Perang besar beberapa tahun silam , merenggut ribuan jiwa bagi para prajurit yang ikut serta di dalamnya. Begitu pula dengan ayah Carma. Ayahnya gugur di medan pertempuran dengan membawa mati prinsip kesetiaannya. Kini giliran kakaknya yang mengambil alih posisi itu. Pimpinan utama pasukan ketiga.
“Kakak.. Aku mau ikut kakak. Aku nggak mau pergi ke asrama.” Ucap Carma sambil menangis. Waktu itu umur Carma masih 15 tahun. Anak kecil mana yang tak akan menangis ketika diperintahkan untuk pergi ke asrama sendirian?
“A~ Kau kan adikku yang paling manis. Kenapa kau menagis? Sini. Sini. ”Ucap kakakku sambil tersenyum geli. Diusapnya mata Carma yang berlinang air mata.
“Habisnya… Kakak akan pergi ke selatan dan Kakak justru menyuruhku ke ibu kota. Apa Kakak tidak ingin melihatku lagi? Kakak benci padaku?”
“Kau ini bicara apa sih? Kakak benci? Itu tidak mungkin. Habisnya kau ini terlalu manis. Bagaimana kakak bisa membencimu?” Kali ini kakaknya menjawab sambil mencubit pipi Carma gemas.
“A~! Kakak!”
“Ahahahaha! Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Kita pasti akan ketemu lagi. ”
“Janji?”
Kakak Carma mengangguk dan menyodorkan jari kelingkingnya, “Mm! Janji jari kelingking!”
Carma mengaitkan jari kelingking kecilnya. Sedetik kemudian Carma langsung memeluk kakaknya.
“Uwah-!” Kakak Carma hampir terjatuh karena kaget.
“Aku sayang Kakak !”
Kakaknya mengusap kepala Carma perlahan dan berkata, “Kakak juga sayang kamu, Carma.” Merekapun tertawa bersama.
Hari keberangkatan Carma telah tiba. Kakak Carma mengantar Carma sampai ke stasiun.
“Kakak yakin aku harus berangkat? Bagaimana kalau kakak butuh aku? Bagaimana kalau nanti kakak sakit? Siapa yang akan menolong kakak? Bagaimana.. Kalau aku kesepian disana?”
Kakak hanya tersenyum,”Tenang. Kakak akan baik-baik saja disini. Kakak akan mengirimu surat nanti. Dan lagi, Jangan takut kesepian. Bibi Mai ‘kan menemanimu? Kalian pasti bersenang-senang nan-”
Tiba-tiba saja ada seseorang memukul kepala sang kakak dengan gulungan Koran.
“Aw!”
“Siapa yang kau panggil bibi? Bukankah sudah kubilang ribuan untuk memanggilku ‘Kakak’. Kau ini tidak ada imut-imutnya sama sekali ya, Audric??”
“Habisnya.. ‘Kakak Mai’ mau keponakan yang manis kan? Jadi aku panggil saja Bibi.”
“Dasar kamu! Sini aku mau memukulmu lagi! Aku masih belum puas.”
“Tangkap saja aku kalau bisa!”
Mereka mulai berkejaran kesana kemari Sampai akhirnyya Paman Abel-yang sedang membawakan barangku-muncul dan benghela napas. “Kalian ini sudah dewasa. Apa kalian tidak bisa berhenti bertengkar? Lihat. Carma sampai bengong.”
Bibi Mai dan Audric-kakak Carma-berhenti berlarian dan kembali mendekat.
“Paman Abel, Aku tidak melakukan kesalahan apapun tapi istrimu ingin sekali memukulku.. Apa dia selalu sadis seperti ini? Ckckck. Aku kasihan pada paman.”
“Audric.. Bisa katakan sekali lagi? Sepertinya tadi aku salah dengar.”
“Bibi tidak salah dengar kok.” Kakak menjawab sambil tersenyum. Tersenyum lebar sekali.
“Ha?!”
“Sudah-sudah kalian berdua. Audric Aku sudah selesai menaikkan barangnya. Kereta akan berangkat lima menit lagi.”
Audric mengangguk.
“Mai”
“Ya?”
“Bisa kita bicara sebentar?”
Bibi Mai mengangguk. Mereka berdua sedikit menjauh dari kakak beradik itu.
“Mai, aku tahu kalau Carma bukanlah putri kita. Tapi aku mohon jagalah dia sebaik-baiknya.”
“Aku tahu. Bagaimana aku bisa melupakan hutang budiku pada keluarga Gardiner?”
“Baguslah kalau begitu.”
“Sayang?”
“Hm?”
“Kau harus kembali dengan selamat.” Ucap Bibi Mai dengan raut wajah cemas.
Paman Abel tersenyum, “Tentu. Tunggu aku menjemputmu di ibu kota.”
Bibi Mai menangis dan memeluk Paman Abel. Paman Abel menghapus jejak air mata di pipi Bibi Mai dan mencium keningnya perlahan.
“Aku pasti akan merindukamu.”
“Aku juga, Suamiku.”
Suara peluit kereta api berbunyi. Kereta akan segera berangkat.
“Sana. Berangkatlah. Hati-hati disana.”
Bibi Mai mengangguk dan segera naik ke gerbong. Disana Carma sudah menunggunya sambil mengelus sebuah boneka.
“Bibi Mai habis menangis?” Tanya Carma polos.
Bibi Mai langsung merubah wajah sedihnya dengan sebuah senyuman, “Tidak sayang. Bibi hanya kelilipan debu tadi.”
Carma terdiam untuk beberapa saat sebelum bertanya pada bibinya, ”Bibi Mai..”
“Ya, Sayang?”
“Apakah kita bisa bertemu dengan orang-orang di camp lagi? Paman Abel? Bibi Frian? Paman Alex? dan… Kak Audric?”
Bibi Mai sedikit terkejut dengn pertanyaan Carma tapi dia menjawabnya perlahan,
“Tentu. Kita pasti bisa bertemu mereka lagi. Mereka pasti akan menjemput kita berdua di ibu kota kalau tugasnya sudah mereka sudah selesai.”
“…”
“Tugas kita hanyalah berdoa untuk keselamatan mereka. Keselamatan keluarga kita. Bibi yakin! Mereka pasti akan kembali.”
“Ah… Iya.” Carma hanya terdiam. Dia cemas dengan kakaknya.
Bibi Mai merasa kasihan dengan Carma. Tapi mau bagaimana lagi? Perang telah menciptakan keresahan di setiap hati manusia termasuk hatinya sendiri.
.
.
.
“Mau bibi bacakan sebuah dongeng?” Ucap Bibi Mai dengan senyuman.
***
Audric melambai pada Carma yang telah menjauh. Kini tinggal dirinya sendiri. Memang berat melepaskan apa yang sangat kau sayangi untuk pergi jauh darimu.
“Terima kasih. Sudah membolehkan Carma untuk tinggal di asrama bersama Bibi Mai.”
“Itu bukan apa-apa, Ketua Audric. Mai dan keluarga saya sudah mendapat banyak bantuan dari keluarga Gardiner. Terutama Ayah anda, Tuan Anson Gardiner.”
“Kau selalu melebih-lebihkan seperti biasanya, Abel. Bukankah kita ada pertemuan setelah ini, Wakil Pimpinan,Tuan Abel Reiner?”
YOU ARE READING
Bay Leaf
FantasySeorang gadis biasa bertemu dengan seorang pangeran di setiap mimpinya. Melalui perjalanan mimpi, dia belajar tentang apa arti dari rasa sakit dan cinta. "aku berubah, tetapi dalam kematian"
