Aku tidak pernah segundah ini. Seumur hidup. Selama tahun ke 17 umurku. Bahkan ketika aku sadar bahwa aku berbeda dengan yang lainnya. Baru kali ini, beraninya dia secara tidak sadar menantangku. Dan yang jauh lebih anehnya, untuk apa aku meladeninya?. Dia tidak spesial amat. Bukan siapa- siapa. Dia pemalas. Pria yang hobinya tidur. Walau otaknya memang cerdik. Tidak maksudku, aku lebih cerdik diatasnya. Tidak sudi aku disamakan dengannya.
Malam ini kembali hujan seperti malam kemarin. Aku memakai jaket denim sutra hitam bergaris jingga pada tangan. Keluaran channel untuk koleksi musim gugur kemarin, dipadukan kaus putih polos louis Vuitton yang kumasukkan kedalam jeans kulit hitam ketat. Tidak lupa topi hitam yang kupasang serapih mungkin untuk sedikit menyamarkan identitasku.
Aku tidak perlu berdandan barang sedikit. Toh, sudah cantik dari lahir. Batinku. Aku mengendarai mobil buluk pajero sport murahan ini agar tidak mencolok menuju lapangan tembak terbengkalai yang tertutup penggunungan hutan pinus. Tempat yang jauh dari pemukiman. Dikenal sebagai tempat angker karena banyak penduduk yang melihat sosok noni belanda bertebaran. Padahal pada tahun 1942 tempat ini adalah bekas terowongan bawah tanah logistic perang untuk jepang. Walaupun sekarang terowongan itu sudah tidak berbentuk sampai tidak dikenali. Dan tidak ada sangkut pautnya dengan Belanda. Selamat datang di Negara +62.
Rezion tidak ramah kali ini. Hujan terlampau deras. Langit total gelap gulita ditemani kabut dingin cukup membuat suasana gundah ini megembang. Pikiranku menerawang.
Sanggupkah kau?
Ayolah, latihan selama ini seharusnya cukup untuk membuatnya bungkam.
Racuni pikirannya. Jangan beri ampun. Bakar dia.
Bertarung, jangan babak belur, lalu pulang. Aku ingin menang. Tidak mungkin aku kalah dari lelaki itu. Tidak boleh sebenarnya. Lapangan tembak ini terhampar luas. Rumput-ruumput semakin meninggi sejak 5 bulan terakhir aku mampir ke sini. Hutan pinus seolah hendak memakan lapangan itu saking tidak terurusnya. Kondisi tanah becek yang sukses membuatku jengkel bukan main. Dan untungnya hujan berubah menjadi ringan. Aku berjalan tidak jauh dari mobil dan akhirnya kutemukan pohon beringin yang tinggi menjulang dan rimbun. Disitulah aku melihatnya. Sedang duduk ditemani lentera biru di tangannya. Simbol kelebihannya. Biru.
Dia memakai hoodie biru hangat. Dipadukan celana murahan berwarna hitam pudar. Rambutnya agak panjang berwarna hitam lurus lepek menjadi ciri khasnya. Benar- benar biasa. Tidak ada modis-modisnya barang secuilpun. Dia semata-mata terbantu karena wajahnya. Hidung mancung yang tegas, mata yang selalu menatapmu lembut tetapi tajam disaat yang bersamaan. Dan kulit putih pucat yang menjadi khasnya. Tidak tampan amat menurutku. Dia tersenyum tipis lalu perlahan mendekatiku. Membuyarkan lamunanku darinya.
"irinya, Bahkan kau tidak perlu membawa senter. Praktis sudah berada di dalam dirimu." sapanya masih terus tersenyum. Aku tergoda untuk membuat api ku semakin membesar. Bermaksud memberikan ancaman agar dia sedikit menciut. "Dimana tempat pertandingannya? Aku sibuk. Lagipula kau akan kalah cepat." Jawabku sambil tersenyum miring. Dia tidak menjawab. Tidak tersulut ancamanku. Wajahnya masih tersenyum tipis tak terbaca. Dan langsung memberiku aba-aba untuk mengikutinya. Aku menurut dan berjalan masuk menembus hutan pinus. Keadaan semakin gelap saja. Tetapi setidaknya melalui jalan setapak yang terbentuk. Suasana hening dan suara binatang malam menjadi nyanyain hutan. Udara dinginnya sukses membuat bulu kudukku berdiri. Dan ketika aku mendongak ke atas bintang bertaburan indah. Aku menyukai suasana ini. Seharusnya. Sayangnya, pikiranku terus terganggu. Aku tidak tahu nanti ketika pulang masih bisa menyetir mobil dengan badan bugar atau bahkan jalan saja harus terseok seok? Atau kemungkinan terburuknya, aku mati. Tanpa sadar pedar apiku menghangatkan badan secara otomatis. Ntah karena takut atau semangat. Aku tidak bisa membedakannya.
Kami terus berjalan hingga memakan waktu 15 menit. Di depanku berdiri bangunan yang cukup megah. Tidak terurus dan anehnya terlihat indah. Padahal hanya bangunan tua yang dindingnya berwarna viory dan itu pun sudah ternoda lumayan parah dimakan waktu. Tapi aku tahu struktur bangunan ini luar biasa kokoh. Lampu-lampu dengan ukiran rumit berwarna kuning keemasan terkesan mewah bertebaran strategis. Terlihat memukau dari luar bangunan.
"aku tidak bermaksud menantangmu." Ucap Rey sambil berbalik menghadapku. Dia mendekat. Terlalu dekat bahkan. "kubiarkan kau selamat. Untuk kali ini. Dan akan kuberitahu siapa dirimu. Sebagai imbalan, Mejauhlah dari hidupku." Dia mencoba memberiku tawaran. Tapi kuanggap itu sebuah ancaman. Konyol sekali. Bahkan bendera perang belum dimulai. "Pengecut." Jawabku tak mau kalah. Kucoba menatap matanya. Berusaha agar tidak terlihat goyah. Padahal tanganku gemetar ketakutan. Sialnya, dia melihatnya. Padahal susah payah kusembunyikan. "Manisnya" dia tersenyum miring. Kali ini lebih seram. Mata biru gelap nya berusaha menenggelamkanku. Gerimis hujan berhenti mengguyurku dan membentuk diri menjadi lingkaran air sedang di atas kepalaku. Lingkaran itu berubah menjadi es dengan cepat dan pecah berbentuk bening tajam seperti kaca yang hancur. Setajam apa? Sekiranya Cukup untuk membuat nadi terputus pada leherku. Es tajam itu melayang di kepalaku. Bersiap menusukku bila diperintahkan.
Dia berusaha mengintimidasiku. Mencoba mengendalikanku. Aktingnya payah. Sebab dia terlihat tidak bersungguh-sungguh. Alih – alih membuatku takut, ekspresinya malah tertangkap khawatir kalau–kalau aku tertusuk esnya. "Pilihan terakhir. Temani aku untuk terakhir kalinya di dalam dan kupastikan esok lengan dan kakimu lumpuh permanen. Atau putar balik sekarang, nikmati kelengkapan fungsi tubuhmu. Dan jauhi aku selamanya." Tawarannya sama sekali tidak menggiurkan. Malah terkesan seperti rengekan bocah edan. "sadarlah, kau yang akan ku bakar sampai fungsi badanmu kebas tak tersisa" jawabku cepat. "Jangan bodoh gisell. Kau tahu aku adalah kelemahanmu." Ucap Rey datar. Kali ini ekspresinya tidak terbaca.
"Tidak. Justru kelemahan kau adalah aku." aku menyeringai puas. Padahal aku tahu, aku memang tidak bisa mengalahkannya malam ini.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
HELOO .
So, this is my debut novel!!!. saya benar- benar semangat sekaligus takut T_T karena ini pertamakalinya saya menggarap sebuah novel, saya harap kritik serta saran kalian untuk perkembangan penulisan saya. Akan saya usahakan untuk up 2 chapter sebulan. Tolong dinantikan ya!!! :)
YOU ARE READING
Monster.
Science FictionMereka menyebutku 'Monster' Padahal mereka juga monster Tapi kenapa hanya aku yang disalahkan? Bahkan dia yang sangat kusayangi, juga memanggilku monster.
