prolog

36 6 0
                                        

"Tuan, aku ingin memberitahu mu suatu hal, apakah kau ingin mengetahuinya?"

"....."

"Tak apa kan? Ku tahu kau sangat baik pada ku"

"...."

Teruntuk Tuan :

Lembayung sore yang begitu indah. Tertampaklah senyum getir yang akan hilang ditelan masa yang lelah.
Tak ada hal yang memekakkan telinga, pun menyeruakkan celotehan sampah.

Ah! Sungguh suasana yang indah bagi seorang antagonis sepertiku, Tuan.

Bertaut senyum pada rupa. Tanpa seorang pun tahu, aku sering menggoreskan luka. Pada mereka yang mengaku cinta. Padahal, aku sendiri tidak yakin apakah itu nyata. Namun, terkadang aku juga terkesima.

Tinta yang menari diatas kertas putih tentangmu. Masih tergoreskan dengan suasana yang meramu-ramu. Membuatku menjadi candu, menuliskan tentang mu disetiap goresan tinta ku, tuk cepat hapuskan kau dalam memori yang menghantuiku, yang membuatku risih akan kehadiran dirimu.

Mungkin aku terlalu perasa..
Membuatku sungguh tak tega dan sampai akhirnya memilih menjadi musuh pemain utama.
Antagonis si 'penebar luka'

"Tidak apa-apa kan Tuan jika aku menyuguhkan sepiring luka lagi?"

"....."

"Tidak apa-apa kan Tuan? Kau masih mau menikmati 'hidangannya' lagi bukan?"

"...."

"Tidak apa-apa kan Tuan jika mereka mengetahuinya? Atau aku biarkan saja mereka mencari tahu?"

"...."

Sebab, ku tak ingin kau dan aku menjadi terbiasa dalam relief waktu yang meramu dan mulai bergelayut manja

--------***---------

Sepiring Luka Bertubi Untuk Si TuanHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora