Dia yang semu. Tak pernah ragaku sekali pun bertemu. Terkadang terasa dekat namun jauh. Hati ini slalu bertanya siapa kah dia. Dia baik, dia lucu, dia marah kadang juga dia asing. Cerita ini sangat lucu. Aku yang sama sekali tak mengenalnya. Tiba tiba mau berteman dan berbalas pesan denganya. Aku yang tak ramah dengan mereka yang asing. Mendadak luluh dan biasa. Imajinasiku slalu bertanya seperti apakah dirinya. Dan otakku slalu bertengkar memberi opini yang tak masuk akal. Tapi entahlah .....
Walau hati ini slalu bertanya tanya akan dirinya yang semu. namun ragaku selalu takut jikalau bertemu di dunia nyata. Pernah suatu ketika aku hampir menaruh hati karna terlalu nyaman berbincang dengannya diantara tembok besar sosial media. Namun anganku pecah ketika dunia nyata menyadarkanku akan satu hal. Aku telah mendua. Tak lagi satu dan memilih setia. Karna tak mungkin juga meninggalkan yang ada untuk dia yang istimewa. Lantas apa beda dengan penghianat?. Seketika lamunku sadar akan satu hal segalanya yang ditakdirkan tak pernah salah sasaran. Mencoba menjauh adalah pilihan. Tak pernah sekali pun aku mencoba menghubungi dan bersikap biasa. sukses saja, begitu juga dia yang seakan menghilang dilahap ramainya kota kesayangan. Dan memilih pulang kedunia nyata yang tak terlalu menyakitkan.
Lambat hari datang lagi. Aku mencoba bersikap pandai menjaga hati. Tak mau raga mengulang kembali, lembaran lama yang merusak hati. Aku sangat sangat mengerti. Ia datang tak lama pergi. Menuduhku hilang tak kunjung kembali. Padahal tau aku tak sendiri lagi. Namun ia hadir dengan watak yang sama. Jenaka , menyerang, dan sabar berjuang. Aku slalu ingin berteman denganya. Dia baik, bagiku ia sangat cocok sebagai sahabat atau kakak ipar. Bukan pendamping. Dia tak cocok bersanding denganku. Bukan karna dia buruk atau aku lebih baik. Namun karna aku sudah berkomitmen dan sadar akan statusku. Aku juga takut bila suatu hari ia kecewa denganku, dengan segala kebodohanku. Aku bukanlah orang baik bak malaikat yang orang lain fikirkan. Aku hanyalah orang sederhana yang tak luput dari segala dosa. Bagiku menghindar/ bertingkah tidak peduli akan lebih baik. Dibanding dekat namun menyakiti.
