Bila saja aku tidak mempunyai urusan dengan Kolonel Amri, seorang anggota militer yang bertugas di kota tempatku menuntun ilmu. Masalahnya adalah secara tidak sengaja mobilku menyenggol bamper belakang mobil Escudonya. Setengah mati rasa takutku, ketika seorang laki-laki kekar dengan pakaian militernya keluar dari mobilnya. Aku pun keluar dari mobil dan langsung meminta maaf, karena aku benar-benar bersalah.
"Maaf Pak, saya benar-benar tidak sengaja," kataku.
"Saya akui saya salah.."sambungku.
"Kenapa kau bisa teledor.."katanya dengan nada keras, tapi kemudian dia tersenyum ketika melihat wajahku yang merasa bersalah."
"Saya memang sedang kurang konsentrasi, Pak." kataku kemudian,
sambil terus kuperhatikan kerusakan mobil miliknya.
"Tapi baiklah, saya akan menanggung semua perbaikan mobil Bapak."
"Kenapa kurang konsentrasi dalam berkendaraan?"Pertanyaan yang membuatku gugup dan terkejut.
Aku merasa dia mengetahui apa yang sedang kupikirkan pada saat mengendarai mobil tadi. Terus terang saja aku tadi sedang memikirkan suatu masalah besar, masalah yang menyangkut pribadiku.
"Kenapa dik?" ucapnya.
"Oh tidak Pak," kataku sambil diam sejenak.
"Terus terang saya sedang ada masalah Pak. Saya baru beberapa minggu tinggal di kota ini karena sedang kuliah. Saya kesal dan kecewa di kota ini. Saya tidak punya teman untuk bercerita." ucapku.
itulah alasan yg ku berikan,orang itu hanya memandangku heran. Aku bisa mengerti keheranannya.
"Maksud saya.. saya punya masalah yang sangat pribadi, dimana saya tidak bisa bercerita padasembarang orang." kataku kemudian.
"Oh ya Pak, di mana kita bisa perbaiki mobil Bapak?" ucapku.
Tapi rupanya dia tidak lagi tertarik dengan perbaikan mobilnya. Sehingga dia tetap mendesakku untuk menceritakan masalah yang kuhadapi saat ini. Aku pun tidak mengerti kenapa dia tertarik dengan masalahku.
"Baiklah Pak, saya akan bicara.." kataku kemudian.
Sambil kuajak dia ke rumahku yang tak jauh dari tempat kejadian. Dan aku tinggal sendiri di rumah itu. Aku pun baru tahu kenapa dia tertarik dengan masalahku. Dia pun pernah mengalami hal yang sama seperti diriku. Dia pernah mempunyai masalah berat dan sulit yang mengacaukan kehidupannya. Rupanya dia empati dengan diriku. Mulailah kami berkenalan. Rupanya dia seorang Kolonel, seorang anggota militer, Kolonel Amri namanya.
Seperti penampilan anggota militer umumnya, dia memiliki tubuh yang sangat kekar, tegap dan gagah. Wajahnya menurutku sangat ganteng dengan kumis melintang dan rapih di bawah hidung. Penampilannya begitu sempurna, aku yakin pasti banyak wanita yang tergila-gila padanya.
Aku sendiri kagum dan senang melihatnya.
"Saya tadi benar-benar bodoh dan teledor," kataku pada Kolonel Amri.
"Entah kenapa saya tadi seperti tidak melihat mobil Bapak di depan mobil saya."
"Ya.. karena kamu melamun," katanya.
"Apa masalahmu, Dim? Sehingga kamu benar-benar dalam keadaan seperti itu.
"Aku diam sejenak, menimbang-nimbang apakah aku akan menceritakan masalahku padanya. Rupanya Kolonel Amri tahu itu.
"Sudahlah.. ceritakan saja." katanya
mendesak diriku.
"Kamu juga sudah kenal saya, walau baru sebentar."
"Saya sedang dalam kesulitan, di kota ini saya tidak punya teman pribadi." akhirnya kumulai ceritaku.
"Saya baru saja pindah ke kota ini, dan saya kehilangan seseorang yang baik dalam hidup saya. Dia jauh di seberang lautan. Seorang teman yang mengerti segalanya, seorang sahabat dan juga seorang saudara saya, bahkan kami seperti sepasang kekasih. Dia begitu baik pada saya, dia mencintai dan menyayangi saya. Dan saat ini saya benar-benar rindu ingin bertemu.."Kolonel Amri hanya tersenyum.
"Saya tahu mungkin Bapak menertawai saya." sambungku.
"Bukan, saya hanya tidak habis pikir, apakah di kota ini tidak ada wanita seperti dia bahkan lebih baik dan cantik lagi.”ucapnya.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
"Sahabat saya bukan seorang wanita," kataku kemudian dengan nada pelan.
Sekali lagi Kolonel Amri diam, memandang tanpa berkata apa-apa. Dengan nekat aku melanjutkan..
"Saya senang dengan sesama jenis, Pak." kataku kemudian.
Kolonel Amri hanya mengernyitkan keningnya dan terlihat begitu terheran-heran.
"Saya sedang dalam keadaan nafsu yang tinggi sekali. Saya ingin berhubungan dengan teman saya. Tadi pagi sudah saya keluarkan dengan cara onani dua kali, dengan harapan bisa meredakan ketegangan yang saat ini sedang saya alami.” Kolonel Amri diam mendengarkan ceritaku, sambil meminum air es yang sudah kusediakan tadi.
"Bagaimana bisa terjadi.. maksud saya.. wah aku benar-benar tidak mengerti." kata Kolonel Amri.
"Bagaimana mungkin kamu bisa seperti ini menyenangi sesama jenis? Aku lihat kamu sama saja seperti anak remaja tulen, ramah.. wah aku benar-benar tidak mengerti.” sambungnya menunjukan raut wajah yang terheran-heran.
"Itulah yang terjadi pada diri saya," kataku. Aku pun sudah tidak tahan memandang wajah dan penampilan Kolonel Amri. Penampilannya yang gagah membuat jantungku berdetak kencang, kencang sekali. Setiap senyum dan ucapannya begitu gagah. Pikiranku pun menerawang jauh, jauh sekali. Aku membayangkan aroma tubuh Kolonel Amri, Aku bisa merasakan tubuhnya yang sangat kekar, dan mungkin senjatanya yang..
"Saya senang dengan Bapak, kalau boleh saya cium pipi Bapak.." kataku memberanikan diri. Kolonel Amri terkejut, raut wajahnya berubah.
"Tidak mungkin," katanya.
"Saya tidak seperti itu, dan saya pasti tidak bisa melakukannya." sambungnya.
"Tidak apa-apa Pak, Bapak diam saja, biar saya yang melakukannya," kataku makin berani.
"Ha ha ha.. apa rasanya?" balasnya.
"Bapak akan tahu nanti.." kataku.
Ku kunci pintu rumahku, dan aku pun mulai mendekati Kolonel Amri, dan saat ini aku sudah duduk di sampingnya. Kolonel Amri tidak bergeser sedikit pun dan hanya diam saja sambil sesekali tersenyum. Melihat reaksinya yang tidak marah, aku pun mencium pipinya.
Benar-benar aku bisa merasakan aroma kejantanannya, seperti yang sudah kuduga. Sambil terus kucium pipinya, tanganku pun mulai membuka satu persatu kancing baju seragamnya yang lumayan besar menurut-ku tapi karena badan kolonel amri yg sangat kekar, seragam itu jadi terlihat ketat, setelah terbuka semua aku lepas seragam itu, di balik seragamnya ada kaos ketat hijau menyelimuti tubuh kekarnya.Kolonel Amri hanya diam dengan semua yang kulakukan.
Sepertinya dia ingin tahu, seperti yang dia katakan tadi. Ku remas-remas dadanya yg bidang menonjol itu, lalu aku meraba-raba perutnya. Setelah itu aku pun langsung melepaskan kaos hijau tersebut. Kini terlihat jelas tubuhnya di hadapanku. Badannya yang kekar itu sudah tidak lagi terbungkus bajunya. Kuciumi sekujur tubuhnya yang menyebarkan aroma kejantanannya itu. Ku cium perutnya yg terbentuk kotak2 itu, lalu pindah ke bagian dada. Ohh.. nikmat sekali, aku belum pernah merasakan tubuh seorang anggota militer. Nikmat sekali rasanya. Benar-benar seorang laki-laki tulen.
Sambil kuciumi tubuhnya, tanganku terus beraksi ke bawah, dengan perlahan kubuka ikat pinggang dan reitsleting celananya. Oh besar sekali, padahal belum menegang, dia masih tertidur. Dan terus kucoba untuk merangsangnya. Rupanya agak sedikit sulit membangunkan senjata ampuhnya itu. aku terus melakukan gerilya di seluruh tubuhnya, ku buka celana hijau khas tersebut dengan celana dalamnya sekalian, hingga benar-benar tak ada selembar benang pun. aku tidak melepas bajuku karena tubuhku tidak tebentuk otot sama sekali, hehe.. Kemudian kuhisap senjatanya lagi yang masih tertidur pulas.
Besar sekali.. padahal belum tegang. kumasukan benda tersebut ke dalam mulutku, sambil terus kuhisap daging kenyal itu. Aku mencoba membayangkan besarnya saat bangun nanti. Lama sekali aku mencoba merangsangnya tapi tetap belum bangun juga, sepertinya aku harus melakukan dengan cara yang lain. kolonel
amri terlihat diam saja. karena sudah kehabisan akal, Aku pun nekat memainkan jari jemariku ikut bermain diantara lubangnya, di bawah senjata.
Saat ku masukan jari telunjuk ku, wajah kolonel amri terlihat menegang, seperti meringis. ku gerakan maju mundur jari telunjukku, hingga akhirnya sudah dua jari yg masuk bergerak maju mundur di dalam lubang anusnya. ternyata dengan gerakan jariku itu rupanya senjata ampuhnya mulai bergerak mengeras, sehingga membuat dua jariku terus masuk ke dalam lubang anusnya.
Rupanya dia merasakan rangsangan di daerah tersebut. Kulihat Kolonel Amri mulai mengerang, wajahnya terlihat meringis, entah kesakitan atau menikmati jari tanganku yang keluar masuk ke dalam lubangnya. tapi sejalan dengan itu, senjatanya benar-benar menegang maksimal, besar sekali. Aku taksir ukuranya sekitar 20 cm.
Mulutku agak kesulitan, hingga akhirnya ku keluarkan dari mulutku dan kemudian kukocok dengan tanganku yang lain.
"Ohh.. nikmat sekali dik dimas.. terus lakukan..saya menikmatinya.. teruss.. Ohh.. nikmat sekali..". sepertinya Kolonel Amri benar-benar sudah dalam nafsu yang besar.
Aku berhasil membangkitkan gairah nafsunya. walau ekspresi wajahnya terlihat meringis kesakitan, ternyata dia juga menikmatinya, ketiga jariku pun sudah berhasil masuk ke dalam lubangnya. Dan aku pun terus juga terangsang.
Kemudian dengan izinnya aku meminta untuk memasukkan burungku ke dalam lubang Kolonel Amri, menagih janji yg sudah kami berdua buat sebelumnya. dengan izinnya, aku meminta kolonel amri agar sedikit menurunkan badanya sehingga posisi badanya seperti sedikit telentang. Lubangnya terlihat sangat sempit padahal sudah 3 jari yg berhasil masuk.
Setelah membasahinya dengan baby oil, aku mulai memasukinya.. kontol sebesar 17cm itu sangat sulit masuk karena lubangnya yg terlalu sempit. Saat kepala kontol ku sudah masuk, kudengar kolonel amri mengerang tertahan, wajahnya menunjukan ketegangan, seperti menahan sakit. Saat sudah masuk semua, kolonel amri membuang nafas yg sangat berat. ternyata sedari tadi aku memasukan kontol ku dia menahan nafas.
"sakit kolonel? mau berhenti dulu?" tanyaku.
"tidak perlu, kau teruskan saja apa yg ingin kau lakukan" jawabnya.
Mendengar perkataanya yg seperti itu membuatku berfikir kalau kolonel amri sudah siap dengan apa yg terjadi selanjutnya. akhirnya aku pun mulai menggerakan pinggul ku dengan perlahan, maju mundur mulai menggejotnya."arrgh" kolonel amri terlihat kesakitan tapi dia tidak menolaknya. Ku teruskan gerakan maju mundur hingga akhirnya ku tambahkan ritme genjotanku semakin cepat,
"arghhh ssakitt" ucapnya meringis.
Melihat wajahnya yg semakin meringis membuatku makin kencang menggenjot kolonel amri. cepat sekali hingga terdengar bunyi..
plok..plok...plok..plok..
"arghhhh teruskan dik dimasss, lebih cepatt lagii.. Arghhh" desahnya.
Terlihat tubuh kolonel sudah bersimbah keringat. Dia menyukainya, diamenyenanginya, dia menikmatinya. Terus kugenjot ke depan dan ke belakang.
"Ohh.. kamu membuatku gila.. terus masukkan yang dalamm.. teruuss.. ohh.. terus dik dimas.. keras lagii.. terus masukkannn.. Oohh.."racaunya.
Sementara burungku pun sudah tak tahan berada di dalam lubangnya, keluar masuk. Pantatku maju mundur untuk memberi kepuasan pada Kolonel Amri. Aku pun menikmatinya.
"Enak sekali Kolonel.. oh.. ohh.. ohhh.. enak sekali Kolonel.." desahku.
Tanganku terus mengocok senjata Kolonel Amri yang besar itu, sampai akhirnya..
"Aku mau keluarrr... ohh.. aku mau keluarrr.. kocok lebih keras lagiiii.. masukkan lebih dalamlagii...arghhh... Terus... Ohhh..teruuss.. Ohh.. aku keluar.."
Tanganku makin keras mengocok, pantatku makin dalam menembus tubuh Kolonel Amri. Karena aku pun benar-benar sudah tak tahan lagi.
Croot.. croot.. Croot..
Banyak sekali lava putih mengalir dari senjata milik Kolonel Amri. Semburanya mengenai dada dan perut kolonel amri. Aku pun tak tahan melihat wajah Kolonel Amri, dan akhirnya Crooottt.... aku pun keluar di dalam tubuh Kolonel.
Oh, puas sekali yang kurasakan. Tubuhku pun jatuh lemas di atas tubuh Kolonel Amri. Kami berdua lemas, sementara senjataku masih menusuk di dalam tubuh Kolonel. Tangan Kolonel Amri membelai tubuh dan rambutku.
"Belum pernah aku merasakan yang seperti ini." katanya dengan nafas masih tersengal-sengal,
"Kamu orang pertama yang melakukan ini pada saya dik dimas."
"Terima kasih Kolonel.. saya sangat menikmati tubuh Kolonel. Maafkan saya mebuat Kolonel seperti ini.."
"Sudahlah, yang penting saya menikmati juga.."
"Kita mandi Kolonel," kataku sambil mencabut senjataku dari tubuh Kolonel Amri.
"arggghhhh" ternyata Dia meringis kesakitan. Walau pun sudah keluar, senjataku masih tegak berdiri, masih bernafsu memeluk tubuh kekar itu.
Kemudian kami pun mandi berdua. Setelah selesai kuberikan handuk besar padanya, dan Kolonel pun melilitkannya ke pinggang hingga menutupi senjatanya yang besar seperti basoka. Kemudian dia duduk lagi di atas bangku panjang sambil terus memperhatikan aku yang sedang mengelap badan dengan handuk yang lain. Tadinya aku tak tahu kalau Kolonel Amri memperhatikanku, kalau saja dia tidak mulai bicara.
"Badan kamu juga bagus" katanya, "meskipun kurus tapi terasa keras. Kenapa burungmu masih juga tegang?"
"Nggak tahu nih.." kataku.
"Saya masih nafsu dengan Kolonel." Aku tertawa kecil dan Kolonel Amri hanya tersenyum.
"Kamu mau lagi?" tanyanya.
Aku terkejut mendengar tawarannya. "Siapa takut," kataku dalam hati.
Segera kulempar handukku dan kuhampiri tubuh gagah itu, segera kubuka handuk Kolonel Amri yang menutupi senjatanya. Saat itu pula Kolonel Amri mulai beraksi agresif, tidak seperti tadi yg hanya pasif menikmati setiap sodokan ku. Dia juga langsung memeluk dan menghempaskan tubuhku ke lantai.
Kali ini dia seperti banteng liar menyambar tubuhku. Dia menciumi seluruh tubuhku, dia juga menghisap burungku, seperti yang kulakukan padanya. Walau tidak terlalu enak hisapannya, karena mungkin belum tahu teknisnya, aku kadang meringis sakit ketika giginya menyentuh daging kenyalku.Kemudian Kolonel Amri sudah mulai menindih tubuhku. Pantatnya yang bulat berisi kuraba terus ku raba, dan…
Bersambung..
