Hari ini begitu dingin. Tentu saja karena, hari ini musim dingin dan hujan salju berguguran dari atas langit, mengguyur dan menutupi seluruh permukaan kota ini. Yang awalnya penuh warna, kini hanya warna putih bersih yang dapat tertangkap oleh indra penglihatanku.
"dingin" ucapku sambil memeluk diriku sendiri dan menggosok2 kedua lengan ku dengan tangan2 ku untuk menghangatkan tubuhku. Padahal, aku sendiri sudah memakai pakaian tebal, 4 lapis malahan. Namun, itu tak mempan, dinginnya musim ini menusuk hingga ke tulang2 ku. Bergidik hebat tubuhku saat ini.
Aku mengedarkan pandanganku ke lingkungan di sekitarku. Depan, samping kiri, kanan, bahkan blakang. Aku sudah nelakukan kegiatan yang sama ini selama hampir 10 menit.
"ah! Aku benci menunggu!" dengusku begitu kesal hingga ku melampiaskannya dengan cara menendang gundukkan salju tebal yang berada tepat didepan kakiku.
"maaf, aku sangat terlambat. Terimakasih sudah bersabar menantiku" tiba2 saja aku mendengar suara seorang pria, tepat dibelakangku. Ia memakaikan syal di leherku dari balik badanku dan otomatis membuat badanku berbalik untuk menatapnya.
Ku mendongak, memicingkan mataku dan menatap mata pria yang tingginya lebih 20cm dari aku ini dengan begitu tajam, penuh kekesalan, kekecewaan, dan aku menggigit bibir bawahku untuk menahan amarahku yang hendak menyembur kluar.
"bodoh!" bentakku pada pria jangkung dihadapanku ini, memanyunkan mulutku dan menyilangkan kedua tanganku.
"maaf.." ia menunduk menatapku, meminta maaf dengan memasang muka yang begitu memelas. Ah, siapa yang hatinya tak meleleh saat seorang pujaan hati kita meminta maaf dengan muka yang begitu.. memelas dan imut(?).
"serius, aku minta maaf. Kamu tau kan semalam hujan salju di daerah rumahku turun begitu lebat. Salju2 itu nutupin jalan ku kluar rumah, mau ga mau aku harus singkirkan itu dulu. Kalau kamu tinggal sama aku kan kita bisa bersihin bareng2" tambah oria itu dengan suara yang begitu... Menyedihkan dan seperti minta dikasihani. Namun aku masih saja memasang tampang kesalku. Bagaimana tidak? Aku sudah menantinya berdiri di pinggir taman ini selama 10 menit dan aku sangat membenci menunggu. aku paling tidak suka kalau ada org yang janjian tapi terlambat datang. Apalagi 10 menit. Ah! Sungguh aku kesal!.
Omong-omong. Memang seharusnya aku tinggal bersama dengan pria ini karena... Menikah? Bukan. Kami belum menikah, kami masi dalam tahap tunangan. Aku seharusnya tinggal bersama dengan dia karena harus bekerja di kotanya dan jika aku tinggal di kotaku, itu akan memakan waktu 2 jam perjalanan untuk ke kampus. Orang tua ku lah yang menyuruhku tinggal dengannya, toh orang tuaku sudah merestui hubungan kami. Begitu juga dengan kedua orangtuanya. Namun, entah kenapa aku masih memilih tinggal di rumahku sendiri. Mungkin ini yang disebut 'home sweet home'.
"Sayang.." panggilnya begitu lirih sambil memegang kedua tanganku dengan begitu lembut. Tangannya begitu dingin dan itu membuat ku terkejut.
"Yoshi bodoh! Aku tu kesal banget tau ga!! Aku tu sebel setiap kali aku mau marah dan aku liat wajahmu itu... Aku.. Aku ga jadi marah!! Ihh!! Pokoknya sebel!!" aku membentakknya, namun aku membentakknya sambil menunduk. ya, aku meluapkan semua emosi yang sedang campur aduk ini, antara marah, dan luluh karena sikapnya (?).
" kkkk... " gila apa. Selalu saja reaksinya terkekeh saat aku sedang kesal padanya. Kemudian, ia memeluk tubuhku dengan erat, lebih erat lagi dan semakin erat lagi. Seakan ia tidak berniatan untuk membiarkan aku bergerak dan bernafas.
"Yoshinori!!! Lepasinnn!! Sesek tauu!" omelku sambil menepuk2 punggungnya dengan telapak tanganku. Sungguh, rasanya seperti ular piton yang melilit mangsanya sebelum ia makan.
Ah iya, hampir lupa. Kekasihku ini namanya Yoshinori. Pria dengan kulit putih seputih salju dan mulus, serta tinggi yang semampai. Sementara aku, pendek. Setidaknya aku cantik dan imut dimata kekasihku ini.
