Apapun yang kubagikan, adalah isi hatiku..
iya, menulis menjadi tempat berkeluh kesah paling nyaman, rasanya.. seperti bercerita kepada dunia.. walaupun, entah kepada siapa..
aku lelah, mencari telinga untuk mendengarkan ku
aku lelah, mencari pribadi yang mengerti
aku lelah, mencari bahu untuk bersandar
hingga, kelelahanku menemukan jawaban..
ketika tidak ada yang mendengar, tidak ada yang mengerti, bahkan tidak ada lagi sandaran.. kenapa harus uring-uringan?
bukankah itu pertanda, pertanda bahwa kita sudah lari terlalu jauh dari sang pencipta?
mengapa harus mencari, jika kita bisa berdoa, komunikasi termudah yang Ia ciptakan untuk menghubungkan kita kepada Nya.
lalu, jika berdoa pun tak menemukan damai?
apa lagi selanjutnya?..
"sabar".. semua yang mencari akan menerima.
bicara soal damai, aku belajar banyak akhir-akhir ini, kedamaian asalnya dari hati kita, bukan dari luar.
apa yang ada diluar tubuh kita hanya sebagai predisposisi kedamaian, etiologinya.. adalah hati kita.
cerita soal kedamain erat hubungannya dengan kebahagiaan, dan semakin erat lagi dengan kasih.
sedikit kabar baik bagi mereka yang mungkin kurang damai hatinya, bagikan kasih sebanyak-banyaknya..
lalu mereka bertanya " bagaimana mungkin mengasihi menjadi obat kedamaian, ketika kamipun tidak dipenuhi kasih"
aku memutar balik pikiranku, lalu aku mengerti.. tentang hukum tabur-tuai, karma masa lalu akan selalu mengikat sampai pada tahap akhirnya nanti..
semua yang kamu lakukan, akan kembali padamu dengan segala dominonya.
soal kasih, kamu tidak pernah kekurangan kasih, hanya saja sering terlupakan..
ada Pribadi yang mati di kayu salib, untuk menebusmu.. dan kasih apa yang lebih dari mengorbankan nyawa?
dulunya, manusia selalu jadi defenisi kebahagiaanku.
di umurku, yang sedang beranjak dewasa, punya sahabat yang baik, punya pasangan yang sempurna adalah sebuah kerinduan, hingga aku sadar, aku salah mendefenisikan bahagia sebagai manusia, karena ternyata bahagia adalah soal diriku sendiri.
mereka yang kuanggap sahabat ataupun pasangan bisa meninggalakanku kapan saja, dan ketika mereka hilang, maka akupun ikut kehilangan bahagia.
semakin, aku paham, kesalahan jika menganggap kebahagian berasal dari manusia lain.
dahulu, aku selalu mencari-cari bahagia, berusaha mendapatkannya dari orang lain, dari benda-benda, atau bahkan dari makanan.
ternyata, bahagia itu ada di dalam hatiku sendiri, yang sering terkubur karena mencari-cari dan menutupnya dengan kebahagiaan palsu.
pantas, saat itu aku selalu merasa kurang, ternyata mencukupkan diri dengan diri sendiri adalah awal untuk berhubungan baik dengan orang lain.
terkadang masih ada iri, melihat mereka yang lebih beruntung, akhirnya.. aku belajar taat dengan firman Tuhan, "jika ada iri hati, maka akan ada kekacauan", semenjak sadar kekacauan datang dari iri hati, aku memilih bersyukur setiap waktu, membuat ku jauh lebih damai.
ketika mereka lebih bahagia, aku pun belajar bahagia.. "besukacita dengan orang yang bersukacita, menangis dengan orang yang menangis".
sungguh, jika hari ini kamu merasa sedih dan kecewa, coba buang segala iri, niscaya bahagia akan datang. aku sudah mencobanya, berulang kali, dan hampir semuanya berhasil.
manis-pahit kehidupan memang ada untuk dinikmati, terlalu manis pun bisa membuat penyakit, terlalu pahit pun bisa menjadi obat, tinggal, bagaimana respons yang kita beri.
Lalu, soal mereka yang tidak pantas dikasihi, karena tak pernah menghargai.. bagaimana?
tetap kasihi.. begitu katanya,
aku berusaha lama tentang mencintai diri sendiri.. lama sekali, mati-matian, gagal-berusaha lagi, terus menerus begitu..
ternyata, mengasihi mereka yang tidak menghargai adalah bentuk nyata, diri kita sudah cukup, kita sudah mengasihi diri kita, tidak lagi menuntut dikasihi, karena kita dipenuhi kasih..
indah bukan?😉
meski tidak mudah, tetapi mungkin.
aku sudah pernah menjalaninya, ketika gagal, aku mengingat lagi.. manusia memang mengecewakan, begitupun aku... aku ingat lagi.. "perbuatlah segala sesuatu yang ingin mereka perbuat bagimu".. kembali ke dasarnya, hukum tabur-tuai.
hidup ini ada yang mengatur, yang tidak kelihatan tetapi berandil besar, ada..
Dia yang mengatur adalah bijaksana, tak perlu kamu berusaha ikut mengajari, karena pada akhirnya.. yang mengetahui hal paling baik dari masa depanmu adalah.. Dia, percaya atau tidak percaya, jangan kelelahan mengatur yang bukan bagianmu.
Hidup ini banyak belajar soal taat dan sabar ; mengasihi tanpa batas ; dan memberi sebanyak mungkin.. suatu saat, apapun yang kamu hitung, akan dihitungkan bagimu, begitu selanjutnya..
jadi, jika memang mampu, berilah bantuan sebanyak mungkin.
jadilah bijak dengan segala yang dipercayakan padamu, agar tak ada benci, tak ada dendam.. hanya kasih.😉
Jika, hari ini ada dendam dalam hatimu, ada kecewa dalam jiwamu, pelan-pelan, buang..
itu adalah sampah, sebagus apapun tempatnya, jika ada sampah maka akan mengganggu keindahannya, begitupun dengan hatimu, jangan biarkan sampah-sampah itu terpelihara dan menjadi nyaman bagimu, jangan.... nanti kamu lelah, dan tak pernah puas..
obat kecewa adalah memaafkan
obat dendam adalah mengikhlaskan..
tidak mudah pasti, tetapi, yakinkah dirimu tidak mengecewakan? seberapa banyak hati yang sudah tersakiti olehmu secara sadar ataupun tidak, mama papa mu misalnya?.
Mereka boleh menyimpan dendam, mempersiapkan bumerang untuk membalas, tetapi mulailah dari dirimu, ikhlaskan, sabar menanti bagianmu dan mendoakan mereka yang berusaha menghancurkanmu.
Jangan rendahkan kualitas dirimu dengan berkata kasar, melakukan yang jahat dan perlakuan-perlakuan bodoh lainnya hanya karena sedang dilanda amarah dan benci, nasihat itu diberikan sesorang padaku, sangat bagus untuk menjalani hidup.
Kehidupan memberi terlalu banyak ruang untuk memilih apa yang ingin kita rasakan, semuanya tergantung dari sudut mana kita melihat, jika hari ini tak ada hal baik, maka besok pasti akan ada.
Selamat malam, selamat menjalani kehidupan kembali besok.
