Seketika apa yang terjadi hari ini merupakan kehendak dari yang Kuasa, kehendak Alam atau bisa dibilang ini memang Suratan Takdir. Tanpa kusadari air mata sudah menetes dari kedua mataku. Karna ya, yang berada diatas panggung pelaminan itu merupakan cinta pertamaku, pujaanku, orang yang paling kuharapkan, dan orang paling terakhir yang kuinginkan untuk menyakitiku.
Ketika teman-temanku disekitar tersenyum melihat kebahagiaan teman kami yang sedang menyalami tamu undangan. Aku duduk mematung memandangi mempelai pria yang terus saja tersenyum, menyambut setiap orang yang datang. Layaknya dia membagikan kebahagiaan pada orang-orang yang disentuhnya. Tidak liatkah dia aku disini? Memandanginya sejak aku datang ke gedung ini. Tapi ini bukanlah kesalahannya untuk mengundangku ke Acara Pernikahannya. Dia hanya ingin membuat bahwa kita baik-baik saja. Bahwa kita sudah melupakan semua kejadian 5 tahun yang lalu. Melupakan setiap janji dan kata-kata yang pernah kita ucapkan. Aku iri padanya, betapa mudahnya hal itu baginya. Aku berharap aku bisa semasa bodo dirinya.
Akhirnya salah satu temanku yang duduk didepanku bertanya, menyadarkanku bahwa aku sedang berada di acara yang seharusnya penuh kebahagiaan.
"Kamu knapa by?" Tanya Orfin heran.
"Dia patah hati fin, Arya nikahnya bukan sama dia" tambah Nata menambahkan rasa sakit didadaku hanya dengan candaan recehnya.
"Mana ada, aku terlalu bahagia. Sampe aku gak sadar nangis gini." Elakku dengan tertawa kecil.
"Udahlah by, masih banyak cowo ganteng lebih baik dari Arya" Aku tidak tau apakah Orfin berusaha menghiburku atau hanya ingin mengejekku.
"Kalian ini sudahlah, bisa kah kita ndak usah membahas hal-hal begitu disini. Ini acara Pernikahan Arya loh!!" Tegas Ray terhadap kami bertiga, karna memang dia lah yang paling tua diantara kami.
Orfin dan Nata hanya tertawa melihat sikap serius Ray. Sedangkan aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Mengiyakan bahwa memang benar ini adalah Pernikahan Arya Agung Wirawan dan Maya Anggraini.
Seharusnya aku tidak perlu repot-repot datang kepernikahan ini. Ini semua salahku sendiri, aku sendiri yang ingin merobek dan membuka lagi ingatan dan perasaan ini. Kalo saja aku sanggup lari dari gedung ini tanpa dilihat oleh teman-temanku. Akan kulakukan dari 1 jam yang lalu. Aku hanya beralasan menggunakan beberapa menu masakan Sunda yang sudah disediakan oleh keluarga Arya dan Maya. Padahal satu makanan pun tak terasa dilidahku.
Tiba-tiba saja Orfin mengajukan untuk kita semua untuk mengambil foto bersama Mempelai. Yang tadinya aku hanya ingin duduk terus pulang menangis sejadinya, sekarang kurasakan wajahku dingin memucat. cepat-cepat kuseka sisa air mataku dan kuperjelas pandanganku agar tak sesembap tatapanku 5 menit yang tadi. Teman-temanku yang lain sudah bergegas naik keatas panggung pelaminan yg memang jaraknya sekitaran 20 meter dari tempat kami duduk. Gugup, Takut, Marah, Sedih dan setiap perasaan yang gak bagus masuk semua kedalam dadaku. Tiap langkah yang kuangkat untuk menaiki tangga panggung ini, membuatku teringat semua kenangan dan memori lama itu seperti baru kemarin kejadiannya. detik-detik seakan bertahun-tahun didalam otak dan dadaku.
Akhirnya tersadarlah aku setelah berhadapan dengan Orang tua Mempelai wanita ini. Yang sudah pasti terlihat sanggat bahagia sekali. Sanking bahagianya aku bisa melihat betapa bangganya mereka mendapatkan Menantu setampan dan semapan Arya Agung Wirawan. Bahwa anak mereka akan mengalami happy ending dan dapat dipercayakan kepada pasangan sehidup-matinya.
Kuucapkan pelan dan tersenyum
"Selamat bapak dan Ibu" tanpa terdengar menyakitkan.
Selanjutnya kuterima ajakan untuk bersalaman dari perempuan beruntung yang menjadi pendamping akhir Arya.
"Makasih ya sudah datang" dengan senyum tulus dan penuh kebahagiaan perempuan itu berterima kasih kepadaku. Tak dapat kubalas sambutan hangat darinya. Aku hanya dapat memberikan senyuman penuh kepalsuan dan iri. Ya senyum palsu, hanya itu keahlianku. Senyuman yang aku keluarkan ketika aku berbohong pada orang lain dan diriku sendiri.
Dan akhirnya aku akan bersentuhan dengan orang yang paling kuharapkan. Setelah 1 tahun aku tidak pernah merasakan sentuhannya dan tatapannya. Masih kurasakan pada tangan laki-laki ini rasa hangat. Rasa yang seharusnya tak boleh kurasakan lagi. Laki-laki ini sudah memiliki pendamping yang berdiri tepat disampingnya. Aku tak lagi dapat mendengar apa yg dia katakan, aku terlalu sibuk memandangi senyum dan matanya. Setiap detail dari wajahnya tak menandakan mengejek mengetahui bahwa aku datang kepernikahnnya. Malahan aku mengerti bahwa dia sangat-sangat mengharapkan aku datang. Lama kupandangi wajahnya, sampai akhirnya Nata menarikku untuk segera melepaskan tangan Arya. Barulah aku tersadar untuk kesekian kalinya bahwa aku masih berada di bumi, masih berada di gedung ini. Kulanjutkan rasa ikut bahagiaku ke Mamanya Arya.
"Selamat tante," ucapku kepada mamanya Arya pelan.
"Makasih ya Abby sudah mau datang" Perasaan senang mamanya Arya pun terasa hingga ke tulang-tulangku.
"Iya tante, sama-sama"
Pasti mamanya Arya juga bahagia punya menantu Perempuan, apalagi secantik Perempuan itu. Coba saja aku....
Orfin lalu memberikan kode kepada juru kamera untuk mengabadikan foto kami ber-empat dan bersama kedua mempelai. Aku berdiri disamping Arya yang sedang mengengam kuat tangan perempuan itu. Seakan takut akan dipisahkan oleh apapun. Padangan kami semua tertuju pada Kamera. Tak sedetikpun aku merasakan kebimbangan dan keraguan didirinya.
'Sudah mantap berarti Arya memilih Maya' Pikirku menerima kepahitan dilidahku. Kutelan air liur yang makin mengeringkan tenggorokanku. Juru kamera yang memberikan aba-aba untuk diambil foto kami pun ikut tersenyum melihat karya jepretannya. Teman-temanku merasa puas dengan hasilnya, hanya aku. Hanya aku yang berharap ini semua adalah mimpi, mimpi buruk yang seharusnya tidak aku alami. Tapi sekarang, semua ini terasa lebih nyata akibat sebuah foto yang diabadikan tadi. Foto yang tidak bisa diubah, yang akan menjadi bukti bahwa sekarang Arya Agung Wirawan telah menjadi suami perempuan lain. Dan aku berada tepat disampingnya sebagai tamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
You're Oranges In My Eyes
RomanceKetika Abby menyadari sesuatu yg dicintainya tak akan pernah menjadi miliknya. bahkan setelah sedekat itu. Masih terasa sangat jauh dikarnakan dia Seorang Laki-laki yang mencintai laki-laki lain. Tetapi setelah pedih dan perihnya kehilangan, tiba-ti...
