belum ia periksa, serta waktu yang menunjukkan pukul 9.48 pm, hari Senin.
